Diupload Seminggu, Sudah 15.780 penonton, dan 1.312 Subscribe

Kru Indonesi Art Movement (IAM) (FOTO: Gamel Cepos)

Membedah Isi Film Ko Pi di Bulan Mei dan Miki’s Hope Karya Indonesia Art Movement

Zaman sekarang masih sulit menemukan kelompok pemuda yang mau bergerak melahirkan prestasi tanpa harus menunggu jawaban proposal sana sini. “Pasukan” Indonesia Art Movement menjawab tantangan ini dengan membuat film Web Series Papua pertama.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Seorang pemuda tiba-tiba terbangun karena dingginnya air pantai yang menyentuh kakinya. Perlahan dua kelompak matanya terbuka dan mulai penatap ke arah laut. Kondisinya hanya mengenakan celana pendek, menjinjing tas noken dan memeluk tunas kelapa. Tak lama tubuhnya seperti tersentak dan iapun berlari sekuat-kuatnya menyisir jalan. Lari dan terus berlari hingga ia menemukan sebuah tempat dengan pemandangan yang berbeda.

Disatu waktu pemuda ini berada di bukit, lalu tiba – tiba pindah di pasar, pindah lagi pantai, lalu muncul disebuah club malam dan bersambung ke kali yang penuh sampah, hingga akhirnya ia berada di dalam kamar bersama istrinya dan tertegun melihat ikat kepala, noken dan kalung yang merupakan ciri khas daerahnya, Wamena. Iapun meneteskan air mata dan teringat saat berada di pangkuan sang ibu yang saat itu sedang membersihkan rambutnya di dalam sebuah honai. Pemuda ini akhirnya sadar bahwa ada banyak dinamika dan lika liku hidup yang harus dilewati untuk mencapai sebuah kesuksesan.

Namun dibalik sukses tersebut ada budaya yang tak boleh ditinggalkan, jati diri yang tak boleh dilupakan sebab dari situlah ia berasal. Itulah sepenggal cerita yang terungkap dalam film Miki’s Hope. Sebuah film karya Indonesia Art Movement yang disutradarai oleh Muhammad Ilham Murda, seorang dosen di kampus ISBI Tanah Papua.  Iam Murda tak sendiri, kedua film ini ia dibantu Maulany Said sebagai produser termasuk sejumlah   anak muda lainnya yang sejatinya tak memiliki basic film. Bisa dibilang semua kru belum pernah menggarap film seperti ini namun bermodal semangat akhirnya semua ide dikumpulkan dan dijalankan.

Ilham Murda menyampaikan bahwa Miki’s Hope ini menceritakan tentang seorang anak muda yang lahir dan tumbuh di lembah baliem, Wamena. Tempat yang jauh dari kebisingan kota dan minimnya fasilitas dan SDM pendidikan yang memadai. Hanya saja miki memiliki pandangan hidup yang jauh ke depan y ang tidak banyak dimiliki oleh anak – anak yang lain di lembah baliem. Miki menjadi salah satu orang yang peduli tentang realita kehidupan sosial dan kesenjangan – kesenjangan yang terjadi di Tanah Papua hingga ia terlahir menjadi sosok seorang pemimpin di Papua.

Ia hanya mendapat pesan dari sang ibu untuk menuntut ilmu dimanapun berada sebab dengan ilmu nantinya ia bisa memberi bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat dikampung. “Jadilah seperti pohon kelapa.  Tumbuh kokoh dimana saja  dengan semua bagian dari kelapa yang bermanfaat,” kata Ilham usai pemutaran film Miki’s Hope dan Ko Pi di Bulan Mei di RRI Polimak, Sabtu (20/10).

Iam mengaku meski secara tim film ini tak lebih sulit dibanding Ko Pi di Bulan Mei namun berbagai scene adegan memiliki tantangan yang berbeda-beda. “Misalnya Miki harus berlari di pasar ikan, Pasar Yotefa dan kami semua cemas jangan sampai pedagang terganggu dan Miki dianggap mencari-cari masalah. Kami sempat khawatir ada apa-apa tapi syukur semua aman,” cerita Iam. Film ini akhirnya selesai digarap dengan waktu efektif 8 bulan. “Kesulitannya adalah waktu para tim kebanyakan kuliah   sehingga harus menunggu waktu kosong,” katanya. Lainnya adalah  tim IAM ini belum memiliki peralatan yang cukup terutama kamera dan laptop untuk mengedit.

Bahkan kendala ini tak muncul saat pembuatan film saja melainkan sesaat ketika film akan diputar. “Semua peralatan kami standart.  Spek laptop kami tidak cukup sehingga pas premiere kemarin ketika mau rendering film harus berjam-jam karena berat. Belum lagi ada beberapa alat yang hank dan rusak karena memang bukan untuk menggarap film,” beber Iam. Tantangan tak berhenti disitu, menurut Iam meski film tersebut rampung, masih saja ada orang yang memberi kritikan terkait teknis.

Iam menyebut bahwa selama ini banyak kelompok yang hanya bisa memprotes namun tak melakukan apa-apa namun dengan tekad yang ada ia mengajak beberapa orang untuk mematahkan kebiasaan tersebut.

Disini Ia menceritakan ide ini berawal dari kebiasaan dirinya nongkrong di kedai kopi. Saat ngopi di Café Citrus PTC ia bertemu beberapa anak muda yang akhirnya menjadi kru film. Judul film ini juga diambil dari kesehariannya nongkrong di café tersebut dan ada karyawati bernama Mei. Saat sering ngumpul inilah muncul ide membuat film. Iam pun mencari ide yang mengaitkan dengan Mei dan bulan pertemuan, bulan Mei.

Arti judul film ini sendiri adalah Ko (Bahasa Papua) artinya Kami, dan Pi (bahasa Papua)  artinya Pergi. “Dan akhirnya saya mendapat ide untuk membuat judul “Ko Pi di Bulan Mei” atau Kami Pergi di Bulan Mei.  Film ini menjadi film pendek berseri (web series) pertama film di Tanah Papua yang sudah diupload pada 2 Juli 2018 di Channel YouTube, pada 3 jam awal setelah itu ada sekitar hampir 1.500 orang viewers dan 400 lebih subscribe. Dan dalam waktu seminggu, tercatat ada 15.780 penonton, 1.312 Subscribe, 1.000 lebih Like, dan 167 Komentar. “Ini salah satu yang membanggakan apalagi pemain yang terlibat 70 % adalah anak-anak Papua, dan 98 %  tidak memiliki bakat akting sama sekali. Begitu juga  dengan orang-orang dibalik layar  mulai dari editor, visual effek, foto, dan design graphis. Saya hanya memberikan pemahaman bahwa film ini adalah wadah untuk kita mengeksplorasi diri dengan talenta-talenta yang diberikan Tuhan. Media film menjadi solusi menjawab tantangan sekarang.

Perjuangan Iam dkk akhirnya mendapat respon yang justru bukan dari Papua. Untuk musik pihaknya mendapat apresiasi dari beberapa musisi hebat asal Papua, Jakarta dan Bogor untuk berkolaborasi dengan A$ap Rio, Ukam Maniczy, Ray Dahontas, Dycal Siahaan, Jeri Taufik Lizam, Black Badacki, Fung MC. “Dan spesial soundtrack musik film kami dibuatkan spesial dari musisi di luar kota Gunz ak47 (Jakarta) dengan Judul “Belum Sempat” dan KLAN Band (Bogor) dengan judul “Kopi Di Bulan Mei”.  “Ini jawaban dari semangat anak-anak muda di Jayapura dan jika ke depan peralatan kami lengkap, Insya Allah akan ada film berikutnya,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *