Saatnya Pemerintah Sediakan Tempat Rehabilitasi Bagi Para Pecandu Narkotika

Sefnat B Layan, S.Sos. (FOTO : Elfira/Cepos)

Bincang-bincang dengan Kepala Bidang Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua, Sefnat B Layan

Papua salah satu Provinsi yang ada Indonesia tingkat penyalahgunaan Narkotika tertinggi, bahkan dari catatan BNNP kasus penyalahgunaan narkotika di Papua yakni 250.005.000 yang  terpencar di Kabupaten/Kota.  Lantas apa yang perlu dilakukan ?

Laporan-Elfira

Maraknya peredaran hingga pengguna Narkotika di Papua, menjadi salah satu alasan bahwa Provinsi Papua perlu tempat rehabilitasi untuk para pecandu narkoba yang jumlahnya cukup banyak.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua, Sefnat B Layan, S.Sos saat ditemui Cenderawasih Pos di ruangannya, Jumat (19/10) kemarin.

Dikatakan Sefnat, dari data secara nasional. Provinsi Papua menduduki prevalensi 1,70 persen dari 33 provinsi se Indonesia. Dimana jumlah kasus penyalahgunaan narkotika yakni 250.005.000 yang  terpencar di  Kabupaten maupun kota yang ada di papua. “Jika tempat rehabilitasi itu tidak disediakan, maka kita menghitung waktu Papua masuk dalam suatu kepunahan akibat Narkoba,” ungkap Sefnat.

Menurut Sefnat, kenapa tempat rehabilitasi itu sangat penting ? agar dapat merehabilitasi korban narkotika maka pecandu ataupun pengguna bisa sadar.  Dilain sisi, secara profesional tempat rehabilitasi harus ada sehingga penanganan terhadap pengguna bisa dipantau dari hari ke hari. Sementara rawat jalan sendiri belum cukup maksimal, karena dikhawatirkan ada potensi menggunakan kembali Narkotika.

“Untuk tahun 2018, sebanyak 80 orang yang direhabilitasi, empat menjalani rawat inap di Makassar sementara 76 lainnya dirawat jalan di BNNP maupun Puskemas yang ada di Papua,” jelasnya.

Menurut Sefnat, anak-anak pengguna ataupun mengedarkan narkotika seharusnya tidak ditahan melainkan diberikan pembinaan lalu dikembalikan kepada keluarganya masing-masing. Sebab jika mereka ditahan di Lapas, maka dikhawatirkan anak-anak tersebut justru mengetahui bagaimana mengedarkan narkotika secara aktif.

Terkait dengan tempat rehabilitasi tersebut, BNNP sendiri kata Sefnat terus mendorong Pemerintah untuk menyediakan  tempat rehabilitasi agar dapat merehabilitasi para pecandu. Tak hanya itu, BNNP juga mendorong agar setiap Kabupaten/Kota memiliki Badan Narkotika Kabupaten (BNNK) untuk dapat menangani pecandu Narkoba. “Di papua hanya ada dua daerah yang memiliki BNNK, yakni Kabupaten Mimika dan Kabupaten Jayapura,”

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Narkotika Klas IIA Jayapura Yonas Kaway, SH mengatakan seharusnya pengguna Narkotika dibawah 0,5 persen harus direhabilitasi bukan dimasukan ke tahanan.

“Lapas bukan tempat rehabilitasi, Lapas adalah seseorang yang menjalani pidana  yang diputuskan oleh hakim. Harusnya pengguna itu direhabilitasi jangan dimasukan ke dalam tahanan yang nantinya membuat mereka menjadi pengedar yang handal,” paparnya.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *