Mengamati Ribetnya Mengatur Lalu Lintas di Abepura yang Kini Sering Macet

Kanit Lantas Polsek Abepura, Ipda Lamasi terlihat dari kejauhan tengah mengatur kendaraan di lampu merah Abepura, Jumat (12/1). Kondisi jalan di Abepura belakangan ini sering macet. Butuh sikap pengertian dan saling menghargai sesama pengguna jalan. (FOTO : Gamel/Cepos)

Kadang Dimaki, Mulai Stres Ketika Antrean Makin Mengular

Bagi sebagian orang mungkin menganggap tugas Polisi Lalu Lintas tak sulit, karena hanya berdiri, meniup pluit dan memberi kode menggunakan kedua tangan. Pendapat ini tidak salah, namun sejatinya ada banyak hal yang lebih berat.

Laporan: Abdel Gamel Naser – Jayapura

Belakangan ini ruas jalan di wilayah hukum Polsek Abepura, khususnya dari TMP Padang Bulan hingga Lapangan Trikora Jayapura kerap terjadi penumpukan kendaraan. Tak hanya satu sisi badan jalan tetapi keduanya. Bahkan jika benar-benar crowded, terkadang perjalanan dari Waena menuju Abepura harus menghabiskan waktu satu setengah jam. Sebuah catatan waktu perjalanan yang belum pernah terjadi selama ini. Jikapun kondisi normal, waktu 90 menit ini sudah bisa digunakan untuk perjalanan dari Dok IX Jayapura Utara menuju Sentani. Padahal jarak Abepura – Padang Bulan Waena hanya sekitar 4 Km.

   Tak sedikit yang mengeluh, mempertanyakan bahwa memprotes mengapa jalur ini terus menerus macet. Saking khawatir terjebak macet, belakangan para netizen jika ingin ke Waena dari Abe lebih banyak membuang pertanyaan ke media sosial. Ada juga yang sampai harus menelepon rekan lainnya untuk memastikan kondisi kendaraan.

  Kapolsek Abepura, AKP Dionisius Helan SIK melalui Kanit Lantas Polsek Abepura, Iptu Lamasi menyampaikan bahwa penyebab kemacetan belakangan ini tak lepas dari belum terbukanya jalan Alternatif karena tengah diperbaiki.

  Jalur penyelamat tersebut belum bisa dilalui, sehingga seluruh kendaraan mau tidak mau harus menjadi satu pada jalur yang cukup sempit di Abepura. Yang kedua adalah jumlah kendaraan yang terus bertambah, sementara infrastruktur jalan belum mengalami penambahan. Ketiga, adalah sepanjang jalur Padang Bulan – Abepura terdapat beberapa perguruan tinggi mulai dari Poltekes, USTJ maupun STT Fajar Timur. Belum lagi SD/SMP Paulus dan dua lokasi perumahan yakni Organda Padang Bulan dan Perumnas IV Waena.

  “Ini ditambah adanya gang-gang jalur warga plus kendaraan yang berputar. Kami sempat menghitung jika satu kendaraan taxi berputar membutuhkan waktu 2 menit di saat padat maka ada ratusan kendaraan yang harus mengurangi kecepatan dan ini juga menimbulkan potensi macet,” jelas Lamasi di ruang kerjanya, Jumat (12/10) kemarin. Dengan jumlah ribuan kendaraan yang tiap hari melintas, pihaknya hanya memastikan bahwa personel yang ada selalu bekerja maksimal.

  Dimulai dari pukul 06.30 WIT sudah turun ke jalan hingga pukul 11.00 WIT. Nantinya pukul 16.00 WIT anggotanya yang hanya berjumlah 6 orang sudah mulai prepare turun mengatur lalu lintas (Lalin) yang dianggap menjadi waktu mulai padatnya kendaraan. Setiap harinya, anggota Lantas yang bertugas berjumlah 6 orang. Namun 2 personel harus stay di kantor untuk melayani masyarakat, sehingga hanya 4 orang yang mengatur Lalin. Jumlah ini tentunya tidak menjawab sehingga dinas perhubungan juga dirasa perlu ambil bagian.

“Nanti sorenya anggota kami mengatur dan berjaga mulai pukul 17.00 WIT hingga pukul 21.00 WIT karena ini juga menjadi waktu kerawanan macet,” katanya.

   Selama bertugas diakui sulit untuk mendapatkan cerita  suka, kebanyakan yang ditemui justru sesuatu yang tidak nyaman. Namun karena telah menjadi tugas pokok dan bekerja melayani, semua keluhan dikesampingkan. “Ini sudah jadi makanan kami sehari-hari, panas, diteriaki, dimaki, disenggol itu sudah biasa. Yang penting arus kendaraan bisa lebih lancar,” tambahnya.

  Kata-kata makian adalah yang paling sering   didengar. Kadang, cerita Lamasi, ketika lagi panas-panas mengatur, ada saja pengguna jalan baik itu sopir maupun pengendara motor yang berteriak ke anggota Lantas menganggap pihaknya tidak becus dan merekalah biang kemacetan karena berdiri di tengah jalan. Namun umpatan masyarakat ini jika diladeni tentunya hanya akan memperpanjang waktu sementara kemacetan bisa terus berlangsung.

   Namun ada kalanya ditemui hal-hal yang menyejukkan. Misalnya ada sopir yang menawarkan minuman karena kasihan. “Iya, itu yang beberapa kali kami temui. Kadang ditawari air minum, katanya kasihan pak Polisi panas-panas belum minum dan kami berterimakasih sekali,” tambahnya.

   Ini dibenarkan anggota lainnya, Aiptu Taufik yang mengaku beberapa kali diberi minuman saat bekerja. “Iya, air yang paling sering diberikan. Tapi lebih banyak makian sampai kami seperti kebal. Bahkan ada yang sengaja menyenggol  lalu berpura-pura tidak sengaja. Kami tahu itu,” sambung Taufik.

  Ia menyebut bahwa persoalan macet ini juga tak lepas dari sikap pengertian bagi pengguna jalan. Jika semuanya ingin cepat sampai, ingin paling kencang maka dipastikan kemacetan tak bisa dihindari. “Yang terjadi saat ini seperti itu, ada celah sedikit saja motor masuk padahal kiri kanannya penuh, alhasil kendaraan dari arah berlawanan harus mengurangi kecepatan agar tak bersenggolan dan akhirnya macet,” bebernya.

Belum lagi jika kendaraan seperti mobil tak mau kalah, dimana sudah sampai tiga jejer satu arah masih juga ada yang mau menyalip. “Cara-cara tak pengertian ini yang akhirnya diikuti lainnya sementara badan jalan sempit sehingga kemacetan tak bisa dihindari. Semua ingin cepat akhirnya terjebak,” kata Taufik.

  Ditambahkan bahwa ketika jalur Ale – Ale arah Waena menuju Abepura sudah terlihat mulai macet, maka biasanya pihaknya meminta mobil boleh berjejer dua untuk turun menuju Abepura, sementara dari arah berlawanan tetap dibiarkan satu kendaraan. Bahkan tiga jejer jika memang terlalu padat.

Ini terpaksa dilakukan untuk membuka “kran” kendaraan yang tertahan hingga di lampu merah SPG. “Iya, mengular sampai di lampu merah. Kalau sudah begitu biasanya kami minta jalan dipercepat dengan membiarkan tiga kendaraan turun dari atas karena yang dari arah Abepura lebih landai,” jelasnya.

  Kondisi ini juga yang beberapa hari lalu membuat Gubernur, Lukas Enembe ikut terjebak dan akhirnya menugaskan Kepala Dinas Perhubungan untuk turun mengecek. Titik macet sejatinya tak hanya di tanjakan Ale-ale, tetapi juga di pusat perbelanjaan seperti depan Saga Abepura maupun depan Bosowa, Kotaraja.

   Di depan Saga atau Grand Abe Hotel persoalannya karena mobil taxi parkir mencari penumpang sedangkan di depan Bosowa Kotaraja karena kendaraan – kendaraan mewah yang makan di beberapa rumah makan keluar dari parkiran. Lokasi ini sejatinya tidak mampu menampung banyaknya kendaraan yang parkir untuk makan, sehingga sering kali trotoar yang menjadi hak pejalan kaki diambil oleh mobil. Termasuk mobil plat merah. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *