Dalam 4 Jam, Tanah Papua Diguncang 4 Gempa

Kepala BBMKG Wilayah V Jayapura, Petrus Demon Sili, SIP., M.Si., saat memperlihat titik gempa yang terjadi di Papua ketika ditemui Cenderawasih Pos di ruang monitor BBMKG Wilayah V Jayapura, Jumat (19/10). (FOTO : Takim/Cepos)

Tiga Gempa di Papua, Satu di Papua Barat

JAYAPURA-Dalam kurun waktu kurang lebih empat jam, tanah Papua mengalami guncangan gempa bumi sebanyak 4 kali, Jumat (19/10).

Data yang diperoleh Cenderawasih Pos dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura, empat gempa bumi yang mengguncang tanah Papua tersebut terjadi mulai pukul 14.55 WIT hingga 18.04  WIT.

Kepala BBMKG Wilayah V Jayapura, Petrus Demon Sili, SIP., M.Si., mengungkapkan, empat gempa yang terjadi di tanah Papua, kemarin tiga gempa terjadi di wilayah Provinsi Papua dan satu gempa terjadi di Papua Barat.

Dikatakan, gempa pertama yang terjadi di Provinsi Papua berlokasi di Kabupaten Mamberamo Raya dengan kekuatan Magnitudo 5,7 SR (Skala Richter), pada pukul 14.55 WIT.

Menurut Paulus, gempa kedua terjadi pukul 15.30 WIT dengan pusat gempa di darat, 31 Km timur laut Kabupaten Yalimo. Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 Km ini memiliki kekuatan Magnitudo 3,7 SR.

“Gempa ketiga yang terjadi di wilayah Provinsi Papua yaitu pada pukul 18.04 WIT dengan kekuatan Magnitudo 4,9 SR. Lokasi gempa berada di 2.37 LS-139.35 BT. Gempa ini juga terjadi di darat yaitu 86 Km Tenggara Kabupaten Sarmi dengan kedalaman 58 Km,” ungkap Petrus saat ditemui Cenderawasih Pos di ruangan monitor BMKG Wilayah V Jayapura, Jumat (19/10).

Selain di Provinsi Papua, satu gempa bumi lainnya menurut Petrus terjadi di Papua Barat tepatnya di lokasi 34 Km barat laut  Kabupaten Teluk Bintuni dengan kedalaman 10 Km.

“Gempa di Teluk Bintuni berada di lokasi 97 LS-133.27 BT dengan kekuatan Magnitudo 3,8 SR. Gempa ini tercatat terjadi pada pukul 15:47:36 WIT,” tambahnya.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi ini  merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas zona subduksi,” jelasnya.

Menurut Petrus, dari hasil analisis mekanisme sumber, menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Kabupaten Mamberamo Tengah ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik. Diperkirakan pembangkit gempa bumi ini adalah akibat aktifitas subduksi Utara Papua.

“Dari 4 gempa bumi yang terjadi di 3 tempat tidak menimbulkan tsunami, dan juga kerusakan seperti, longsor dan bencana alam yang lainya,” tuturnya.

Guncangan gempa bumi yang dirasakan di Kabupaten Sarmi dan Wamena, hingga kemarin malam kemarin menurut Petrus belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami. Sampai dengan pukul 14.27 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3  kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock),” tandasnya.

Terkait gempa ini, Petrus mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh dengan isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Saat disinggung tentang jumlah gempa yang terjadi di Papua tahun ini, Petrus mengatakan dari Januari hingga September 2018, wilayah Papua diguncang gempa sebanyak 521 kali. Dari jumlah tersebut 29 gempa yang guncangannya dapat dirasakan.

“Menurut data yang kami miliki, wilayah yang paling dominan terjadi gempa adalah Jayapura, Sarmi dan Sorong. Tidak semua gempa dirasakan. Tergantung dari lokasi episenter dari kedalaman pusat gempa serta jarak antara permukaan bumi dengan pusat gempa,” pungkasnya. (kim/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *