Pangdam : Jika Prajurit Salah, Laporkan

Gamel Cepos
Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjend TNI, Yosua Pandit Sembiring berdiri menjawab pertanyaan para wartawan dalam tatap muka di Aula Toni Rompis, Makodam XVII Cenderawasih, Selasa (13/11)

Kapolda Anggap Peran Media Sangat Penting
JAYAPURA – Pangdam XVII Cenderawasih, Jayor Jendela TNI Yosua Pandit Sembiring menegaskan bahwa dalam menjalankan tugas bila ada prajuritnya yang terbukti melakukan kesalahan maka sebagai seorang Panglima ia memastikan tak akan melakukan pembelaan.

Setiap sikap salah akan ada konsekwensinya apalagi jika yang dilakukan melukai atau menyakiti hati rakyat. Ia meminta media atau pers bisa ikut mengawal agar apa yang dilakukan oleh TNI bisa sesuai amanat rakyat.

“Saya juga tak mau jika informasinya jelek atau ada kejadian yang kurang menarik melibatkan TNI lalu dibuat baik-baik.

Dibuat sesuai fakta saja dan jangan ada dusta diantara kita,” kata Yosua di hadapan puluhan wartawan di Aula Toni Rompis, Kodam XVII Cenderawasih, Selasa (13/11). Seorang panglima menurutnya harus berjiwa kesatria, mengakui kesalahan atau perbuatan yang terjadi. Ini juga sebagai bentuk koreksi untuk tidak lagi mengulang pelanggaran yang serupa.

“Toh kalau prajurit saya yang melanggar pangkat saya tidak turun, jadi harus kesatria,” imbuhnya. “Kalau perlu wartawan juga satu pesawat kalau ada kejadian di daerah biar bisa tahu dan tak ada dusta,” tambahnya. Disini ia juga meminta pers untuk membuat tulisan yang sesuai fakta dan tidak terjebak dengan berita hoax.

Dalam kesempatan tersebut panglima menyinggung bahwa tugas jurnalis dengan TNI sejatinya banyak kemiripan. Mulai dari selalu ready saat ada kejadian genting termasuk selalu ada di lapangan memonitor perkembangan.

Sementara itu Kapolda Papua, Irjen Pol Martuani Sormin dalam acara silaturahmi Kapolda Papua dengan insan pers jayapura di Mapolda Papua, Selasa (13/11) kemarin mengaku media sangat penting. Karena dari media dirinya bisa mengetahui apa yang belum dilaporkan satuannya.

Dikatakan, dalam keterbukaan informasi publik ada hal-hal yang mungkin tidak bisa disampaikan. Namun secara umum, jurnalis juga perlu tahu apa yang terjadi saat itu.

“Meskipun tuhan maha tahu, tapi orang lain juga perlu dikasih tahu. Dan medialah yang memberitahukan hal itu, apakah itu pencitraan atau tidak tergantung masyarat melihat dari sisi mana,” terangnya.

“Jangan pernah berenti mengkritik saya, sebab ketika kalian berhenti mengkritik saya maka saya akan tampil lalim. Setiap kritikan adalah untuk kontrol kepada saya, apakah saya sudah melaksanakan koridor tupoksi saya dengan baik atau tidak,” pungkasnya. (ade/fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *