Korban Meninggal Jadi 2.113 Orang

Relawan melakukan evakuasi korban gempa dikawasan balaroa, Palu, Sulawesi tengah, Senin (1/10/2018). Gempa berkeuatan 7,4 skala richter tersebut menghancurkan rumah warga dan warga terpaksa mengungsi ketempat yang lebih aman. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

JAKARTA-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis daftar terbaru jumlah korban terdampak gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah. Hingga H+21, sudah 2.113 orang dinyatakan meninggal, serta 1.309 orang dinyatakan hilang.

Selain itu, tercatat 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Adapun sebaran korban meninggal yakni Kota Palu 1.703 orang, Donggala  171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. ”Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kemarin (20/10).

Sutopo mengatakan,  percepatan pemulihan dampak bencana terus dintensifkan, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

Pria asal Boyolali, Jawa Tengah ini mengatakan, masa tanggap darurat bencana masih akan diberlakukan hingga 26 Oktober 2018. Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. Pemulihan 3.519 Base Transceiver Station (BTS) untuk komunikasi di Sulawesi Tengah telah mencapai 96,1 persen.

Selain itu, jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen.

Meski demikian, kata Sutopo, aliran listrik belum berfungsi. Yakni di Kabupaten Donggala seperti di  sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjungdan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi.

25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi dilakukan melalui 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat juga telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

Pembersihan puing-puing bangunan terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Sebanyak 14.604 personil gabungan dari TNI, Polri, sipil dan relawan dikerahkan untuk penanganan darurat hingga saat ini. ”Meski evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi,  tapi hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan,” kata Sutopo.

Pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian. ”Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak,” imbuh Sutopo.(tau/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *