Menengok  Sejumlah Bangunan yang Terlantar di Kompleks Pasar Youtefa

Kondisi fisik bagunan di Pasar Youtefa yang dibiarkan kosong. (FOTO: Takim/Cepos)

Mubazir, Sejak Dibangun Sampai Sekarang Tidak Ditempati

Perencanaan dan kajian Amdal  yang tepat, tentu akan memberikan out put  yang maksimal dari kegiatan pembangunan . Bila  tidak, tentunya  dana besar yang digunakan untuk  membangun menjadi tidak jelas manfaat yang dirasakan. Hal ini seperti yang terlihat di kompleks Pasar Youtefa.

Laporan: Mustakim Ali_Jayapura

Keberadaan Pasar Youtefa memang dibangun dengan tujuan sebagai pasar induk yang menampung para pedagang dan juga penyuplai berbagai komoditas pertanian maupun bahan dagangan lainnya di Kota Jayapura dan sekitarnya.  Hanya saja, keberadaan pasar ini memang tidak pernah lepas dari berbagai persoalan.

  Mulai dari masalah banjir, masalah keamanan hingga persoalan tempat  lokasi berjualan bagi para pedagang. Ironisnya,  banyak pedagang berebut mendapatkan lokasi berjualan yang strategis, sementara di satu sisi, banyak aset ruko/kios yang dibangun di komplek Pasar Youtefa justru terbiar, menjadi kumuh dan rusak perlahan.

  Dari pantauan Cenderawsih Pos,   Senin (24/9) yang terjadi di Pasar Youtefa sangat memperihatinkan. Dimana  sejumlah bangunan kios/ruko  yang tertutup rapat, dan tidak pernah digunakan.

   Selain deretan bangunan ruko/kios yang kosong, ada juga stand atau lapak di pasar ikan yang masih tidak bertuan juga dan membiarkan orang yang tidak bertangung jawab memanfaatnya untuk menyimpan barang yang sebenarnya bukan manfaat dari lapak tersebut.

   Tentu ini sebuah pemandangan yang bisa dikatakan tak layak dengan pembangunan yang begitu butuh dana yang banyak,  namun   dibiarkan kosong lapuk tanpa akfitias jual beli layaknya pasar.

   Dengan tidak dimanfaatkannya bangunan pasar tersebut, hingga terkesan mubazir. Menghabiskan dana  tanpa ada pemanfaatan yang jelas, dan perlahan dibiarkan rusak dengan sendirinya.

   Muliandri, salah satu pedagang Pasar Youtefa mengakui bahwa bangunan yang tak bertuan tersebut sudah kosong sejak dibangun  oleh pemerintah. Dimana dari beberapa bangunan yang dibangun tersebut,  hanya bagian depan atau pinggir jalan utama saja yang ditempati. Selebihnya atau dibagian belakang dibiarkan kosong.

  “Ini kosong sudah sangat lama, bahkan sejak dibangun beberapa tahun lalu,”kata Muliandri yang mengaku tidak tahu kenapa bangunan itu dibiarkan terus terlantar.

   Hal ini tentu ironis, karena beberapa waktu lalu, sejumlah pedagang yang ditertibkan karena berjualan di atas drainase dan tempat yagn dilarang, justru berebut tempat jualan di areal parkir, yang ukurannya relative sempit.

   Sementara itu Kepala Pasar Youtefa, Jefri Dawer, St mengakui bahwa dari laporan yang diterimannya, banguann yang kosong ini  sudah pernah dihuni oleh pedagang, namun karena sering terjadi banjir makanya para pedagang lebih memilih tempat yang lain sehingga bangunan tersebut dibiarkan kosong hingga kini.

  “Dulu memang ada pedagangnya,  tapi karena sering banjir makanya mereka tidak mau berjualan di situ lagi,”ujar Dawir ke Cenderawasih Pos melaui seluler, pada Selasa (25/9).

  Pihaknya mengakui akan memindahkan pasar pagi di tempat yang kosong tersebut guna mengantisipasi padatnya jalur depan pasar youtefa dan juga untuk penataan pasar dari kepadatan para pedagang.

  “Tentu kami akan memanfatakanya kembali tapi masih butuh proses dan diharapkan bangunan-bangunan yang kosong tersebut bisa ditempati dan difungsikan kembali,”ungkapnya.

   Pihaknya juga akan melakukan pendataan terhadap ruko atau bangunan yang dulunya dihuni pedagang tersebut,  untuk memastikan berapa pedagaang yang pernah menetap dan tentu akan di data ulang sebelum dilakukan perbaikan untuk difungsikan kembali.

   Diharapkan kepada pemerintah  atau instansi yang terkait untuk meninjau kembali kondisi dari Pasar Youtefa untuk melihat bangunan dan unsur-unsur yang dibagun untuk para pedagang namun tidak dimanfaatkan dengan baik, bahkan ada yang dibiarkan kosong dan rusak sendiri.(*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *