Masyarakat Adat 7 Suku Gelar Doa Bersama

Sejumlah masyarakat adat suku Unaukam, Kopkaka, Bese, Yali, Momuna, Tokuni, dan Korowai yang terhimpun dalam organisasi kemasyarakatan saat menggelar doa damai di Kampung Samboga, Distrik Seradala, Jumat (5/10) lalu.(FOTO : John Matini for Cepos)

DEKAI-Masyarakat adat tujuh suku di Kabupaten Yahukimo menggelar doa bersama di Kampung Samboga, Distrik Seradala, Jumat (5/10) lalu. Doa bersama yang diadakan masyarakat adat suku Unaukam, Kopkaka, Bese, Yali, Momuna, Tokuni, dan Korowai yang terhimpun dalam organisasi kemasyarakatan ini, sehubungan dengan tambang emas rakyat yang beberapa bulan lalu menjadi heboh di seluruh pelosok tanah Papua maupun secara nasional dan telah diketahui oleh publik.

Adanya tambang rakyat yang sudah diekspos ke dunia luar mengakibatkan membludaknya jumlah penduduk yang masuk ke Kabupaten Yahukimo. Diperkirakan kurang lebih enam bulan lalu hingga saat berita ini diturunkan kurang lebih 2.000 jiwa lebih warga dari luar Kabupaten Yahukimo, datang untuk menjadi pendulang yang tersebar di beberapa titik. Para pendulang ini masuk ke Yahukimo baik melalui udara maupun melalui laut atau sungai.

Sementara itu penduduk Yahukimo sampai dengan hari ini belum melakukan aktivitas pertambangan emas, terutama suku Unaukam yang juga merupakan daerah pelayanan dari Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) dan juga daerah pelayanan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) belum sepenuhnya mengambil apa yang dititipkan oleh Tuhan kepada umat-Nya di Yahukimo. Hal ini dikarenakan, masyarakat Yahukimo sangat tahu betul dan sadar bahwa tidak seharusnya mengambil atau mencuri apa yang menjadi milik Tuhan yang dititipkan di Yahukimo. Sebab ada hal-hal yang perlu diperhatikan sehingga nantinya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan bersama.

Terkait hal itu, masyarakat adat suku Unaukam, Kopkaka, Bese, Yali, Momuna, Tokuni, dan Korowai bersama pengurus gereja GJRP dan GIDI mengadakan doa bersama.

Ketua Klasis GJRP Wilayah Yahukimo, Pdt. Biti Balyo, S.Th., dalam khotbahnya pada kegiatan doa bersama menyampaikan bahwa segala sesuatu yang ada di surga dan di bumi adalah milik Tuhan. “Termaksud kita manusia juga adalah milik Tuhan, sehingga hari ini kita berkumpul untuk melakukan doa bersama sehubungan dengan emas atau harta dunia, jangan sampai menghancurkan kita sesama orang Papua,” ujarnya.

Mengutip kitab Hagai Pasal 2 ayat 9 dan Injil Matius Pasal 2 ayat 11, Pdt. Biti Balyo mengatakan, emas dan perak adalah kepunyaan-Ku. Berdasarkan Firman Tuhan ini, Pdt. Biti Balyo menegaskan bahwa manusia hanya sebagai pengguna bukan pemilik. Untuk itu, umat manusia menurutnya harus menyadari bahwa Tuhanlah yang berwenang memberikan segala sesuatu kepada manusia untuk digunakan.

Oleh sebab itu, dirinya berharap apa yang dipercayakan Tuhan kepada masyarakat Yahukimo berupa emas ataupun perak jangan sampai menjadikan umat manusia melupakan Tuhan sebagai pemilik segala sesuatu. “Jangan sampai kita mencuri apa yang Tuhan punya,” tegasnya.

Pdt. Biti Balyo menyebutkan, apabila sudah diberkati dengan emas ataupun perak yang banyak, berkat tersebut jangan sampai membuat lupa diri dan menjadi serakah. “Jangan sampai kita lupa akan Pencipta kita, sehingga kita jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan yang akhirnya membawa kita kepada hal-hal duniawi yang menghancurkan hidup kita,” tambahnya.

Sementara itu, Timeus Aruman sebagai salah satu penanggung jawab pengurus Ikatan Suku Unaukam mengatakan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka akan membuat satu honai yang di dalamnya akan menampung aspirasi dari anak-anak negeri di Papua yaitu dari sorong sampai Samarai, menyangkut dengan emas yang Tuhan beri di tanah Papua salah satunya di Yahukimo. “Ini nanti dikontrol oleh pengurus honai tersebut,” tuturnya.

Timeus Aruman berharap eksekutif dan legislatif perlu mendukung regulasi tentang UPR (Usaha Pertambangan Rakayat) dan IPR (Izin Pertambangan Rakyat) yang dibuat di Honai. “Menyangkut dengan pendulangan emas ini perlu mendapat persetujuan dari tujuh suku yang ada, terutama suku Unaukan dan tuan dusun sebagai pemilik hak ulayat yang ada di Yahukimo, sehingga semua regulasi atau aturan yang dibuat oleh Ikatan Suku Unaukan dan tuan dusun secepatnya disahkan oleh DPRD maupun pemerintah,” ujarnya.

Dikatakan bahwa sebagai pemilik hak ulayat yaitu suku Unaukam dan tuan dusun menolak keras upaya-upaya yang mengatasnamankan paguyuban emas atau apapun yang dibuat oleh orang Papua maupun non Papua. Hal ini menurutnya diharapkan tidak menimbulkan persoalan seperti yang terjadi di Nabire, Timika, dan Sorong Selatan, yang mana mengakibatkan korban sesama orang Papua di atas tanahnya sendiri.

Oleh sebab itu, dengan adanya regulasi yang jelas dari Ikatan Suku Unaukam menurutnya akan menolong banyak orang dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Misalnya kalau selama ini emas ditukar dengan perempuan, hari ini tidak boleh lagi terjadi. Kalau dengan emas, para pendulang melakukan prostitusi, hari ini tidak boleh lagi. Nantinya para pendulang yang masuk ke Yahukimo harus memiliki izin dari pemilik hak ulayat yaitu Suku Unaukan dan tuan dusun,” tegasnya.

Sekedar diketahui, sebagai tanda kasih persudaraan dalam doa bersama tersebut dilakukan bakar batu bersama. Dalam kegiatan tersebut juga diberikan sumbangan berupa uang sebagai bentuk pelayanan kasih untuk pembangunan gereja di Kampung Samboga. Hal ini menjadi satu bentuk perhatian dari ikatan suku Unaukam dan tujuh suku Yahukimo lainnya sebagai bentuk pemberian kepada jemaat di Samboga. (jhon/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *