Peternak Ayam Petelur Biak Numfor Minta Batasi Telur dari Luar  

Jajaran Kepala OPD yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor ikut memperlihatkan telur hasil usaha petenernak ayam petelur di Rumah Makan Sanjaya Biak, Rabu (7/11) kemarin.

 BIAK-Para peternak ayam petelur (layer) di Kabupaten Biak Numfor mengeluhkan sulitnya harga telur ayam lokal laku dipasaran karena kalah bersaing dengan telur-telur  yang dibawa dari luar daerah. Mereka meminta supaya pemerintah mengambil kebijakan yang dapat berpihak terhadap para peternak ayam petelur di Kabupaten Biak Numfor.

Hal itu seperti terungkap dalam pertemuan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dengan Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Biak Numfor, di Rumah Makan Sanjaya, Rabu (7/11) kemarin.

“Setiap hari peternak ayam petelur telah menghasilkan ribuan telur bahkan, sudah sampai puluhan ribu telur ayam lokal. Hanya saja kami sulit bersaing dengan telur yang didatangkan dari luar oleh sejumlah pengusaha, oleh karena itu kami dari Asosiasi Peternak Ayam Petelur meminta kebijakan yang berpihak terhadap kami di Biak,” ujar Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Biak Numfor Ribowo kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Diakui bahwa harga telur lokal dengan telur yang didatangkan dari luar Biak memang ada perbedaan sekitar Rp. 5.000 per rak ( 1 rak 30 butir), namun kualitasnya memang jauh berbeda karena kondisi telur lokal tentunya langsung di jual dan tidak berminggu-minggu di rak telur.

Rata-rata telur yang didatangkan dari luar Biak dijual dengan harga Rp. 50.000 – Rp 53.000 per rak, sementara untuk telur lokal dijual dengan harga Rp. 58.000 per rak. Karena perbedaan harga sekitar Rp 5.000 per rak itu membuat peternak ayam petelur lokal susah bersaing sehingga kesulitan dalam pemasaran.

Ribowo menyatakan, bahwa peternak ayam petelur menaikan harga sebesar Rp 5.000 per rak karena harga pakan di Biak cukup mahal sehingga terpaksa menjual telur agak berbeda dengan telur dari luar, namun selisih atau peberdaan harganya tidaklah terlalu besar.

“Kalau kami jual dengan harga yang sama dengan telur dari luar maka tentu saja kami akan gulung tikar, persoalannya harga pakan ayam cukup besar di Biak. Untuk itu, kami hanya minta kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Biak Numfor untuk membatasi telur dari luar, kalau perlu telur dari luar ditiadakan karena peternak ayam petelur di Kabupaten Biak Numfor sudah lumayan banyak,” tandasnya.

Usulan oleh Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Biak Numfor itu disambut baik oleh sejumlah pimpinan OPD yang hadir dalam pertemuan menyikapi harga telur ayam lokal itu. Ikut hadir dalam petermuan itu, antara lain Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Biak Numfor I Made S, Kepala Dinas Perdangangan dan Perindustrian Jubelius Urior dan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Abdul Manan.

Selain itu, juga hadir Kepala Bappeda Kabupaten Biak Numfor Lukas Rumere, Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Yunus Saflembolo dan Kepala PTSP Herry Mulyana dan sejumlah pejabat lainnya.

“Jadi intinya semua sepakat dengan apa yang kami sampaikan tentang perlunya suatu  kebijakan dengan berpihak kepada Peternak Ayam Petelur di Biak, khususnya dalam hal harga dan Dispora hadir terkait dengan kesiapan pengusaha ayam petelur lokal menjelang PON XX,” kata Ribowo menambahkan.(itb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *