Tambah Alat Jangkauan Komunikasi Pilot

Petugas Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Udara Kelas Satu Wamena saat berkomunikasi dengan pesawat yang sedang terbang dan akan lepas landas, Sabtu, (22/9). 

WAMENA–Perusahan Umum  Airnav Indonesia Cabang Wamena atau Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan menambah alat deteksi jangkauan jarak komunikasi  antar pilot dengan unit pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Udara Kelas Satu Wamena.

General Manager Airnav, Kantor Cabang Wamena, Antariksa Wisnu Widodo mengatakan, alat tersebut berfungsi untuk mempermudah komunikasi antara pilot dan tower. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan perbaikan perluasan alat komunikasi yang dipasang di kawasan Danau Habema.

“Saat ini pesawat saat take off atau terbang dari Sentani sekitar 10 hingga 15 menit sudah bisa langsung kontak dengan petugas  Air Traffic Controller  (ATC) di Wamena,” ungkapnya di halaman Kantor Bandara Wamena, Sabtu (22/9).

Antariksa memastikan, perluasan alat untuk jarak komunikasi ini juga agar pesawat lebih nyaman dan bisa membantu kelancaran arus lalu lintas, membantu pilot dalam komunikasi mengendalikan dalam keadaan darurat seperti cuaca buruk sehingga cepat mendapatkan informasi itu dan bisa mengambil satu keputusan.

“Jarak komunikasi ini untuk mempermudah pelintasan pesawat di Pegunungan Tengah Papua yang cuacanya tidak dapat diprediksi, sehingga ini bisa mempermudah penerbangan mengetahui kondisi cuaca,”bebernya.

Ia menambahkan, setiap pesawat perintis atau berbadan kecil yang beroperasi dapat dilengkapi dengan suatu alat pembaca radar, alat yang dimaksud ialah decoder dengan sistem mode S untuk bisa dibaca di radar Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B).

“ADS-B merupakan sebuah teknologi yang secara otomatis dapat mengirimkan dan atau menerima data dari pesawat udara, kendaraan Aerodrome dan objek lainnya, yang dapat mengidentifikasi posisi dan data lainya sebagaimana yang diperlukan dalam mode pancaran melalui pengiriman data tersebut,” jelasnya.

Ia berharap, setiap  maskapai yang beroperasi di wilayah Pegunungan Tengah Papua bisa bekerjasama untuk bisa memasang decoder atau alat bantu navigasi tersebut, karena tujuannya untuk keselamatan bersama. Alat ini jika di pesawat berbedan besar sudah dilengkapi dan bisa langsung terbaca oleh radar di Bandara Sentani, tetapi pesawat kecil saat ini masih belum.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *