Pembentukan 173 BUMK Harus Didukung Peraturan Bupati

Denny/ Cepos
Rapat Koordinasi Bupati Jayawijaya dan OPD dalam pembentukan 173 BUMK di Jayawijaya di ruang Rapat Bappeda Jayawijaya, Senin, (1/10).

WAMENA–173 Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) di Jayawijaya akan menjadi pilot projek pengembangan kampung dengan potensi yang dimiliki. Pemkab Jayawijaya akan membantu melalui regulasi berupa peraturan bupati, karena BUMK ini adalah badan usaha milik kampung yang memiliki legalitas formal.

Direktur Rumah Pemberdayaan Indonesia, Ahmad mengakui, setelah BUMKA memiliki akta notaris dan izin dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) harus dibackup lagi peraturan bupati sehingga bisa menjadikan 173 BUMK ini semakin kuat untuk melakukan ekspor beberapa produk keluar negeri.

“Saat ini pembuatan 3 pabrik sementara mulai dilakukan dan rencananya di tahun ini akan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo dan langsung dioperasikan,”ungkapnya usai memberikan presentase produksi BUMK di ruang rapat Bappeda Jayawijaya Senin (1/10) kemarin.

Untuk pembangunan pabrik ini, kata Ahmad, seperti di Distrik Wolo ada 4 unit mesin untuk pengolahan kopi berstandar internasional langsung dalam kemasan, di mana seperti di Manokwari, Papua Barat mereka memproduksi kopi Wamena hanya saja memiliki brand lain, dengan adanya pengolahan kopi di Wamena maka secara tidak langsung pengolahan kopi Wamena ditarik kembali dengan memiliki brand sendiri .

“Begitu juga madu, yang juga akan dikemas di sini dan nanti dipasarkan PT Madu TJ an nanti ada kerja sama antara PT Madu TJ, Rumah Pemberdayaan Indonesia dan BUMK Holima Jayawijaya,”jelasnya.

Ia memastikan ada juga pengolahan sampah pelastik yang akan dibuat di Kampung Lantipo yang sudah mendatangkan 4 unit mesin pengolahan, tujuannya supaya kabupaten di seputaran pegunungan Papua ini menyuplai bahan baku dan juga terbebas dari sampah, dimana dalam pabrik ini langsung diproduksi sampai tempat pembuatan piring, gelas , ember dan lainnya yang terbuat dari plastik.

“Kampung Elalukama juga memesan mesin pengolahan makanan ternak seperti ternak babi yang terkenal di Wamena dimana tujuannya semua Wam (babi) di Jayawijaya disuplai makanannya dari pabrik ini dan sebagian dapat dijadikan pupuk kompos untuk dipasarkan lagi,”bebernya.

Progresnya nanti, menurut dia, akan menghimbau kepada distrik –distrik untuk membangun kandang ternak babi, karena selama ini masyarakat membangun kandang individu pada setiap rumah yang tidak bisa menghasilkan kotoran, sehingga nanti sinergi antara pabrik dengan peternak babi.

“Peternak babi memproduksi kotorannya, sedangkan pabrik mengelola kotoran menjadi kompos, hasilnya itu dijual lagi ke peternak babi sebagai makanan babi sehingga tidak ada yang tersisa dan anggarannya tidak keluar dari sana,”jelasnya.

Di tempat yang sama Bupati Jayawijaya John Wempi Wetipo menilai, program ini adalah milik Rumah Pemberdayaan Indonesia untuk menolong warga dengan mengelola kampung, di mana Direktur Rumah Pemberdayaan Indonesia sudah berada di Wamena selama 3 bulan untuk melihat potensi yang ada di kampung-kampung  dan ternyata Wamena memiliki potensi yang besar dan bisa dikembangkan.

“Ini feed back dari studi banding ke Jawa Tengah kemarin, sekarang kita butuh penyiapan SDM yang mamadai untuk mengelola potensi yang besar ini,”bebernya.

Ia menambahkan, kalau di Gunung Kidul Bisa menghasilkan Rp 24 miliar pertahun  dengan potensi yang pas-pasan, maka di Jayawijaya tidak muluk –muluk kalau bisa menghasilkan Rp 5 miliar untuk satu kampung dan dikalikan 328 kampung  maka uang akan beredar di kampung itu bisa sampai triliunan.

“Saya minta kepada bupati terpilih untuk tahun depan tidak boleh ada proposal yang masuk minta bantuan pada pemerintah karena kampung harus fokus kelola potensi yang ada, saat ini sedang dirintis,”tambah Bupati Jayawijaya.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *