Melihat Usaha Pembuatan Perahu Nelayan di Hamadi

Lira saat melakukan finishing dengan  pengecatan  pada   salah satu perahu yang sedang dikerjakannya, Sabtu (15/9). (FOTO : Elfira/Cepos)

9 Tahun, 105 Perahu  Telah Dibuat

Kota Jayapura yang berada di daerah pesisir ini, memang banyak warganya  yang berprofesi nelayan. Meski banyak menggunakan perahu, namun perajin  yang bisa membuat perahu untuk nelayan ini tidak banyak. Salah satunya yang saat ini menekuni pembuatan perahu nelayana adalah Lira yang tinggal di Hamadi. Lantas seperti apa usaha pembuatan perahunya ini?

Laporan: Elfira_Jayapura

Sabtu (15/9) sore itu, masih terasa panas, meski matahari sudah mulai condong ke arah barat. Suara ombak terdengar menghempas di tiang penyangah rumah  di sekitar pemukiman warga Hamadi Pontong RT 003/RW 005. Suaranya memang tidak terlalu keras, karena memang tiupan angina kala itu tidak begitu kencang.

   Puluhan perahu nelayan  juga berjajar rapi di pantai yang diikat pada tepi jeramba kayu di pemukiman warga disitu. Seorang pria terlihat tengah sibuk mengecat bagian dinding perahunya. Pria itu bernama Lira yang lebih banyak  menghabiskan waktu sehari-harinya  untuk membuat kapal.

    Saat ditemui Cenderawasih Pos, Sabtu (15/9) sore,  pria 51 tahun itu sedang sibuk menyelesaikan pesanan pembuatan perahu dari salah satu nelayan. Sesekali ia juga mengecek perahu-perahu  hasil buatannya yang sudah jadi terparkir di bibir pantai sore itu.

   Suara mesin, ketukan palu bercampur debur ombak mengiringi aktifitas Lira di pantai itu. Dengan telaten, dia memasang setiap baut, juga melakukan pengecatan terhadap perahu yang dikerjakan saat itu. Raut wajahnya sesekali mengurai senyum ketika kamera mengarah kepadanya.   Lira bukanlah satu-satunya pembuat kapal nelayan di Hamadi Pontong. Kendati demikian namanya begitu tenar di kalangan para nelayan. Bahkan perahu buatannya dipesan oleh nelayan yang ada di  Sentani, Sarmi, Sekitar Jayapura hingga ke negara tetangga PNG.    Ayah 3 anak itu belajar membuat perahu sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dari ayahnya yang saat ini telah almarhum, namun ia mulai mandiri dan bisa membuat perahu sendiri di tahun 1987 dan itu di Makassar.

   “Saya dulu tinggal di Dusun Sawakung, Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Lalu memilih pindah ke Jayapura  pada tahun 2009 lantaran ada satu dan lain hal yang terjadi di kampung halaman saya,” ungkapnya dengan nada yang hening.

  Sejak itulah pria yang tenar dengan sapaan Bapak Tukang ini mulai menetap di Hamadi Pontong bersama isteri dan ketiga anaknya. Awalnya ia bekerja   serabutan, namun selang beberapa bulan kemudian ia mulai membuat perahu nelayan. Ia ingat betul perahu nelayan pertama yang dibuatnya dihargai  Rp 2,5 juta  kala itu.

  “Untuk ongkos kerja perahu biasanya Rp 6 jutaan hingga Rp 17 juta, tergantung model dan tingkat kesulitan. Dimana dalam pembuatannya, sang pemilik perahulah yang menyiapkan bahan bakunya. Saya sebatas mengerjakan saja,” terangnya.

  Dari catatannya, sebanyak 105 perahu nelayan telah dibuatnya terhitung dari tahun 2009 hingga saat ini dengan berbagai ukuran yang difungsikan untuk mancing ikan cakalang atau ikan tuna di laut Jayapura ataupun PNG.

  “Kalau sendiri buat perahu nelayan, memakan waktu 2 minggu bahkan hingga sebulan. Tergantung dari besar kecilnya perahu yang saya buat dan tidak ada kendala baik dari bahan maupun peralatan,” ungkap ayah 3 anak itu setelah beberapa saat berinteraksi dengan Cenderawasih Pos.

  Namun, dalam pembuatan perahu sendiri. Sebelum diserahkan kepada pemiliknya, Lira terlebih dahulu mencobanya ke lautan bebas. Hal ini untuk mengetahui kekuatan  perahu tersebut seperti apa saat dioperasikan.

  “Saya ini pembuat perahu sekaligus  pengguna perahu, karena di sela-sela kesibukan kita  membuat perahu. Ada waktu yang  kita gunakan untuk melaut, itu salah satu cara saya lakukan untuk menghilangkan stress,” curhatnya sembari tersenyum.

  Tak hanya suka melaut dan jago buat perahu, ayah 3 anak ini juga ternyata suka menulis dan jago buat puisi. Bahkan di sela-sela wawancara, ia berbagi kisah tentang masa mudanya yang suka membuat puisi dan menulis surat untuk kekasihnya yang saat ini telah menjadi isterinya.

Namun, kesukaannya terhadap dunia tulis menulis itu sirna seiring dengan kesibukannya saat ini,     

  “Suatu saat, jika tidak sibuk saya akan menulis lagi,” ungkapnya sembari tersenyum lepas.

Dirinya pun menyebut jika ia mengalami kendala soal pembuatan perahu saat ini, berkaitan dengan lokasi. Untuk itu, ia berharap  pemerintah daerah bisa melihat dan memberikan bantuan terhadap usahanya ini. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *