Diwarnai Aksi Demo, Sidang Pembunuhan di Tahiti Ditunda

Robert Mboik/Cepos
LONGMARCH: Massa dari keluarga korban pembunuhan  di Tahiti saat melakukan longmarch di Jalan Raya Abepura-Sentani, Rabu (7/11).

JAYAPURA-Sidang kasus pembunuhan terhadap kakak beradik yang terjadi di tanah hitam (Tahiti) beberapa waktu lalu, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jayapura, Rabu (7/11).

Sidang yang masih mengagendakan pemeriksaan saksi tersebut terpaksa ditunda oleh majelis hakim setelah massa yang berasal dari keluarga korban ingin masuk ke PN Jayapura mengawal jalannya persidangan.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, puluhan warga datang ke PN Jayapura dengan membawa beberapa spanduk yang berisi tulisan terkait ketidakpuasan keluarga terhadap hasil penyidikan dan pasal yang disangkakan kepada para terdakwa.

Menurut keluarga korban, seharusnya para terdakwa didakwa Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Karena terdakwa diduga melakukan perencanaan pembunuhan itu.

“Kami hanya ingin mengawal sidang kasus pembunuhan terhadap saudara kami. Ini pembunuhan berencana maka harus dijerat dengan pasal 340,” kata Hamzah salah satu orator aksi yang juga Sekretaris Ikatan Keluarga Kerukunan Buton dalam orasinya di depan kantor PN Jayapura, kemarin.

Massa yang ingin masuk dan mengawal persidangan itu dilarang aparat Kepolisian. Polisi menilai keterlibatan massa di dalam ruang sidang sudah melanggar aturan. Setelah tidak diberikan ruang oleh pihak kepolisian, massa dari keluarga korban ini akhirnya pulang dengan berjalan kaki dan sambil melakukan longmarc di sepanjang Jalan Abepura. Mereka juga menarik pulang salah satu saksi keluarga korban yang seharusnya memberikan keterangan di pengadilan.

Kapolres Jayapura Kota,  AKBP Gustav R Urbinas  mengatakan, aksi massa untuk tujuan melakukan pengawalan terhadap proses sidang kasus tersebut sudah dilarang Polres Jayapura Kota. Dengan demikian sudah pasti, massa tidak diizinkan masuk di dalam ruang sidang.

Menurut Kapolres, kedatangan massa untuk mengawal proses persidangan hanya cenderung mengganggu jalannya persidangan. Selain itu, karena kondisi ruangan yang memiliki kapsitas tampung yang sangat terbatas, sehingga tidak perlu ada pengerahan massa.

“Tapi kalau konteks massa berarti sudah negatif. Kami sudah disampaikan kepada mereka untuk tidak lakukan aksi itu,” ungkap Kapolres Gustav Urbinas.

Sementara Kuasa Hukum Terdakwa, Marajohan Panggabean, SH, MH menjelaskan, sidang kemarin sebenarnya masuk pada tahapan mendengar keterangan saksi, melanjutkan keterangan saksi terdahulu. Sidang kembali akan dilanjutkan Senin (12/11)  dengan agenda pemeriksaan saksi. “Sidang ditunda karena saksi tidak bisa hadir pada kesempatan ini,” paparnya.(roy/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *