Korban KKB Enggan Kembali ke Mapenduma

BESUK: Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal didampingi Karumkit Bhayangkara AKBP. Dr. Heri Budiono dan Psikolog RS. Bhayangkara, Ipda Rini Dian Pratiwi memberikan keterangan pers usai membesuk 38 korban kasus Mapenduma di RS Bhayangkara, Senin (29/10).( foto : Takim/Cepos)

38 Korban KKB Jalani Pemulihan Traumatik di RS Bhayangkara

JAYAPURA-Sebanyak 38 orang yang menjadi korban insiden penyekapan dan intimidasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga, hingga Senin (29/10) masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Polda Papua.

Para korban yang terdiri dari 15 orang tenaga guru dan kesehatan sementara sisanya merupakan keluarga korban yaitu anak-anak mendapat pelayanan pemulihan traumatik dari psikiater.

Untuk melihat kondisi para korban yang dirawat di RS Bhayangkara, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Papua, Kombes Pol.  AM Kamal membesuk para korban, Senin (29/10).

Beberapa korban yang ditemui di RS Bhayangkari mengaku enggan untuk kembali ke Mapenduma. “Kami sudah tidak mau ke sana lagi. Karena kami datang untuk niat baik malah disiksa atau dintimidasi serta mengalami tindak kekerasan dan lainnya,” ungkap salah satu korban yang minta namanya tidak dikorankan.

Selama melayani masyarakat di Mapenduma kurang lebih 7 tahun, korban mengaku banyak mengalami peristiwa atau kejadian yang bersifat kekerasan yakni pemalakan atau diancam menggunakan senjata tajam. “Kami diancam untuk tidak buka mulut atas apa yang kami rasakan dan yang kami lihat di sana,” ujarnya.

Korban mengaku apa yang mereka alami sudah disampaikan ke instansi terkait serta pemerintah daerah namun tidak direspon secara serius. Malah seolah-olah ada ketakutan aparat pemerintah ke Mapenduma untuk melakukan pendekatan terhadap KKB demi kelancaran pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat. “Karena belum ada tindakan dari pemerintah daerah, kami berinisiatif tinggalkan Mapenduma dengan cara patungan untuk carter pesawat agar bisa ke Nduga,” tutupnya.

Sementara itu Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Polda Papua, AKBP. dr. Heri Budiono menyebutkan, sejumlah korban kekerasan KKB ini mendapat pelayanan pemulihan traumatik dari psikiater.

“Dari 21 keluarga ini sebagian adalah anak kecil yang didatangkan bersama keluarganya di RS Bahyangkara,” kata Heri.

Di tempat yang sama Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal menambahkan, pasca kejadian sebanyak 15 korban beserta 21 anggota keluarganya ikut meninggalkan Distrik Mapenduma menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Bahkan dua orang warga yang selama ini menyaksikan perlakuan KKB terhadap guru, ikut mengungsi bersama korban.

“Jadi ada 38 orang yang mengungsi ke Wamena termasuk 15 orang guru dan tenaga medis. Belum ada pengakuan siapa pimpinan KKB yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Namun dua tim anggota kami masih terus melakukan penegakan hukum terhadap KKB yang selama ini beroperasi di Mapenduma, sesuai instruksi Kapolda Papua,” ungkap Kamal kepada wartawan usai membesuk para korban di RS Bhayangkara.

Pihaknya akan melakukan penanganan kepada seleruh korban hingga sembuh. Namun Kamal mengatakan, belum bisa memastikan apakah para guru dan petugas medis ini kembali ke Mapenduma.

“Dibilang ke sana semua tidak mau, karena traumanya masih lekat di benak mereka dan masih butuh penyembuhan dan perawatan,” tuturnya.

Diakuinya, di antara para korban masih ada yang belum siap menceritakan secara detail peristiwa yang dialami. “Ingatannya kuat namun jika ditanyakan detail soal kejadian itu, perasaannya sangat sedih hingga tidak kuat menceritakan hingga membuat mereka menangis. Emosinya kurang stabil,” pungkasnya.

Sementara Psikolog RS Bhayangkara, Ipda Rini Dian Pratiwi mengungkapkan, pihaknya masih memberikan trauma healing kepada para korban, khususnya kepada dua orang anak salah satu korban.

Rini mengakui melakukan trauma healing khususnya bagi anak-anak untuk menghilangkan trauma mereka akibat peristiwa yang dialami dengan metode bernyanyi, berdoa dan mengambar.

“Kita beri media menggambar untuk visual mereka. Lewat media itu mereka bisa menceritakan alam sadar dan alam bawah sadar mereka mengenai apa yang sesungguhnya mereka alamai dalam peristiwa tersebut,” papar Rini.

Diakuinya salah satu anak yang satu rumah dengan korban pemerkosaan oleh KKB masih mengalami trauma yang agak berat. Karena pada saat itu sempat diancam KKB apabila melapor ke polisi dengan menyebutkan ibu dan seluruh warga kampung akan dibunuh apabila melapor ke polisi.

“Awalnya anak kecil itu sangat trauma. Hari pertama saya sentuh sedikit saja masih menangis dan marah. Kemudian dia takut melihat orang berpakaian polisi dan keramaian. Tapi setelah di sini, psikis mereka setiap hari sudah semakin membaik atau ada perubahan. Misalnya kalau saya mau tos, dia sudah senyum dan ladenin,” lanjutnya.

Di tempat terpisah, Kapolda Papua Irjen Pol Martuani  Sormin menyebutkan korban di Mapenduma masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara hingga kondisinya benar-benar pulih.

“Kita akan pulihkan kondisi para korban. Terkait mereka mau kembali atau tidaknya  ke Mapenduma itu tergantung mereka,” ucap Kapolda usai memimpin ucapara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Mapola Papua, Senin (29/10) kemarin.

Dikatakan, jika nanti para korban tersebut tidak ingin kembali lagi ke Mapenduma, pihaknya akan membicarakan hal ini dengan pemerintah daerah setempat. Mengingat korban adalah pegawai negeri sipil. (kim/fia/nat)

16 orang Guru dan Tenaga medis yang bertugas di Mapenduma, kabupaten Nduga, Papua disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. Selama dalam penyanderaan mereka diancam tindak kekerasan dan asusila.

“Benar terjadi penyanderaan oleh KKB terhadap guru dan tenaga medis di Mapenduma, Kabupaten Nduga beberapa hari lalu. Kamis (18/10) mereka baru dilepas dan sekarang sudah berada di Wamena,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustofa Kamal saat dihubungi, Minggu (21/10/2018).

Menurut Kamal, berdasarkan pengakuan salah satu korban MN, guru SD YPGRI 1 Mapenduma, bahwa dirinya bersama 15 orang guru lainnya dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma telah ditahan dan mendapat ancaman sejak tanggal 3-17 Oktober 2018 oleh kelompok KKB pimpinan Egianus Kogeya yang mengaku sebagai adik dari Kelly Kwalik. Pada Kamis, 18 Oktober 2018 mereka dilepas setelah Kepala Puskesmas Distrik Mapenduma setelah dilakukan negosiasi.

“Satu orang korban kekeras fisik dan asusila telah diterbangkan ke Jayapura dan saat ini dirawat di RS Bhayangkara Jayapura dan satu orang lagi dirawat di RSUD Wamena,” ujar Kamal.

Sekertaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga, Fredik Samuel Bapundu juga membenarkan adanya aksi pengancaman dan penyanderaan terhadap para guru dan tenaga kesehatan tersebut. Menurut Fredrik, Kelompok KKB mencurigai para guru dan tenaga kesehatan tersebut sebagai Aparat Keamanan yang menyamar dalam rangka mencari informasi pergerakan kelompok KKB di wilayah itu.

“Awalnya saya tidak percaya adanya aksi penyanderaan itu, karena informasi yang saya terima hanya ada penolakan terhadap guru dan tenaga medis yang bertugas di wilayah itu, sehingga saya mencari informasi yang sebenarnya. Setelah itu baru kami berusaha untuk melakukan negosiasi dan membawa mereka keluar dari tempat tersebut,” jelasnya.

Distrik Mapenduma berada di Kabupaten Nduga, Papua untuk mencapai wilayah Distrik Mapenduma ini bisa dicapai dengan pesawat jenis Caravan dari Wamena, kemudian jalan darat WamenaYali menggunakan mobil double gardan selama 8 jam.

Di Distrik Mapenduma ini ada 2 sekolah yaitu SD YPGRI Mapenduma dan SMPN Mapenduma dan 1 unit Puskesmas. Sementara untuk jaringan hanya bisa dilakukan dengan radio call, sedangkan jaringan komunikasi selular belum tersedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *