Ratusan Masyarakat Adat Desak Bupati Keerom

Ketua Dewan Adat Keerom, Servo Tuamis  bersama masyarakat saat menyampaikan aspirasi di hadapan Bupati Keerom, Muh. Markum dan Forkompimda di Kantor Bupati Keerom, Senin, (8/10).(FOTO :Noel/Cepos)

KEEROM-Ratusan masyarakat adat Keerom mendatangi Kantor Bupati Keerom, Senin, (8/10). Mereka mendesak Bupati Keerom, Muh. Markum untuk mempercepat proses rekomendasi DPP Partai Golkar terkait dua nama calon Wakil Bupati Keerom ke DPRD untuk ditetapkan.

Masyarakat menganggap bahwa surat rekomendasi tersebut terkesan ditahan oleh bupati. “Kami ke sini untuk meminta kepada Bupati Muh. Markum segera menindaklanjuti surat rekomendasi dari Partai Golkar terkait dua nama yang sudah diusulkan untuk segera didorong ke DPRD Keerom,” kata Philipus, salah seorang pendemo.

Ketua Dewan Adat Keerom, Servo Tuamis menjelaskan, kekosongan jabatan wakil bupati telah terjadi delapan bulan lamanya, namun sampai saat ini masih tetap dibiarkan kosong.

“Sejak Bupati Muh. Markum dilantik menjadi bupati menggantikan almarhum Celcius Watae, hingga kini Kabupaten Keerom tidak memiliki wakil bupati,” katanya.

Padahal, kata dia, seharusnya sejak Markum menjadi bupati, proses untuk mempercepat pengisian jabatan wakil bupati sudah harus berjalan, tapi hingga saat ini belum juga dilakukan.

Mewakili mahasiswa, Cristian May mengatakan, surat rekmomendasi masuk tanggal 25 September, sudah 14 hari dan secara aturan, seharus sudah didorong ke DPRD bukan di bupati lagi.

“Kami juga minta PKS jangan bikin kabur air, ini hak Partai Golkar untuk menentukan wakil, dari PKS  sudah ada Bupati Markum yang menjabat,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Muh. Markum yang didampingi sejumlah pejabat Pemkab Keerom tampak mendengarkan dengan seksama aspirasi yang disampaikan sejumlah elemen masyarakat Keerom.

“Baiklah jika itu memang permintaan masyarakat, saya akan proses tapi harus ingat bahwa ini ada aturan hukumnya, ada tiga syarat yang harus dipenuhi diantaranya soal syarat bakal calon wakil bupati dan dukungan dari dua partai pengusung yakni Golkar dan PKS,”kata Bupati Markum di hadapan massa.

Markum berjanji akan segera menyurat ke DPRD untuk memproses aspirasi yang disampaikan itu.”Berikan saya waktu hingga sore ini pukul 16.30 WIT, saya akan buat surat ke DPRD Keerom untuk dua bakal calon wakil bupati yang dimaksud, tapi ingat ada syarat lain yang harus dipenuhi,”katanya.

Pada Pilkada 2016 lalu, Celcius Watae didukung oleh Partai Golkar dan Muh. Markum didukung Partai PKS memenangkan pesta demokrasi di Kabupaten Keerom. Pada awal Januari 2018, Bupati Celcius Watae meninggal karena sakit.

Dalam proses mengisi kekosongan jabatan wakil bupati yang ditinggalkan oleh Muh. Markum yang naik menjadi Bupati Keerom, telah terjadi berbagai proses, diantaranya dari pengusulan sembilan nama bakal calon wakil bupati hingga mengerucut dua nama yang diusulkan oleh Partai Golkar yakni Pieter Gusbager dan Herman Yoku.

Kedua nama ini yang diinginkan oleh masyarakat adat agar Bupati Keerom Muh. Markum segera mendorong ke DPRD untuk segera dipilih salah satunya menjadi Wakil Bupati Keerom.

Sekadar diketahui, aksi tersebut dilakukan aski pemotongan satu ekor babi secara adat, sebagai korban dan meminta masyarakat menghamburkan darah babi di sekitaran Kantor Bupati Keerom.(oel/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *