40an Mahasiswa Papua di Palu Minta Dipulangkan

Mahasiswa asal Papua yang terkenda dapak gempa dan Tsunami di Palu-Donggala, membangun posko sendiri dan berharap, perhatian pemerintah memulangkan mereka sementara ke  Papua hingga situasi membaik.(FOTO: Mahasiswa Papua di Palu for Cepos)

JAYAPURA – Sedikitnya 40an mahasiwa asli Papua yang sementara studi di Sulawesi Tengah ( Sulteng) turut menjadi korban akibat Gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) lalu..

Ke 40 mahasiswa ini rumah kontrakan atau kos-an mereka hancur dan roboh, merekapun menyelamatkand diri bersama-sama warga kota  Palu lainnya,  mencari tempat yang aman dari gempa dan tsunami, bertahan di gunung lalu membuat posko  di daerah pengungsian.

  Salah satu koorban bencana Ekiles Kogoya saat diwawancarai media  ini mengatakan, secara keseluruhan jumlah mahasiswa ada 40 orang, beberapa sudah bergeser ke Poso, sementara sisanya masih menunggu kabar dari pemda untuk memulangkan mereka ke Papua.

  “Kita yang masih disini sekitar 30an orang  dari dua asrama, tapi ini hanya mahasiswa, sementara orang  Papua lainnya yang kerja disini kami belum tahu. Kami mahasiwa dari Papua, yang paling banyak mahasiwa Nduga, Paniai, Nabire, Sarmi, Sorong, Fak – fak, Merauke, dan Papua lainnya, “ terangnya.

  Dirinya mengaku, keseluruhan mahasiswa yang berhasil selamat, membentuk 2 posko, yakni posko satu kurang lebih 11 orang sementara posko dua ada 23 orang. dari Posko mereka ke bandara Palu, jaraknya 3 Km.

  Diceritakan, saat awal terjadi gempa dan Tsunami, Ekiles dan mahasiswa asal papua lainnya, bersama seluruh masyarakat yang berlarian ke daerah gunung. Disana, mereka bermalam dan tidur di tempat apa adanya.   Mereka mengalami kesulitan makan selama beberapa hari sehingga harus menahan lapar dan haus.

  “Sejak awal kejadian tangal (1/10) kami keluar lari kearah gunung dan  kami selama beberapa hari tidak makan, minum dan mandi sampe kita membuat posko di hutan, bersama masyarakat Palu lainya, dan kemarin (5/10) baru kami mendapat bantuan, dapat air mineral, cemilan, mie satu karton dan snack, juga mendapat beras tapi tidak bisa masak karena tidak ada air dan alat masak,” pungkasnya.

  Ia menjelaskan untuk lokasi asrama jauh, mereka tidak bisa balik ke asrama, karena bangunannya sudah roboh.

“Saat lari keluar hanya satu orang yang terluka, Atas nama Kalen Gwijangge, korban yang meningal ada dua orang untuk orang Papua, tapi itu bukan mahasiswa. Info yang kami dengar,  mereka adalah anggota, karena pemukiman aparat berada dipingir pantai,” jelasnya.

  Dikatakan, meskipun mereka semua selamat, tetapi barnag-barang mereka hancur dan tertimbun bangunan yang roboh, sehingga tidak berhasil diselamatkan.

 Untuk itu dirinya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah provinsi dan kabupaten kota untuk memulangkan mereka ke Papua.

“Kami minta bantuan kepada Pemda Papua dan kabupaten, kami harus keluar dari tempat ini, karena lampu mati dan fasilitas kampus semua hancur, tempat tinggal kami juga rusak parah.  Kami mohon sekali kepada Pemda agar kami keluar dari kota Palu,” harapnya.

Untuk kuliah selanjutnya, Elkiles Kogoya mengatakan, ada informasi dari Kementrian terkait bahwa mahasiswa akan diterima di mana saja tanpa tes. “ Namun Bupati dan rektor berharap kami tidak pinda karena semester tahun ini kita akan naikan, dan berikutnya kita akan lanjut seperti biasanya,  sehingga yang kami inginkan saat ini pulang ke Papua dulu sampai keadaan pulih barulah kami balik melanjutkan kuliah,” paparnya..

Ia menambahkan sempat dirinya dan teman-teman lainnya berkomunikasi dengan orang tua setelah listrik dan jaringan aktif, maka dirinya berharap agar keluarga terus mendukung dalam doa.

  Korban gempa lainnya yang sempat diwawancarai Cenderawasih Pos, bernama Yusak Tebay.  Mahasiswa semester 11 Universtas Muhammadiah Palu, Fakultas Tekhik Sipuil ini mengaku sudah seminggu mereka berada di pengungsian. “ kami kesulitan makan, bantuan baru tiba 2 hari lalu, kami makan sadanya saja,” terangnya.

Dirinya mengaku, ada beberapa teman-temannya yang terkenda dampak gempa, mengalami luka-luka, dan sakit.

Dia sendiri, berhasil lolos dari gempa dengan susah payah. Saat terjadi gempa, dirinya berada di rumah kotrakan. “ Saya dan adik saya, kaget, ketika gempa besar. Kami lari menyelamatkan diri dengan tidak membawa apa-apa. Laptop dan barang-barang kami hancur. Kami lari ke gunung, karena takut tsunami. Di gunung, bersama warga Palu lainnya, kami nginap. Tidur  seadanya saja,” terangnya.

Setelah situasi mereda, ia mencari teman-temanhya, lalu mereka mendirikan posko, khusus anak-anak mahasiswa asal Papua. “ Logistik kami usahakan sendiri, baku bantu, beli yang bisa dibeli, hanya untuk bertahan hidup,” jelasnya.

Saat ini mereka telah berada di Posko Bandara  Palu. Mereka berharap pemerintah provinsi dan daerah memperhatikan mereka dan memulangkan ke Papua.

Ia mengaku, kuliahnya hampir selesai. Saat ini sedang menyusun skripsi,tetapi situasi sudah tidak memungkinkan lagi. “ Kita hanya mau pulang dulu ke  Papua, tahun depan baru balik lanjut lagi menyelesaikan studi di  Palu,” kata Yusak.

  Sampai berita ini ditulis, belum berhasil mendapat konfirmasi dari pemerintah provinsi maupun pemda kabupaten terkait langkah-langkah yang diambil terhadap mahasiswa Papua di Sulawesi tengah yang terkena dampak gempa dan tsunami. (oel/luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *