Gol A Gong : Pemuda Papua Jangan Berhenti Menulis

Gamel Cepos
SHARING – Penulis, Gol A Gong (berdiri) memberikan cerita singkat tentang perjalanan karirnya selama ini ketika berkumpul dengan komunitas Jayapura di Entrop, Jumat (9/11)

JAYAPURA – Salah satu penulis ternama Indonesia yang juga pendiri rumah dunia, Heri Hendrayana Harris atau yang beken dikenal dengan panggilan Gol A Gong meminta untuk anak muda di Papua yang memiliki bakat menulis untuk jangan berhenti menulis.

Apapun itu. Jika ingin melihat dunia dikatakan bisa lewat tulisan. Hal ini telah dibuktikan dimana pada usia 12 tahun ia harus kehilangan tangan kirinya akibat terjatuh dari pohon.

Saat itu dengan usia yang masih sangat muda, pria kelahiran Purwakarta 1963 ini hanya mendapat pesan dari orang tuanya untuk menekuni apa yang disukai. Iapun memilih tetap menulis sambil mendalami olahraga Badminton.

Hasilnya, pria yang pernah bekerja disejumlah Tv nasional ini sering menjadi pemateri dan diundang ke daerah-daerah bahkan luar negeri. Tak hanya itu dari hobinya bermain Badminton, ia sempat keluar sebagai juara dalam Para Games tahun 1982 dan 1986.

Iapun bisa menjadi juara ditingkat asia di Jepang tahun 1990. Gol A Gol juga hingga kini berhasil menelurkan 125 buku.

“Ini yang ingin saya titipkan, untuk terus menulis, jangan berhenti. Saya membuktikan bahwa dengan keseriusan maka apa yang saya inginkan bisa dicapai,” beber Gol A Gong saat melakukan tatap muka dengan Forum Komunitas Jayapura di Entrop, Jumat (9/11) kemarin.

Ia sendiri ingin kembali menulis cerita tentang Papua dimana inspirasi yang diperoleh justru lahir setelah bertemu dengan Komunitas Tuli Jayapura (KTJ). “Mungkin judulnya Dunia Tanpa Suara, bentuknya novel tapi doakan saja semoga bisa,” ucapnya.

Gol A Gong sendiri sebelumnya sudah pernah ke Papua tahun 1987. Diawali perjalanan dari Seram kemudian ke Fak-fak menggunakan kapal perintis kemudian lanjut ke Jayapura dan Wamena.

“Hanya saat itu Jayapura belum seperti sekarang. Tahun 1987 itu saya juga pernah bertanding Badminton di Gor Cenderawasih. Tujuan perjalanan ke tanah Papua sendiri untuk menulis buku berjudul Catatan si Roy.

“Saya harus mendalami sendiri agar benar-benar merasakan bagaimana ceritanya menjadi seorang Backpacking ketika itu,” bebernya. “Jadi pesan saya hanya itu, jangan berhenti menulis,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *