Mengintip Upaya Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua Menangani Kasus Narkoba di Papua

Para tersangka kasus Narkoba yang diamankan Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua, saat menghadiri acara pemusnahan barang bukti kasus Narkoba di halaman Kantor Diresnarkoba Polda Papua, Jumat (31/8). (FOTO : Gratianus Silas/Cepos)

Kedapatan Edarkan Narkoba, Bisa Ditembak di Tempat

Ancaman peredaran Narkoba, terutama jenis ganja maupun sabu saat ini semakin marak di Kota Papua, khususnya di Kota Jayapura. Kecanduan terhadap narkoba ini juga  makin nyata memicu meningkatnya kasus kriminalitas maupun korban yang mati sia-sia karena Narkoba. Lantas bagaimana upaya Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua, sebagai salah satu instansi yang konsen dalam penanganan kasus Narkoba di Papua?

Laporan: GRATIANUS SILAS, Jayapura

Saat ini, nyaris tiada hari tanpa berita tentang penyalahgunaan Narkoba, maupun pengungkapkan peredaran narkoba baik yang kecil-kecilan maupun yang pengedar atau bandar besar Narkoba. Di Papua, khususnya di Jayapura peredaran ganja di kalangan anak-anak muda maupun remaja  juga bukan barang baru. Bahkan, sejumlah pelajar juga ditenggarai banyak yang sudah coba-coba bahkan pencandu Narkoba jenis ganja.

  Hal ini karena dipicu banyak beredarnya ganja, yang disinyalir banyak diselundupkan lewat jalan tikus di darat maupun jalur laut dari negara tetangga Papua New Guinea (PNG). Tak hanya Kota Jayapura yang menjadi pasar peredaran Narkoba jenis ganja, namun barang haram ini juga sudah mulai banyak diselundupkan ke kabupaten lain di Papua. Terbukti, adanya sejumlah kasus penyelundupan ganja yang hendak dibawa ke luar Kota Jayapura, tiap kali kapal putih sandar di Pelabuhan Jayapura.

  Direktur  Reserse Narkoba Polda Papua, Kombes Pol Ida Bagus Komang mengaku untuk mengantisipasi peredaran ganja ini, pihaknya gencar melakukan pengawasan terutama melalui pintu masuk darat maupun laut. Sebut saja seperti halnya di Keerom, Waris, kemudian Skouw Perbatasan Kota Jayapura, serta pula melalui Pantai Hamadi.

  Berbagai upaya dilakukan secara maksimal untuk menguak kasus demi kasus yang terjadi. Melalui sektor perairan, Polda memiliki KP3 Laut yang didukung pula Polair, yang mana cukup mengungkap banyak kasus penyelundupan yang coba dilakukan, baik penyelundupan lintas perbatasan maupun melalui kapal menumpang.

  Kemudian, melalui udara, Polda Papua   menjalin kerja sama dengan Avsec   di setiap bandara di Papua.  Tiap kali Avsec  mendapat temuan barang-barang terlarang, khususnya Narkoba, komunikasi dilakukan dengan pihak Kepolisian melalui Polsek Kawasan Bandara.

   Sementara itu, pengawasan melalui darat, khususnya di wilayah perbatasan negara, Polda Papua meningkatkan kerja sama dengan unsur TNI melalui Satgas Pamtas yang ditempatkan di perbatasan negara Indonesia, khususnya di Provinsi Papua. Dengan kerja sama yang dijalin ini, maka tiap TNI mendapat temuan percobaan penyelundupan Narkoba, maka mereka tak segan berkomunikasi dengan Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua selaku pemegang kewenangan untuk menindaklanjut pelaku penyelundupan.

  Meskipun sudah maksimal bekerja mengantisipasi penyelundupan yang dilakukan, terutama melalui kerja sama yang dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, tak jarang Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua pun kecolongan dengan banyaknya penyelundup dari negara tetangga yang masuk ke Indonesia, khususnya di Kota Jayapura, Papua.

  “Tak bisa dipungkiri karena memang geografi kita cukup luas dan oknum penyelundup ini mencari-cari celah untuk disusupi. Di sisi lain, jumlah personel Polri yang mengawasi bidang Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua, idealnya itu harusnya 155 personel. Tapi pada kenyataannya, personel saya hanya 50,” sebut Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua, Kombes Pol Ida Bagus Komang, Jumat (31/8).

  Selain terkendala persoalan geografi di Papua yang rentang wilayahnya cukup luas, ditambah para personel yang belum cukup banyak dan mampu mengawasi pintu-pintu masuk-keluar, alat komunikasi pun dinilai masih terbatas, sehingga belum menjangkau para penyelundup.

Namun hal ini, kata Kombes Komang, tidak bisa dijadikan alasan. Demikian, agar kasus-kasus penyelundupan ini terus diungkap, maka masyarakat dinilai sebagai benteng, di mana mereka dianggap sebagai Disresnarkoba di lingkungannya masing-masing.

  Hal inilah yang memang sangat diharapkan terhadap masyarakat di Papua untuk menjadi Polisi, khusus Narkoba. Artinya, setiap ada informasi yang ada di lingkungannya berkaitan dengan Narkoba, maka dapat meneruskan informasi tersebut kepada aparat Polda Papua.

  “Puluhan kasus Narkoba yang berhasil kami ungkap itu informasi awalnya berasal dari masyarakat itu sendiri. Makanya kami sangat tertolong, dan sangat  kami apresiasi peran yang telah diambil masyarakat ini,” tambahnya.

  Sebelum menutup pembicaraannya, Kombes Ida Bagus mengungkapkan bahwa Kapolri Tito Karnavian telah mengeluarkan Surat Perintah yang mana pengedar narkoba, baik masyarakat maupun personel Polri sendiri, yang kedapatan mengedarkan Narkoba, maka bisa diambil tindakan tembak di tempat.

  “Hal ini dipertegas lagi oleh Kapolda Papua, Irjen Pol Martuani Sormin, yang perintahnya itu juga serupa, di mana aparat dapat mengambil tindakan dengan menembak pengedar Narkoba, termasuk Polisi,” pungkasnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *