Menyusuri Jalan Trans Jayapura-Wamena yang Dirindukan Masyarakat Pegunungan.

Kepala BBPJN XVIII Wilayah Papua, Osman Marbun yang memantau langsung pengerjaan jalan Jayapura-Wamena (7-8/9). (FOTO: Elfira/Cepos)

Sepanjang 575 Km, Membuka Ketersisolasian di 8 Kabupaten

Meskipun belum diresmikan penggunaannya  karena masih dalam proses pengerjaan, Jalan Trans Jayapura – Wamena sudah mulai ramai digunakan masyarakat dari Jayapura ke Wamena, begitupun sebaliknya. Cenderawsih Pos berkesempatan melintasi jalan sepanjang 575 Km menuju wilayah penggunungan tengah Papua ini. Bagaimana kondisinya?

Laporan- Elfira

Pagi itu, Jumat (7/9). Cuaca di Kota Jayapura, Kabupaten Keerom pada umumnya cerah.  7 wartawan media cetak, elektronik dan online termasuk Cenderawasih Pos ikut serta dalam kunjungan lapangan Kabalai Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XVII beserta rombongan memantau penanganan jalanan dan jembatan pada ruas jalan Jayapura-Wamena 575 Km. Jalan Jayapura-Wamena tersebut sudah tembus, meski baru sebagian kecil yang teraspal.

Pembangunan jalan Jayapura-Wamena sendiri dimulai sejak tahun 1990, dan pernah selesai atau bisa dilewati pada tahun 1998. Ruas jalan ini melewati Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Yalimo dan berakhir di Kabupaten Jayawijaya yang merupakan pusat ekonomi  pegunungan tengah.

  Berbagai perlengkapan, tak terkecuali bahan makanan lengkap sudah naik di bagian belakang mobil starada. Sebanyak 14 mobil disiapkan membawa rombongan termasuk Kabalai dan wartawan melintasi jalan ini. Bekal-bekal tersebut  untuk memastikan ketenangan dan kenyamanan perjalanan, karena harus menempuh perjalanan kurang lebih 22 jam hingga tiba di Kabupaten Jayawijaya. Pejalanan akan menyusuri hutan, perbukitan, dan pegunungan.

Sesekali Kepala BBPJN XVIII Wilayah Papua, Osman Marbun harus turun dari mobil berwarna merah yang ditumpanginya untuk memeriksa pekerjaan jalan yang sedang dikerjakan. Dari 575 Km jalan Jayapura-Wamena, terdapat sebanyak 330 jembatan kayu ataupun semi permanen.

“Seluruh jembatan akan dibuatkan secara permanen, dan itu secara bertahap,” ucap Osman singkat, sembari memantau pengerjaan jalan.

Selepas Senggi Kabupaten Jayapura, sepanjang jalan kita bisa melihat para pekerja dengan gigihnya melakukan pengerjaan jalan. Mobil Bouldezer terus bekerja meratakan tanah,  kegigihan mereka agar pengerjaan jalan cepat terselesaikan dan jalan Trans Jayapura-Wamena bisa dilewati.

Jalan Jayapura-Wamena sendiri progresnya sudah mencapai 60 persen, dimana pengerjaannya untuk 2 paket yakni Mamberamo-Elelim 1dikerjakan PT Dirgana, Mamberamo-Elelim 3 dikerjakan PT Faisal. Sedang Mamberamo-Elelim 2  yang dikerjakan dari Wamena dengan Satker Wamena.

Jalan yang sedang dikerjakan oleh beberapa PT itu ditargetkan selesai pada akhir tahun 2018, selanjutnya akan dilakukan pengaspalan, “Penyedia jasa sedang bekerja secara maksimal, agar jalan ini cepat difungsikan oleh masyarakat,” pintanya.

Dengan terbukanya jalan Jayapura-Wamena, maka akan membuka keterisolasian pada 8 kabupaten, yakni Elelim, Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Ilaga, Lanny Jaya, Kobagma dan Kabupaten Nduga.

“Jalan trans Papua di daerah pegunungan menjadi momen untuk membuka daerah yang tersisolasi selama ini, itulah kenapa anstusias masyarakat untuk menggunakan jalan ini cukup tinggi sekalipun dilarang,” paparnya.

Dengan terbukanya akses jalan Jayapura-Wamena, otomatis ongkos kemahalan harga logistik dan seluruh bahan konstruksi serta kebutuhan masyarakat kata Osman akan menururn harganya. Dengan menurunya kemahalan harga, maka capaian pembangun di wilayah pegunungan lebih cepat.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Yalimo Lakius Peyon mengaku sejak lama dirinya merindukan adanya jalan  darat yang bisa menghubungkan Jayapura-Yalimo. Diakuinya, sejak duduk di bangku kelas 3 SD jalan sudah mulai dikerjakan, bahkan sewaktu SMP dirinya sempat bantu-bantu dalam pengerjaan jalan.

“Saya menjabat sebagai Bupati barulah jalan ini bisa difungsikan oleh masyarakat,” ucapnya singkat, yang ditemui di kediamannya pada Sabtu (8/9).

Sekalipun belum bisa difungsikan, namun dampak dari jalan Trans sangat luar biasa bagi masyarakat yang  ada di Wilayah Paegunungan, terutama bagi masyarakat Kabupaten Yalimo sendiri.

Bahkan, sebagian harga barang di Kabupetan Yalimo mulai turun. Dirinya mencontohkan, harga semen yang biasanya Rp 600 ribu-Rp  700 ribu/saknya, kini turun menjadi Rp 300 ribu-Rp 350 ribu per saknya.

“Dengan adanya jalan trans ini, masyarakat lebih memilih belanja di Kota ketimbang belanja di Yahukimo. Dan jalan ini menjadi hal mendasar untuk masyarakat Papua,” jelasnya.

Jalan Trans Jayapura-Wamena tersebut kata Lakius harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif, bahkan dirinya akan bekerja sama dengan pihak Kepolisian agar dibangunnya Pos-pos Polisi jika jalan trans tersebut sudah difungsikan sesuai dengan kebutuhannya.

Salah satu warga Elelim, Anis Waya berkisah, sebelum adanya jalan trans. Dirinya selalu lewat hutan jika mau ke Jayapura, dan itu memakan waktu hingga sebulan dan harus menahan kedinginan di tengah hutan belantara.

Namun, setelah dengan adanya jalan Jayapura-Wamena. Dirinya hanya bisa berjalan kaki 3 hingga 4 hari, dan jika naik mobil hanya ditempuh selama 1 malam perjalanan.

“Sebelum adanya jalan trans, dari Elelim mau ke Jayapura menempuh waktu hingga 1 bulan perjalanan dengan jalan kaki. Namun saat ini 1 malam pun bisa dengan menggunakan mobil,” jelasnya.

Sedang Tabita warga Distrik Airu, Kampung Anaka Muara Nawa, Kabupaten Jayapura tak dapat menyembunyikan rasa senangnya dengan adanya jalan trans Jayapura-Wamena. Pasalnya, biasanya dari tempat tinggalnya ia harus ke Sentani terlebih dahulu untuk menuju ke Wamena.

Dan sudah pasti, itu menggunakan biaya yang lebih mahal. Dimana dari Distrik Airu dirinya harus ke Arso terlebih dahulu, setelah itu menuju ke Abepura, lalu menuju ke Sentani.

“Dengan adanya jalan trans, saya tidak perlu lagi ke Bandara Sentani untuk naik pesawat. Namun cukum menggunakan jalan trans untuk kembali ke kampung saya di Wamena,” ungkapnya.

Para Operator Bouldezer yang bekerja sejak tahun 2013 ini mengaku taka da yang menganggu mereka dalam mengerjakan tugasnya oleh kelompok seberang, hanya saja mereka selalu datang untuk meminta Bahan Makanan.

“Di sini aman-aman saja, tidak ada gangguan. Cuman yang menghambat pekerjaan itu jika adanya truk atau mobil lajuran yang lewat, ini sangat mengaggu konsentrasi pekerjaan kami. Apalagi jika mobil mereka terbalik,” kesalnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *