Pertahankan Resep Turun Temurun, Jaga Kualitas dan Rasa

Pemilik Usaha Kue Pia Bu Emi, Debora Sea saat menunjukkan hasil produksi kue pia yang pihaknya titipkan pada 20 kios dan Supermarket di Jayapura, Jumat (19/10) lalu. (FOTO : Yohana/Cepos)

Bincang-bincang dengan Pengrajin Pia Bu Emi di Jayapura

Kue Pia Bu Emi sudah diproduksi sejak tahun 1980 sampai sekarang dan penjualannya tersebar di 20 kios maupun supermarket besar di Kota Jayapura.

Laporan: Yohana- Jayapura

SEMANGAT dan ketekunan serta mempertahankan resep turun temurun menjadikan Kue Pia Bu Emi bertahan di pasaran sampai saat ini. Berawal dari ingin membantu sang suami membiayai pendidikan anak-anak memasuki perguruan tinggi, Debora Sea sejak tahun 1980-an memulai usaha membuat kue pia. Awalnya kue pia buatannya hanya ditipkan di kios-kios kecil seputaran Jayapura. Namun kemudian mulai dikenal di toko-toko dan supermarket besar di Jayapura.

Tanoa terasa ia sudah menekuni usaha ini selama 38 tahun. Debora mengakui bahwa pasaran kue pia semakin sepi, hal tersebut bukan dikarenakan banyaknya persaingan pengusaha kue pia yang sama seperti diirinya melainkan penjualan pia yang mulai berkurang.

“Pasaran pia rumahan sepertinya mulai sepi, mungkin dikarenakan banyaknya jenis-jenis kue baru yang mulai diminati masyarakat dibandingkan pia. Meski demikian semangat saya dalam membuat kue pia tidak padam, sampai saat ini saya masih memproduksi pia rumahan,” ungkap Debora kepada Cenderawasih Pos, Jumat (19/10) lalu.

Dalam memproduksi kue pia, dirinya dibantu oleh 4 orang pekerja, yang mana dalam sehari dirinya memproduksi 1.000 kue pia sekaligus yang kemudian dipasarkan ke 20 kios maupun super-supermarket besar di Kota Jayapura seperti Gelael, Saga, Mega dan sebagainya.

Dalam membuat kue pia, dirinya terlebih dahulu harus memasak kacang hijau sebagai isi .  Sekali memasak kacang hijau dirinya membutuhkan waktu seharian mulai dari perendaman kacang, perebusan hingga kacang pecah dan kemudian proses memasak kacang dan gula merah, kayu manis dan daun pandan hingga kacang benar-benar kering.

Kacang hijau yang ia masak biasanya 5-10 kg untuk isi 2.000 kue pia. Satu kali masak kacang bisa digunakan dua hari.

  ‘’Yang menjadi ciri khas dari kue pia buatan saya adalah selain rasanya yang gurih,  pianya juga lebih kering jika dibandingkan dengan pia lainnya yang lebih basah, terutama pada rasa kacang hijau yang terdapat dalam isi pia,’’jelasnya.

Diakuinya, Kue Pia buatannya memang kering sehingga lebih tahan lama dan bisa bertahan 2 minggu, namun kalau dimasukkan ke dalam kulkas bisa lebih lama lagi bisa sampai sebulan.

“Dalam membuat pia, saya hanya menggunakan bahan-bahan alami resep turun temurun dari keluarga. Ssaya juga tidak menambah pengawet atau sejenisnya untuk membuat pia tahan lama, Resepnya hanya cukup memasak isi pia sekering mungkin selain itu kulit pia juga harus empuk dan renyah agar bisa bertahan lama. Pada saat pembakaran harus sampai pia benar-benar merah jika tidak maka kualitanya juga akan menurun,” jelasnya.

Harga yang disediakannya juga beragam mulai dari R 12 ribu- Rp 14 ribu/bungkus masing-masing bungkusnya terdapat 4-5 kue pia. Sedangkan untuk kios-kios dirinya biasa menjual Rp 2.000 rupiah per buah. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *