Upaya Menghindari Dampak Negatif Pemakaian Gadget di Kalangan Anak-anak

Salah satu anak yang sedang bermain gadget handphone diharapkan perlu ada pengawasan orang tua. (FOTO: Noel/Cepos)

Hindari Gadget, Ortu Ciptakan Kegiatan Fisik Bersama Anak

Dalam perkembangan tehnologi informasi yang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini, ternyata mampu mengubah kebiasaan orang. Masyarakat, baik orang tua hingga anak-anak, saat ini banyak disibukkan dengan smart phone atau gadget dalam genggaman tangannya. Lantas apa kata Psikolog Yosefina M Watofa , M Psi terkait fenomena ini?

Laporan : Noel IU Wenda_Jayapura

Sudah bukan hal yang asing, dan sudah menjadi pemandangan umum, kita melihat orang duduk berdekatan namun terasa jauh. Yah, karena konsentrasi atau perhatian mereka terfokus pada smarphone atau  gadget yang ada dalam genggamannya. Tidak hanya orang dewasa, tapi juga remaja hingga anak-anak.

  Bila fenomena ini tidak disikapi bijak para orang tua, dikhawatirkan bisa mengganggu keseimbangan atau perkembangan  mental dan fisik dari anak-anak.  Psikolog Yosefina M Watofa , M Psi berpendapat bahwa   penggunaan gadget pada anak sebaiknya dihindari,.

  Sebab, dengan  membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan. Apalagi diberi hak kepemilikan saat usia mereka masih di bawah 12 tahun, dapat  menghambat tumbuh kembang otak, mental, bahkan fisiknya.

   Apalagi tidak bisa dipungkiri bahwa Hp jadi trend bagi anak-anak usia sekarang tanpa pengawasan orang tua. Sayangnya orang tua mereka izinkan anak memakai  Gadget, karena mungkin mereka berpikir ada konten untuk anak – anak, Tetapi anak – anak mereka mudah meniru dan alat ini  mereka bisa gunakan menjelajahi konten lain yang membahayakan,

   “Yang ditakutkan adalah orang tua tidak mengontrol dan konten ini muncul hal yang tidak inginkan, apa lagi anak- anak yang polos mudah terpapar  dengan hal-hal negative dari konten itu,” ujarnya Yosefina kepada Cenderawasih Pos    melalui sambungan telepon seluernya, Jumat, (21/9)

  Ia juga meminta agar orang tua jangan sering menuruti kemauan anak sekalipun dalam keadaan rewel untuk pembelian hp dan lainya. Sebab,  hal tersebut juga merupakan siasat anak untuk memaksa orang tua memenuhi kebutuhanya yang membahayakan kesehatanya.

“Gadget ini salah satu cara untuk anak tidak rewel, padahal konten dalam HP itu apa? Kita tidak tau, apa yang dilakukan anak, maka orang tua mau berikan kepada anak harus dikontrol ekstra,” paparnya.

  Menurutnya, anak zaman ini mereka cenderung berperilaku hedonis. Ketika anak-anak ini melihat teman mereka, maka bisa muncul  rasa tersaingi dan ingin memiliki apa yang temannya  juga miliki, terutama terkait gadget ini.  Jika orang tua tidak  membelikan HP, maka mereka akan rewel.

  “Bahkan dia bisa tidak peduli dengan keadaan di sekitar dan menjadi tertutup dengan orang, jika terus mengunakan gadget” katanya.

   Untuk itu, ia meminta kepada seluruh orang tua yang mempunyai masa kecil untuk merenungkan kembali. Dimana saat  masa kecil orang tua dulunya bisa tetap bermain tanpa menggunakan HP, sehingga dapat menciptakan hal-hal kreatif dan edukatif. Hal ini pula yagn seharusnya diajarkan  kepada anak-anak tanpa harus mengenalkan Gadget.

  “Sebenarnya  mereka orang tua sudah mengalami masa kecil tanpa HP, secara edukatif dan aktif, ini kenapa tidak diaplikasikan bagi anaknya sendiri?” ujarnya.

  Menurutnya,  orang tua  harus mempersiapkan tumbuh kembang anak,  untuk itu anak-anak harus terus diajak untuk bertindak dengan fisik.

  “Orang tua harus punya waktu tidak memberikan pilihan yang baik, bagaimana mereka siapkan permainan yang bisa beredukasi dan mengetahui tumbuh kembang dan minat, bakat harus diasah dengan baik juga, orang tua harus bisa bangun kesadaran untuk membuat anaknya aktif dengan kegiatan aktif,” paparnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *