Oknum Pengusaha Diciduk Satgas Saber Pungli

BARANG BUKTI: Ketua Satgas Saber Pungli Papua, Kombes Pol. Mulyadi Kaharni, didampingi Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol. Edi Swasono (kiri) dan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal memperlihatkan barang bukti uang tunai Rp 500 juta dan 2 unit hanpdhone kasus dugaan penyuapan, Kamis (8/11).(FOTO : Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Tim Saber Pungli Polda Papua berhasil menggagalkan dugaan penyuapan dana sebesar Rp 500 juta dari seorang pengusaha berinisial FT (44), dimana dana tersebut diduga untuk menghentikan kasus illegal logging  yang ditangani PPSN Dinas Kehutanan Papua.

Ketua Satgas Saber Pungli Papua Kombes Pol. Mulyadi Kaharni menyebutkan, FT pemilik PT. SDT itu ditangkap di Kotaraja, Distrik Abepura, Rabu (7/11). Ia ditangkap beserta barang bukti berupa uang tunai Rp 500 juta dan dua unit handphone. Uang tersebut menurut Mulyadi diduga merupakan uang suap untuk kasus illegal loging yang terjadi di wilayah Kabupaten Jayapura.

“Dari pengakuan FT, uang tersebut diserahkan korban dengan inisial P. Uang tersebut merupakan uang tanda jadi untuk mengurus  kasus yang dialami P,” ucap Mulyadi Kaharni yang didampingi Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol Edi Swasono dalam keterangan persnya di Mapolda Papua, Kamis (8/11) kemarin.

Mulyadi menjelaskan bahwa FT menawarkan Rp 5 miliar untuk penyelesaian kasus yang dialami P. Namun setelah dilakukan negosiasi maka disepakati Rp 2,5 M untuk penyelesaian kasus tersebut dan sebagai tanda jadi P baru menyetor Rp 500 juta ke FT. Namun saat dilakukan penyetoran FT langsung diamankan Polisi.

“Kasus ini masih dalam proses pengembangan, tidak menutup kemungkinan  masih ada keterlibatan tersangka lainya dalam kasus ini.  Karena ini menyangkut institusi yang ada di Provinsi Papua,” terangnya.

Sementara itu, Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol. Edi Swasono menyebutkan modus operandi ini muncul dimana ada salah satu korban yang memiliki perusahaan sedang dilakukan penyidikan oleh PPNS Dinas Kehutanan. “Pelaku menjanjikan kepada korban bahwa sanggup menyelesaikan kasusnya di kantor Dinas Kehutanan dengan menyetor uang yang telah disepakati,” terangnya.

Korban menurut Edi selama ini percaya dengan FT, lantaran FT mengaku sebagai suruhan salah satu pimpinan OPD pada institusi terkait. Dimana kasus tersebut merupakan kasus illegal loging tanpa dokumen  yang saat ini sedang diproses penyidik oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kehutanan Provinsi Papua.

“Saat ini yang bersangkutan sedang kami lakukan proses penyidikan dan penahanan di Mapolda Papua, yang pasti kenapa terjadi OTT ? Karena ada niat menyuap untuk menyelesaikan  kasus yang sedang diproses di Dinas Kehutanan dan tidak menutup kemungkinan Kepala Dinas Kehutanan akan dipanggil,” ungkapnya.

Pasal yang dikenakan kepada FT yakni melanggar Pasal 368 KUHP dan 372 KUHP serta  UU tindak pidana korupsi terkait masalah suap pasal 5, pasal 11 dan pasal 12 UU nomor 31 tahun 1999 junto UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan  tindak pidana korupsi.“Ancaman hukuman yang disangkakan yakni pasal 5 minimal  1 tahun  maksimal 5 tahun penjara, sedang pasal 12 minimal 1 tahun maksimal seumur  hidup,”  terangnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *