Sepakat Rp 150 Juta dan 66 Wam, Perang Suku Selesai

Denny/cepos
Perwakilan Distrik Libarek saat memberikan uang sejumlah Rp150 juta kepada pihak korban Distrik Wadangku serta 66 ekor wam (babi) secara simbolis di halaman Polres Jayawijaya, Kamis (18/10) malam.

WAMENA- Upaya penyelesaian kasus perang suku Distrik Libarek dan Yalengga dengan pihak korban dari suku di Distrik Wadangku, akhirnya menemui titik temu. Dimana Distrik Wadangku sepakat dengan penawaran dari Distrik Libarek yang membayar uang tunai Rp 150 juta dan 66 ekor Wam (babi) sebagai denda adat dari kematian satu warga Wadangku pasca bentrokan antara Distik Libarek dan Yalengga tiga minggu lalu.

   Upaya mediasi yang dilakukan aparat kepolisian Polres Jayawijaya yang dipimpin oleh Kabag Ops Polres Jayawijaya AKP Ramon Tahapari  di lapangan Polres Jayawijaya, Kamis (18/10) berlangsung hingga malam hari.  Sempat terjasi saling tarik ulur antara kedua pihak, sejak pertemuan yang dimulai sejak pukul 16.00 WIT.

   Kapolres Jayawijaya melalui Wakapolres Jayawijaya Kompol Andreas Luhut Jaya Tampubolon SIK mengakui jika dua belah pihak yang bertikai Yalengga, Libarek dan 1 pihak korban Wadangku sudah dikumpulkan bersama untuk membahas apa yang sudah menjadi kesepakatan yang telah dibahas jauh-jauh hari sebelumnya.

“Memang sempat ada tarik ulur penawaran yang dilakukan antara kedua belah pihak, namun semua dapat diterima dan sepakat dengan apa yang ditawarkan,”ungkapnya Kamis (18/10) malam saat ditemui di Polres Jayawijaya.

  Dari penyelesaian masalah ini, kata kompol Andreas Tampubolon, polisi juga sudah memfasilitasi dengan membuat surat pernyataan agar kesepakatan ini menjadi tolak ukur agar tidak terulang kembali masalah yang sama. Artinya jika ada warga yang melakukan tindakan kekerasan, maka itu adalah masalah individu dan diselesaikan dengan hukum yang berlaku.

  “Apapun yang nanti dilakukan dan siapapun yang melakukan di kemudian hari tidak ada hubungan kejadian yang melibatkan ketiga kelompok ini,” katanya.

  Wakapolres juga menyebutkan jika ada beberapa kelompok massa yang sengaja dipisahkan dan tak boleh masuk ke wilayah Polres. Sebab,  dari tiga kubu tersebut mempunyai pandangan yang berbeda dan tiga kemampuan yang berbeda  sehingga kepolisian berupaya agar tidak terjadi konflik lagi antara masyarakat.

  “Kita coba memisahkan kelompok ini, agar tidak terjadi bentrok lagi dalam penyelesaian masalah ini, karena perbedaan pendapat antara satu dan lainnya,”jelas Wakapolres.

  Pantauan Cenderawasih pos, pembayaran denda adat ini dilakukan antara Distrik Libarek dan Wadangku sebagai pihak korban, dimana wam yang disediakan sebanyak 60 ekor dan uang tunai Rp. 150 juta. Sedangkan distrik Yalengga membantu dengan menyumbang 6 ekor wam untuk diberikan kepada Distrik Wadangku. Sementara untuk distrik Libarek dan Yalengga sepakat tak membayar denda karena dua belah pihak telah jatuh korban dan hanya akan membuat satu acara perdamaian dengan bakar batu .(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *