Panjang Lebar dengan Bripka Dolfinus Mikir Anggota Brimob Polda Papua yang Terkena Panah 

Bripka Dolfinus Mikir (FOTO : Elfira/Cepos)

Cukup Saya yang Rasakan Panah Menancap di Mata, Rekan Saya Jangan

Setelah menjalani operasi untuk mengangkat anak panah yang menancap di matanya, Bripka Dolfinus Mikir Anggota Brimob Polda Papua, sudah dapat kembali menjalankan aktivitasnya. Bagaimana Dolfinus Mikir menjalani semua itu ?

Laporan: Elfira, Jayapura

Dolfis begitu nama sapaan akrab Bripka Dolfinus Mikir yang menjabat Wadanru Batalyon A Pelopor, Brimob Polda Papua ketika dipanggil teman sejawatnya. Pria asal Kabupaten Sarmi, Distrik Bonggo yang mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Kapolri Tito Karnavian atas jasanya dalam pengamanan konflik di Kabupaten Pegunungan Bintang Selasa (2/10) lalu.

Dolfis ingat benar, sebulan yang lalu tepatnya Selasa (2/10), panah menancap di mata kanannya saat melerai pertikaian di Oksibil ibukota  Kabupaten Pegunungan Bintang antara masa pro dan kontra Bupati Pegunungan Bintang.

Saat itu, Dolfis melerai dengan masuk ke tengah-tengah kerumunan massa agar tak ada korban jiwa dari masyarakat. “Waktu saya masuk ke tengah-tengah massa yang bertikai untuk melerai mereka,  tiba-tiba mata saya kena panah. Waktu itu, saya tidak tahu siapa yang memanah saya,” ungkapnya saat ditemui Cenderawasih Pos, Selasa (6/11).

Saat mengetahui anak panah menancap di mata kanannya, lelaki 42 tahun ini tak melakukan gerakan pembalasan kepada massa yang bertikai. Ia justru memilih mencari rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Padahal saat itu, senjata laras panjang lengkap dengan pelurunya menempel pada dirinya. Andai saat itu ia membalas  atas apa yang dialaminya, maka sudah pasti akan banyak masyarakat yang menjadi korban. Dan rekannya yang ada di lapangan saat itu juga tak melakukan aksi balasan.

“Mereka itu tetaplah masyarakat, sementara saya ini adalah seorang Polisi yang harus mengayomi, melindungi dan menjadi pelayan bagi mereka. Saya selalu tanamkan itu pada diri saya,” tuturnya sembari tersenyum.

Trauma ? “Tidak!” tegasnya. Pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden Megawati Soekarno Putri saat bertugas di Ambon ini percaya, Tuhan saat itu masih menjaganya. Sebab, bagi dirinya bertugas di lapangan bukan untuk mencari lawan, melainkan mengamankan dan melindungi masyarakat.

“Saya juga tidak menaruh dendam, sebab apa yang terjadi pada saya merupakan rencana Tuhan. Saya juga sudah memaafkan pelaku yang memanah saya, semua kita serahkan kepada  yang maha kuasa, biarlah Tuhan yang membalas siapa yang melakukan itu pada saya,” ungkapnya dengan wajah yang serius.

Pasca kejadian yang dialaminya itu, Polisi Tamtama tahun 1997-1998 ini menaruh pesan pada anggota yang lain untuk mampu kendalikan emosi saat berada di lapangan. Tidak perlu brutal, sebab Polisi adalah pelindung, pengayom dan pelayan bagi masyarakat.

“Saya pribadi tanamkan moto Brimob pada diri saya, “jiwa ragaku demi kemanusiaan” kalimat  itu yang selalu saya ingat, dan menghayatinya setiap kali menjalankan tugas di lapangan,” tururnya.

Kata Dolfinus, andai saja saat itu ia melakukan pembalasan atas apa yang ia alami. Maka sudah  pasti segelintir orang akan menganggap itu sebagai pelanggaran HAM, apalagi Dolfinus sendiri merupakan anak Papua.

“Saat itu, saya pasrah saja tanpa balasan. Biarlah tuhan yang adili mereka. Siapa yang bermain api, dia akan terbakar dengan api tersebut dan siapa yang jahat maka kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan, cukup balas dengan kesabaran,” kenangnya.

Dikatakan, kasus di Pegunungan Bintang jangan lagi terjadi di daerah lain yang ada di Papua.  Sebab, Polisi kata Dolfinus merupakan manusia, hewan saja dipanah akan menjerit kesakitan apalagi manusia. “Cukup saya saja yang merasakan panah menancap di mata saya, rekan-rekan saya jangan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Iapun menaruh harap, masyarakat jangan lagi bertikai. Jika sudah ada aparat yang melerai, maka jangan melakukan perlawanan apalagi sampe memanah aparat, sebab aparat juga manusia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *