Cyclop Rusak, Kondisi Intake Makin Parah

Kondisi daerah intake yang mulai dirambah dengan penebangan liar dimana banyak pohon besar yang tumbang dan menindis pipa-pipa utama milik PDAM yang ada di Kampwolker, Waena. Kondisi ini yang mengakibatkan debit air di Kota Jayapura terus menurun dan bila terus terbiar maka air akan semakin sulit. Foto diambil pada 7 Oktober kemarin.

JAYAPURA – Direktur PDAM Jayapura, Entis Sutisna mengakui bahwa saat ini kondisi   hutan Cyclop sudah sangat memprihatinkan. Dampak kerusakan tersebut bahkan sampai pada intake milik PDAM, intake yang menjadi tempat air berkumpul dan didistribusikan. Penyebabnya masih hal klasik. Perambahan. Ia khawatir bila ini terus berlanjut maka kondisi ketersediaan air di Jayapura akan semakin sulit dan ia tak heran jika akan lahir banyak keluhan warga.

“Kondisinya seperti itu, perambahan masih terus terjadi dan sudah masuk ke area tangkapan air. Petugas saya kemarin dari sana dan melihat kondisinya semakin parah. Banyak pohon-pohon besar yang ditebang,” kata Entis melalui ponselnya, Senin (8/10).

  Sebelumnya Entis menyebut bahwa ada fenomena yang tak biasa dimana meski turun hujan namun air tak sepenuhnya masuk ke intake. Setelah ditelusuri ternyata memang kondisi hutan yang tiap waktu mengalami kerusakan. “Kepala UPP Abepura, Pak Yan Nasadit pada 7 Oktober melakukan inspeksi pipa ke intake Kojabu dan Kampwolker dan akhirnya terungkap jika perambahan masih terjadi, bahkan ada lokasi penebangan yang masih baru. Ini salah satu penyebab menurunnya debit air,” lanjut Entis.

  Entis menambahkan bahwa di bawah potongan kayu-kayu  berukuran besar yang dibakar, ada pipa transmisi utama 20 inch yang mengalir hingga ke Pasir II dan itu jika patah, maka wilayah Jayapura Selatan dan Jayapura Utara akan mati total. “Ini yang kami khawatirkan, perambahan berpindah dan pohon besar tumbang,” ucap Entis.

   Namun Entis juga menjelaskan soal ketersediaan air, khususnya di Waena Perumnas III dan Tanah Hitam  hingga Abe Pantai dimana ada warga yang mempertanyakan mengapa air di pipa distribusi sangat minim namun air yang dijual melalui mobil tangki lancar. Dikatakan untuk Perumnas III distribusinya langsung dari Kampwolker atau tidak melalui Reservoir Taman Makam pahlawan (TMP). Hanya saja yang jadi masalah adalah jika awalnya eksisting 90 liter/detik namun saat ini turun menjadi 30 liter/detik sehingga tak ada korelasi dengan mobil tanki.

“Untuk Tanah Hitam dan Abe Pantai pasokannya dari TMP namun tidak signifikan. Khusus mobil tangka yang kami juga air baku yang dijual eceran atau 15.000/meter kubik, sangat jauh dari nilai komersil dan ini tidak mempengarhi pendistribusian meteran perumahan,” jelasnya.    

  Entis menambahkan bahwa saat ini penurunan terjadi secara umum. “Jika sebelumnya bisa 12 jam saat ini hanya 6 jam ini karena air masuk ke reservoir memang berkurang,” bebernya. Namun situasi yang dianggap bisa menolong adalah menggunakan water treatment dari Danau Sentani. “Tapi ini proyek jangka panjang, mungkin 5 tahun ke depan,” pungkasnya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *