Jumlah Penderita HIV-AIDS di Lanny Jaya Capai  570 Orang

Salah seorang siswa SMA saat mengajukan pertanyaan pada sosialisasi dan lokakarya bahanya HIV-AIDS yang dilaksanakan di Kabupaten Lanny Jaya, pekan kemarin. Jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Lanny Jaya hingga saat ini mencapai 570 orang.

WAMENA-Berdasarkan data Pemkab Lanny Jaya dan KPA setempat, jumlah penderita HIV-AIDS di Lanny Jaya mencapai 570 orang, namun  sekitar 400 orang diantaranya disinyalir tidak rutin mengkonsumsi obat ARV agar bisa menghambat pertumbuhan virus dalam tubuhnya.

Sekda Lanny Jaya, Christian Sohilait mengakui, sebanyak 400-an yang merupakan penderita HIV-AIDS yang tersebar di berbagai distrik di Kabupaten Lanny Jaya, tidak rutin melaporkan dirinya dan mengkonsumsi ARV.

“Angka penderita HIV-AIDS di Lanny Jaya hingga saat ini mencapai 570-an orang. Dari jumlah ini yang aktif melapor dan ambil obat hanya 100 orang lebih,”ungkapnya, Rabu (12/9).

Untuk memastikan status atau keberadaan para penderita yang tidak rutin melapor dan mendapatkan obat, Pemkab berencana memanggil kepala-kepala kampung di Lanny Jaya. Sebelum memanggil kepala-kepala kampung, Pemkab dan KPA mulai memisahkan data ODHA antara penderita yang terdeteksi di bawah 2015 dan yang terdeteksi di atas Tahun 2015.

“Kita akan cek data penderita dari tahun 2015 hingga 2018. Kita lihat nama pasien, asal kampung, lalu kita panggil kepala kampung dan tanya apakah penderita masih hidup atau sudah meninggal. Jika masih ada, kita bisa tolong,” kata Sekda.

Menurutnya, dari pertemuan bersama kepala kampung nanti, Pemkab berharap menerima informasi tentang penyebab para penderita itu tidak rajin memeriksakan diri dan membawa obat.

“Kalau karena malu datang atau secara fisik pasien ini tidak bisa berdiri atau dia tidak punya transport dari tempat asalnya ke Tiom, kita bisa ambil langkah, apakah buka pos atau apalah,” jelas Sohilait.

Ia menambahkan, Pemkab Lanny Jaya akan memberikan penguatan kapasitas bagi tenaga dokter dan tenaga medis yang ada karena mereka adalah orang pertama yang selalu menerima pasien sehingga harus memberikan penguatan kepada mereka.

“Ada dua hal yang kita berikan dalam penguatan kapasitas ini, pertama terkait perlindungan diri. Sebab, mereka selalu berhubungan dengan pasien, jarum suntik dan darah sehingga mereka melindungi dirinya,”tambanya.

Ia juga memastikan bagaimana petugas kesehatan harus mengatahui bagaimana caranya mengetahui proses awal mengetahui pengindap HIV.

Tidak serta merta vonis orang itu kena HIV, ada penyakit ikutan yang dimulai dari batuk, ketombean. Ini yang harus diselesaikan dulu, tidak bisa seorang petugas medis langsung memberikan ARV.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *