Tiga Kabupaten, Jalur Masuknya Amunusi untuk KKB

Kombes Pol AM Kamal. (FOTO : Elfira/Cepos)

JAYAPURA- Kepolisian Daerah (Polda) Papua mencatat ada tiga kabupaten di Provinsi Papua yakni Kabupaten Mimika, Jayawijaya, dan Nabire yang terindikasi menjadi lokasi masuknya ratusan amunisi untuk Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal, dirinya menyebutkan masuknya amunisi ke ketiga daerah tersebut diduga suplay untuk KKB yang masih menebar teror di kawasan Pegunungan Tengah Papua.

Menurut Kamal, dari catatan Polda Papua. Selama tiga pekan terakhir, terungkap dua kasus penyelundupan amunisi di wikayah hukum Polda Papua. Berawal dari seorang turis asal Polandia berinisial JFK yang ditangkap tim khusus Polda Papua bersama dua orang warga berinisial SM dan NW di sejumlah tempat di Wamena, pada Minggu (26/8).

“Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Kamal yang ditemui di ruangannya, Rabu (13/9)

Dari hasil penggeledahan di rumah salah satu tersangka, timsus Polda Papua menemukan satu unit telepon seluler, sejumlah dokumen tentang Papua merdeka, serta 139 butir amunisi yang terdiri dari 104 butir amunisi kaliber 5.56 millimeter dan 35 butir amunisi kaliber 9 millimeter.

Kasus selanjutnya adalah penangkapan seorang pemuda berinisial RW oleh aparat kepolisian karena menyelundupkan 153 butir amunisi melalui Bandara Moses Kilangin, Kabupaten Mimika, Senin (10/9). Amunisi tersebut hendak dibawa ke Kabupaten Yahukimo.

“Dengan pengungkapan dua kasus ini, kami telah menginstruksikan agar seluruh jajaran, khususnya di tiga kabupaten ini, memperketat pengawasan. Fokusnya di bandar udara dan pelabuhan,” paparnya.

  Menurut Kabid Humas, dari pemeriksaan sementara RW mengaku peluru jenis calibre 5,6 itu diterima dari rekannya yang ada di Kabupaten Mimika. Dimana yang bersangkutan telah berada di Mimika sejak (5/9).

“Pada (5/9), yang bersangkutan dari Yahukimo menuju Mimika dengan menggunakan pesawat. Dan bermalam di salah satu Hotel yang ada di Kabupaten Mimika, dan pada (6/9) bertemu dengan rekannya yang saat itu diajak ke salah satu rumah untuk mengambil peluru tersebut,” terangnya.

Menurut Kamal, RW mendapatkan amunisi tersebut dari rekannya. Hanya saja, sampai saat ini pengakuan dari RW belum bisa dibuktikan lantaran keterangan yang diberikan yang bersangkutan tidak konsisten terhadap apa yang disampaikan.

Kasus ini kata Kamal sedang didalami oleh anggota, mengembangkan barang bukti dan keterangan RW sendiri. Dan menelusuri jaringan daripada KKB yang ada di Kabupaten Yahukimo.

“Apakah ini ada mata rantainya atau tidak sedang kami dalami, termasuk keterkaitan dengan kelompok yang kami amankan sebelumnya. Karena mata rantai KKB sudah ada di Yahukimo,” terangnya.

RW sendiri kata Kamal merupakan seorang pelajar yang telah lulus di tingkat Sekolah Menengah Atas.

Disinggung terkait dengan uang yang ada ditangan RW dengan nilai Rp 110 juta, Kamal mengaku sedang didalami. Apakah uang tersebut dibawa yang bersangkutan dari Yahukimo ke Mimika untuk membeli senjata.

“Informasinya RW juga memberikan uang kepada orang yang ditemuinya di Mimika sebesar Rp 20 juta,” terangnya.

  Terkait dengan perkembangan WNA asal Polandia dengan inisial JFK hingga saat ini belum didampingi kuasa hukum. Kendati demikian, pihaknya telah menyurati ke Kedubes Polandia agar segera mungkina dihadirkan pendamping kepada yang bersangkutan.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Perwakilan Komnas HAM Wilayah Papua Frits Ramandey melalui telfon selulernya meminta aparat keamanan harus memperketat pengawasan di wilayah Jayapura.

Dikatakan, dari data Komnas HAM  modus yang digunakan adalah membawa amunisi melalui kapal laut dari luar Papua melalui Ambon ke Sorong hingga Jayapura. Dimana dari Jayapura, oknum tersebut mengirim peluru melalui pesawat berbadan kecil ke pedalaman yang minim fasilitas pengawasan seperti alat pendeteksi logam.

“Aparat keamanan harus memperketat pengawasan di wilayah Jayapura. Sebab modus kelompok ini adalah membawa amunisi melalui kapal laut dari luar Papua melalui Ambon ke Sorong hingga Jayapura. Dan dari Jayapura mengirim peluru melalui pesawat berbadan kecil,” tandasnya. (fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *