Melihat Pelayanan Pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura

Kondisi ruang perawatan di RSJ Abepura. Insert : Kepala Bidang Rekap Medik Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura Marjon.H.Rum Skep Ns Mkes. (FOTO : Takim/Cepos)

 Jarang Dikontrol, Pasien yang Dipulangkan Banyak Kambuh Lagi

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) saat ini masih menjadi satu-satu rumah sakit yang menangani pasien kejiwaan di Papua, bahkan juga melayani pasien dari wilayah Papua Barat. Letak atau kondisi geografis Papua, tentu menjadi tantangan sendiri untuk  melayani  pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Lantas sejauh mana jangkauan dan kendala pelayanannya?

Laporan: Mustakim Ali_Jayapura

Keberadaan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura  selama ini tidak hanya sekedar menangani dan merawat pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.  Yang terbayang, mungkin orang-orang gila yang sering berkeliaran di jalanan, yang seharusnya mendapatkan pelayanan di RSJ ini.      

  Namun kenyataannya banyak warga atau pasien yang memiliki keluhan atau gejala yang mengarah ke kejiwaan, seperti depresi dan gejala gangguan jiwa, perlu penanganan khusus di rumah sakit ini. Beberapa warga yang sehat pun butuh pelayanan di RSJ ini, seperti halnya para bakal calon legislatif yang beberapa waktu lalu butuh surat keterangan sehat kejiwaannya dari RSJ untuk kelengkapan berkas pendaftarannya.

  Bahkan,  jika melihat jumlah dari pasien rawat inap dan pasien rawat jalan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura tahun 2017 melayani kurang lebih 6.553 pasien. Jumlah pasien yang tentunya tidak sedikit. Meski melayani masyarakat di dua provinsi, Papua dan Papua Barat, namun pihak RSJ Abepura ini mengaku anggaran tahun 2018 ini turun dibanding tahun lalu, dari sekitar Rp 53 Miliar turun jadi Rp 51 Miliar. Hanya saja, untuk data pelayanan 2018 ini belum bisa didapat dari RSJ ini.

     Kepala Bidang Rekap Medik Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura Marjon.H.Rum Skep Ns Mkes mengakui bahwa, ada beberapa kendala yang dihadapinya dalam memberikan pelayanan kepada pasien, baik yang sedang aktif melakukan pemeriksaan maupun yang sudah dipulangkan ke rumahnya masing-masing.

  Pihaknya mengaku  kewalahan untuk menjangkau tempat asal pasien tersebut dan juga ada pasien yang tinggalnya jauh dan tidak ada akses karena keterbatasn ekonomi untuk melakukan konsultasi dan pengambilan obat, sehingga ada sebagian kambuh atau menjadi gila kembali,

   “Karena jauh dan penyakitnya tidak dikontrol lagi sehingga kambuh kembali,”ujar Marjon ke Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/9).

  Tentu hal ini diakuinya merupakan sebuah persoalan yang harus cepat diselesaikan guna meningkatkan pelayanan dan mengefektifkan pelayanannya kepada masyarakat. Apalagi dengan perkembangan saat ini, dan tekanan ekonomi maupun pergaulan, banyak yang yang memicu terjadi stress atau depresi  yang bisa berujung kepada gangguan kejiwaan. Yang tidak memadang usia, status sosial maupun jenis kelamin.

   Berdasarkan data yang direkap oleh Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura tahun 2017, jumlah pasien didominasi di wilayah Kota Jayapura.   Hal ini dilihat dari daftar pasien yang rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura tahun 2017. Dimana  pasien rawat jalan untuk Kota Jayapura dengan jumlah 3.914 pasien dan posisi kedua diikuti oleh Kabupaten Jayapura dengan jumlah 1.023 dari total keseluruhan 6.007 pasien dari 34 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat.

   Sementara untuk jumlah pasien berdasarkan tingkat pendidikan, tingkat SMA yang paling dominan, yakni  2.754 pasien dan   SMP 994 pasien dan jenis pasien rawat inap yang paling banyak adalah SMA 183 pasien, SMP 134 pasien.

   Gangguan kejiwaan juga tidak memandang umur, baik anak remaja maupun dewasa. Dimana  umur 15-24 tahun yang dominan dengan jumlah 3.174 pasein,  Rawat inap 26-24 umur yang paling dominan dengan jumlah 286, sementara untuk umum 15-24 tahun, sebanyak 153 pasien.

   Dari  dari hasil diagnose terhadap para pasien ini, untuk rawat jalan adalah Skizofrenia Paranoid dengan jumlah 3.669 pasien dan yang paling sedikit adalah jenis Diagnosa Episode Depresif Ringan dengan jumlah 60 pasien.

   Sedangkan untuk rawat inap Kota Jayapura juga jadi jumlah yang paling banyak dengan 228 pasien. Sementara Kabupaten Jayapura yang kedua, 102 pasien dari 546 total pasien secara keseluruhan dari 34 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat.

  Hal ini juga merupakan dampak dari jumlah masyarakat dan juga letak geografis sebagai pusat kota sehingga banyak masyarakat yang tinggal di Kota Jayapura.

   Diagnosa yang paling dominan di pasien rawat inap adalah Skizofrenia Paranoid dengan jumlah 328 dan yang paling sedikit adalah 4 pasien dengan jenis diagnosa Retardasi Mental Ringan dari 546 total pasien secara keseluruhan dari 34 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat.

   Sementara itu, jika melihat jumlah dari pasien rawat inap dan pasien rawat jalan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura tahun 2017 melayani kurang lebih 6.553 pasien. Hal ini dilakukannya juga merupakan sebuah bukti pelayanan dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura tahun 2017. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *