Penyegelan Rumah Ibadah Tuai Kecaman

Gamel Cepos
Kelompok pemuda dan mahasiswa yang tergabungd alam kelompok Cipayung Kota Jayapura menggelar aksi doa bersama dan menyalakan lilin sebagai bentuk kekecewaaan terhadap penyegelan tiga gereja di Jambi belum lama ini. Kegiatan yang dilakukan di Lingkaran Abepura, Sabtu (29/9) kemarin ini juga ikut mendoakan musibah di Donggala, Palu.

JAYAPURA — Penyegelan tiga gereja yakni Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Methodist Indonesia (GMI) dan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Jambi memantik protes massive masyarakat tak terkecuali di Kota Jayapura.

Sabtu malam (29/9) kemarin kelompok Cipayung Kota Jayapura memilih turun ke jalan dengan menyalakan lilin sebagai bentuk simpati dan protes atas sikap pemerintah tersebut.
Dikoordinir Herbert Amohoso, kelompok pemuda yang berjumlah sekitar 50 orang ini menduduki lampu merah Lingkaran Abepura, membentuk lingkaran dan berorasi.

Tiga isu yang disampaikan adalah pertama terkait penyegelan tiga gereja di Jambi dengan alasan tak memiliki ijin, kedua ikut berbelasungkawa atas musibah yang terjadi di Donggala, Palu dan ketika mengecam bentuk represif oknum aparat kepolisian terhadap mahasiswa di Bengkulu dan di kampus USTJ Jayapura.

“Kami dari kelompok Cipayung Jayapura berbelasungkawa atas matinya toleransi di Jambi. Menjadi aneh ketika tiba-tiba pemerintah berdalih soal ijin.

Kami minta pemerintah Jambi bisa menjadi jalan keluar dari kodisi 3 gereja tersebut sebab jika berbicara ijin sejatinya ada banyak sekali gedung dengan berbagai peruntukkan yang tak mengantongi ijin,” kata Ketua GMKI Kota Jayapura, Rafael Victor didampingi Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Jayapura, Ricky Bofra, Harianto Rumagia selaku Kabid Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda, HMI Jayapura dan Adrian Kasella sebagai Presidium Pengembangan Organisasi, PMKI Kota Jayapura malam kemarin.

Kita katakan Pancasila rumah bersama namun mengapa harus disegel. Ini membuktikan bahwa belum ada jaminan untuk bebas beribadah. “Mengapa harus disegel jika masih ada upaya lain, kami piker ini mencederai nilai Pancasila juga,” katanya.

Selain itu kapolri perlu mencopot Kapolda Bengkulu sebab kami anggap tindakan terhadap mahasiswa itu mencederai nilai demokrasi,” jelasnya.

Ditambahkan Adrian Kasella dan Ricky Bofra bahwa siapapun presiden yang terpilih untuk tidak memberi ruang terhadap sikap intoleransi sebab ini dianggap masih sering terjadi.

“Indonesia memiliki kekuatan dalam kebhinekaan dan ini jangan dirusak dengan sikap seperti penyegelan ini. Kemenang juga perlu turun tangan melihat masalah ini,” pungkas Adrian.

Rencananya aksi ini akan berlanjut untuk dengan melibatkan kelompok mahasiswa lainnya “Ini aksi spontanitas dan kami sepakat untuk mengecam semua bentuk tindakan represif dan aksi lainnya segera kami lakukan,” kata Herbert Amohoso. Aksi ini ditutup dengan doa bersama untuk Donggala, Palu. (ade/kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *