PAPUA TERANCAM POLIO

dr. Aaron Rumainum, M.Kes., dan drg. Aloysius Giyai, M.Kes. (FOTO : Gratianus Silas/Cepos)

Pemerintah Diminta Seriusi Peningkatan Cakupan Imunisasinya

JAYAPURA- Disamping capaian Imunisasi Campak dan Rubella (MR) di Provinsi Papua yang belum kunjung mencapai 95 persen target nasional, nyatanya berdampak pula terhadap tetes Polio yang diberikan bersamaan dengan imunisasi MR ini.

“Kalau kita tidak seriusi ini, kita terancam Polio. Lebih baik mengantisipasi sebelum terjadi daripada nanti sudah terjadi lalu kita saling menyalahkan. Papua terancam Polio kalau tidak diseriusi peningkatan cakupan imunisasinya,” tegas Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes, kepada Cenderawasih Pos, Kamis (11/10) kemarin.

Seperti diketahui, Polio menjadi perhatian utama, mengingat Papua Nugini yang tengah dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio sejak beberapa waktu lalu. Akibatnya, Provinsi Papua yang berbatasan langsung mendapat kebijakan langsung dari Kementerian Kesehatan untuk mengikutsertakan tetes Polio dalam Imunisasi MR yang dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi penyakit Polio masuk ke Papua dari Papua Nugini.

“Disamping MR, situasi saat ini lebih mengarah pada Polio. Di Papua Nugini, Polio bahkan sudah masuk di Provinsi East Sepik. Seperti diketahui Provinsi East Sepik ini berbatasan dengan Provinsi West Sepik Papua Nugini. Sementara Provinsi West Sepik sendiri berbatasan langsung dengan Kota Jayapura,” terangnya.

Namun, sebagai kota yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini, cakupan Imunisasi MRP Kota Jayapura masih belum mencapai target. Sebaliknya, ini yang kemudian harus menjadi perhatian khusus Pemkot, sama halnya dengan Kabupaten Pegunungan Bintang sebagai pintu masuk.

“Di Pegubin, terdapat 5 puskesmas yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, sehingga ini yang sudah kami tutup. Sama halnya juga dengan kabupaten/kota lain yang berbatasan langsung, dalam hal ini Boven Digoel, Merauke, Kota Jayapura, dan Keerom yang sudah ditutup. Maksudnya ditutup ialah Imunisasi MR, termasuk yang utama yaitu tetes Polio telah diberikan bagi anak-anak PNG yang masuk ke Papua. Sudah ada laporannya juga,” jelasnya.

Rumainum membeberkan bahwa sejumlah Anggota DPR Papua pun sudah cukup vokal berbicara, mendorong pemerintah daerah kabupaten/kota untuk mencapai target nasional cakupan Imunisasi MR dan tetes Polio. Hal ini dinilai sangat membantu, sebab, bukan apa, kalau sampai Polio masuk ke Papua, maka pemerintah sendiri yang akan kewalahan.

“Saya justru lebih takut kalau Polio masuk Papua. Karena, sekali Polio masuk di Papua, kita akan kaget sampai bahkan beritanya ini akan lebih besar dari pada ratusan anak yang meninggal akibat KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat. Menggerikan,” tambahnya.

Demikian, kalau memang imunisasi MR itu sulit dilakukan karena banyak yang takut akan disuntik, maka setidaknya tetes Polio diberikan karena bersifat urgensi. Artinya, tidak mungkin juga masyarakat takut kala mau diberi tetes Polio, sebab, hal ini sudah dilakukan sejak lama kepada anak.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., mengonfirmasi bahwa KLB Polio di Papua Nugini itu sangat mengkhawatirkan bagi Provinsi Papua. Demikian, sejak agreement di Port Moresby, Papua Nugini pada 12 – 14 September lalu, Giyai mengatakan bahwa dirinya telah bertemu sebanyak dua kali dengan lintas sektor yang ada di Provinsi Papua untuk bersama-sama memagari daerah border.

“Jadi, ini sudah jalan semua, yang mana semua anak yang lintas batas itu kita sterilkan. Artinya, mereka diberikan Imunisasi MR dan tetes Polio. Ini kita lakukan di 5 kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, termasuk di Merauke,” kata drg. Aloysius Giyai, M.Kes.

Dari upaya yang dilakukan untuk memagari daerah perbatasan ini, Giyai menyebutkan bahwa laporan pun diberikan secara terus-menerus. Artinya, hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengantisipasi KLB Polio di Papua Nugini masuk dan menyerang Provinsi Papua. (gr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *