Pasar Skow Terbakar untuk Ketiga Kalinya, Apa Kata Para Pedagang 

Para pedagang tengah membersihkan puing-puing kiosnya yang terbakar dan memilih barangyang masih bisa diselematkan, Senin (29/10) kemarin.( FOTO : Noel Wenda/Cepos)

Pemadam Kebakaran Sudah Harus Ada di Kawasan Pasar

Pasar Skouw yang melayani masyarakat di perbasatan RI dan PNG terkabar lagi Minggu (28/10) lalu. Ini merupakan persitiwa kebakaran untuk ketiga kalinya, apa yang mereka harapkan?

Laporan : Noel Wenda

Pagi kemarin, para pedagang yang lapaknya terbakar nampak masih membersihakn puing-puing kios yang terbakar.   Sementara sebagian korban lainnya masih berada di tenda darurat.

Salah satu korban La ode Hadiri (42) pemilik kios “Dua Putri” menluruskan pemberitaan di media sosial bahwa kebakaran bukan diakibatkan oleh sampah, tapi bermula dari bensin  dimana salah satu pedagang sayur meletakan jerigen bensin dan tumpah disekitaran percikan api karena kebetulan ada yang masak pada saat itu.

Dan dalam sekejap kiosnya menjual sembako mengalami kerugian hingga mencapai Rp 1 miliar. Dia yang sudah menjadi korban kebakaran sebanyak tiga kali itu menegaskan bahwa musibah itu merupakan bencana yang tak bisa dihindari.

“Selama saya di sini sudah 3 kali kejadian pertama tuh 2005, 2016 dan sekarang 2018, masalahnya beda-beda yang pertama kebakaran karena genset yang kedua masalah korsleting dan kemarin karena ketiga masalah bensin,” katanya menjelaskan usai mendaftar nama kepada dinas perbatasan.

Mayoritas korban berasal dari Sulawesi serta dari Jawa dan setiap kios di bangunnya secara swadaya  dengan meminta izin kepada ondoafi yang tanahnya dikontrak dengan dibayar perbulan Rp 100.000.  “Sudah tiga kali terjadi, maka  sudah seharusnya ada mobil pemadam kebakaran yang standby di sini (pasar),” ujarnya penuh harap.

Sementara itu dari pantauan Cenderawasih Pos yang mengalami musibah kebakaran diberikan tenda dengan fasilitas seadanya serta dibantu juga oleh beberapa ondoafi dengan memberikan tempat bagi warga serta sebagian warga mengunjungi sanak keluarga untuk menginap sementara.

Kesedihan juga dialami oleh masyarakat PNG yang merupakan langganan tetap mereka untuk membeli sembako yang kemudian dijual di negaranya.

Laudya menjelaskan dirinya yang memiliki 100 lebih langganan warga PNG tersebut menerima berbagai macam ucapan penghiburan dan penguatan dari beberapa warga PNG karena kios yang terbakar dan hal ini juga dialami oleh beberapa pedagang lainnya.

“Langganan saya ada sekitar 100 lebih warga biasa datang membeli sembilan bahan pokok dan mereka jual di daerah mereka jadi ketika terjadi kebakaran mereka mengaku sedih dan memberikan penguatan kepada kami dan berharap bisa diatasi dengan baik,” katanya.

Sementara itu salah satu warga PNG yang mengaku berlangganan mengaku sedih, kios yang selama ini menjadi jujugannya untuk berbelanja sudah tak ada lagi.

“Biasa saya dan masyarakat dari sebelah kami datang beli barang terus kami bawa kembali untuk dijual di daerah kami jadi kalau sudah terbakar begini kami kasihan dan berharap pemerintah bisa perhatikan mereka,” ujarnya.

Hal serupa juga dialami oleh Fikri waktu peristiwa kebakaran dirinya sedang menangkap ikan di tempat lain, ia mengaku barangnya yang baru di drop  dengan taksiran Rp 500 juta ludes seketika.

“Rata rata barang pinjmana semua, kerugian saya sekita Rp 500 juta ada minuman puroksa, beras  2 ton, terigu 700 karton,  Simas 50 karton, Gas 35 Biji, dan lain terbakar habis,” katanya dengan nada sedih.

Dari peristiwa tersebut Ia juga menyayangkan adanya aksi pencurian pada saat terjadinya kebakaran di mana beberapa orang masuk saat warga lain berusaha memadamkan api. “Memang kurang ajar sekali yang lain sedang berusaha menyelamatkan diri orang lain malah mencuri,” Katanya.

Contoh dari peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa ketidak hati-hatian dalam menaruh Benda yang mudah terbakar menjadi salah satu faktor terjadinya kebakaran sehingga perlu diwaspadai serta pemerintah diharapkan untuk menyiapkan sarana pendukung untuk mencegah terjadinya kebakaran seperti pemadam kebakaran dan menyediakan tempat penjualan yang sesuai. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *