Pemprov Targetkan Eliminasi Malaria Tahun 2028

Denny/ Cepos
Workshop pengembangan dan pengaktifan Malaria Center di regional adat Lapago (Jayawijaya, Lannya Jaya, Yalimo, Tolikara, Yahukimo dan Mamberamo Tengah) di Wamena, Kamis (11/10).

WAMENA–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menargetkan, pada Tahun 2028 mengeliminasi malaria di seluruh kabupaten/kota di Papua.

Target eliminasi ini lebih cepat dua tahun dari target nasional Tahun 2030. Sehingga program ini harus menjadi perhatian pemerintah Kabupaten / Kota yang ada di Papua. Kepala Balai Pengendalian HIV-AIDS, Tuberkolosis dan Malaria pada Dinas Kesehatan Papua, Beeri Wopari mengatakan, program eliminasi bersifat urgen karena saat ini, pemerintah pusat menargetkan  Tahun 2030 menghilangkan malaria. Itu sebabnya, keterlibatan pemerintah kabupaten/ kota sangat dibutuhkan agar bisa mencapai target tersebut.

“Gubenur Papua telah merespon pada periode pertama untuk mendorong eliminasi malaria Tahun 2028. Jadi kita akan lebih cepat 2 tahun dari eliminasi Indonesia,” jelas Wopari dalam workshop pengembangan dan pengaktifan malaria center di regional adat Lapago (Jayawijaya, Lannya Jaya, Yalimo, Tolikara, Yahukimo dan Mamberamo Tengah) di Wamena, Kamis (11/10) kemarin.

Wopari mengaku, target Pemerintah Papua ini mengeliminasi malaria lebih cepat dari program nasional itu karena Papua memiliki kontribusi besar jumlah malaria di Indonesia. Kasus malaria terbanyak datang dari Papua sehingga Indonesia tidak akan bisa eliminasi malaria kalau Papua belum eliminasi.

“Dari catatan Dinas Kesehatan Papua, ada lima kabupaten yang memiliki kasus malaria tertinggi di Papua, diantaranya Kabupaten Jayapura, Sarmi, Mimika, Keerom. Selain 5 kabupaten itu, kita juga fokus ke kabupaten-kabupaten yang berpotensi munculnya kasus malaria,”bebernya.

Wopari menegaskan, masalah malaria di Papua ini sangat urgen dilakukan karena pada 2020 itu akan dilakukan iven besar di Papua yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX sehingga dinas kesehatan bergerak cepat menurunkan kasus malaria. Artinya  hanya sisa 1 setengah tahun kedepan sehingga  harus waspada peserta PON yang akan datang.

“Ketika para peserta dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah datang ke Papua apalagi di daerah-daerah yang kasus malaria yang tinggi maka berpotensi terserang malaria. Oleh karena itu, kita bergerak cepat secara keseluruhan untuk pengendalian malaria di Papua,”tegasnya.

Salah satunya yang dilakukan adalah pengaktifan kembali Malaria Center di 5 wilayah adat di Papua yaitu Animha, Lapago, Tabi, Saireri dan Meepago. Menurutnya, pengendalian Malaria Center ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini Dinas Kesehatan Papua saja, namun semua sektor harus ambil bagian, terutama organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab masing-masing sehingga program pengendalian malaria ini dapat terwujud.

Sementara itu, Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo, mengaku, kegiatan workshop ini sangat penting sehingga para peserta yang ikut menjadi representasi dari daerah masing-masing untuk pengendalian malaria.

“Disini harus ada langkah-langkah dari Pemkab di wilayah Lapago, termasuk Jayawijaya karena dari catatan Dinkes Jayawijaya, angka kematian akibat malaria sangat tinggi,”pungkasnya.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *