Komnas HAM Pastikan JFS dan SM Diperlakukan Manusiawi

Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey saat mengunjungi kedua tersangka, baik JFS maupun SM, secara terpisah, Senin (3/9) kemarin. (FOTO: Frits Ramandey For Cepos)

JAYAPURA- Berkaitan dengan kasus dugaan jual-beli amunisi yang melibatkan JFS, seorang berkewarganegaraan Polandia (WNA Polandia), serta pula SM sebagai tersangka lainnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua mengunjungi keduanya di tahanan untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan perlakuan secara manusiawi.

Hal ini disampaikan Kepala kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, yang mendapat petunjuk langsung dari Ketua Komnas HAM. “Saya diperintahkan langsung Ketua Komnas HAM untuk memastikan bahwa, baik SM maupun JFS diperlakukan secara manusiawi. Ini memang sudah menjadi kepentingan Komnas HAM untuk memastikannya,” sebut Frits Ramandey kepada wartawan, Senin (3/9) kemarin.

  Kedua, Komnas memastikan pula bahwa hak-hak dari pada keduanya itu tidak hilang, sekalipun berada dalam status terperiksa. Artinya, paling tidak soal kesehatan, makan, dan mandi, yang mana perlu dipastikan bahwa hak-hak dasar ini terpenuhi. Demikian, berdasarkan pemantauan Komnas HAM atas keduanya, diketahui bahwa mereka diperlakukan secara baik, di mana hak-hak dasar yang dimaksudkan ini sudah terpenuhi.

  Sekedar informasi, keduanya kini ditahan di tempat berbeda, di mana JFS ini ditempatkan di Polda Papua, sementara SM di Polsek KPL. “Saya masuk ke ruang tahanan JFS, di mana dalam ruangan tersebut ia ditemani 3 tahanan lainnya, sehingga total 4 tahanan dalam satu ruangan yang difasilitasi kasur tidur bagi tiap tahanan. Sementara SM, kapasitas ruang tempatnya tinggal itu berisi 3 orang, termasuk pula dirinya,” tambahnya.

  Dalam peninjauan yang Ramandey lakukan sendiri terhadap WNA Polandia, JFS, dapat disimpulkan bahwa secara fisik, yang bersangkutan cukup tegar. Namun secara psikis, kata Ramandey, ia mengalami sedikit persoalan, di mana dalam kondisi tertentu, JFS membentur-benturkan kepalanya ke tembok dengan cukup keras, tanpa alasan apapun. Demikian, JFS dinilainya merasa tertekan.

Sementara dalam komunikasi yang dibangun, JFS dan Ramandey membahas segala sesuatunya, mulai dari kondisi ruang tahanannya hingga keterlibatannya dalam dugaan makar yang ditujukan. “Secara kondisi ruangan, ia sedikit mengeluhkan jumlah tahanan dan menganggap ruangan yang terlalu kecil. Ia juga mengeluhkan kala ada asap rokok dan ia membutuhkan buku untuk membaca,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang diberikan pada Ramandey, JFS menepis anggapan bahwa dirinya merupakan seorang jurnalis. Sebaliknya, dirinya mengaku sebagai seorang turis  yang berwisata ke beberapa wilayah di Papua, dalam hal ini seperti halnya ke Timika, Jayapura, Sorong, dan lainnya. Namun kala disinggung lama keberadaannya di Papua, kata Ramandey, ia tak ingin menjawabnya. Sementara, pihak Imigrasi sendiri mengatakan bahwa JFS ini masuk Papua pada 22 Agustus, di mana terdeteksi masuk melalui Papua Nugini.

Demikian, JFS sendiri menganggap dirinya bukanlah seorang teroris maupun penjahat, sekalipun ia tahu, mengakui, bertemu, dan melakukan komunikasi dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang ia nilai sebagai organisasi ilegal. Yang jelas JFS bilang bahwa ia paham dirinya berada dalam yuridiksi hukum Indonesia sehingga  akan patuh.

“Secara khusus saya menanyakan beberapa hal teknis, seperti halnya pengetahuan dia dalam distribusi amunisi dan senjata. Namun, dia bilang tidak tahu soal amunisi yang dimaksud,” paparnya lagi.

Berkaitan dengan bantuan hukum bagi tersangka, Ramandey mengatakan bahwa JFS ingin keberadaannya itu diketahui kedutaannya, sehingga berangkat dari situ juga mungkin ia bisa mendapatkan bantuan hukum.

Sementara itu, SM, di sisi lain, dipastikan Ramandey berada dalam kondisi kesehatan yang baik, serta makannya yang juga baik. “SM memberikan klarifikasi secara substansi terhadap komunikasinya dengan beberapa pihak, terutama bersama JFS dan satu orang lainnya berinisial F yang diketahui pula berwarganegara asing. SM menjelaskan bagaimana ia bersama-sama dengan JFS di Timika dan difasilitasi untuk bertemu KNPB. Mereka dua ini sudah memiliki komunikasi yang lama, di mana SM ini diperkenalkan F dan JFS,” terangnya.

Pada dasarnya, Komnas HAM mengonfirmasi bahwa, baik SM maupun JFS mengaku akan kooperatif dengan  pihak Kepolisian. Secara khusus JFS meminta seorang penerjemah kala dimintai keterangan lebih lanjut oleh Kepolisian. “Komnas sudah menyampaikan hal ini kepada Polda Papua untuk meminta agar bukan hanya penerjemah yang disediakan, melainkan pula pengacara bagi kedua tersangka tersebut, mengingat itu haknya,” pungkasnya. (gra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *