Gereja Desak Hentikan Kekerasan di Papua

Forum Kerukunan Umat Beragama, yang dipimpin Pdt. Jhon Maury dan Pdt. Lipius Biniluk, saat memberikan jumpa pers terkait penembakan KKSB di Tingginambut, Puncak Jaya, Selasa (21/8) lalu.

Prihatin dengan Penembakan di Puncak Jaya, Pemerintah Diminta Buka Dialog

JAYAPURA,- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua menyarankan agar dilakukannya Doa bersama, Duduk bersama, Dialog, Diskusi dan Damai, yang mana disebut juga dengan 5D. Hal ini sebagai sebuah solusi untuk menciptakan kedamaian Papua, menyusul terjadinya penembakan oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Tingginambut, Puncak Jaya, berapa waktu belakangan.

  Ketua Persekutuan Gereja-Gereja (FPGG) di Papua, Pdt. Jhon Maury, mengatakan, pihaknya mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua segera melaksanakan 5 D tersebut untuk mencegah terjadinya keributan dan penembakan kembali.

  “ Untuk mencapai D yang kelima (Damai, red) maka tidak langsung kita sampaikan ke media massa atau elektronik kemudian akan tercipta kedamaian. Tetapi harusnya kita lakukan 4 D dulu. Kalau kita sudah melaksanakannya, maka hasilnya pasti akan kita capai kata Damai,” jelas Pdt. Maury dalam jumpa pers di Kantor FKUB, APO, Selasa (21/8) lalu.

Oleh sebab itu, dirinya mendesak agar pemerintah tingkat provinsi dan pusat untuk segera memulai 5 D yang dimaksudkan tersebut. “Terlepas dari itu, kami juga mengimbau kelompok yang bersebelahan, kalau ada masalah atau mau membuka isi hati, maka sampaikanlah ke pihak gereja, karena kami bisa menjembatani hal itu pemerintah. Jangan sebaliknya menggunakan cara sendiri, sebab hal itu tidak akan mencapai kedamaian di Tanah Papua,” tambahnya.

  Sementara itu, Ketua FKUB Provinsi Papua, Pdt. Lipius Biniluk, mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dan menyesalkan terjadinya insiden tersebut, padahal pihaknya sudah mengimbau kepada semua pihak untuk tidak melakukan tindak kekerasan.

  “Apa yang sudah terjadi kemarin, kami dari tokoh agama dengan tegas menyesalkan peristiwa itu dan kami harapkan tidak boleh terjadi lagi. Kami juga mengharapkan agar kelompok yang bertikai ini dengan rendah hati kalau bisa duduk bersama untuk bicarakan hal ini,” jelasnya.

Biniluk menjelaskan, pihaknya pernah menyampaikan kepada pemerintah pusat bahwa untuk menyelesaikan masalah di Papua harus dengan cara duduk bersama dan membuka ruang dialog dengan pihak terkait, sehingga dapat menyelesaikan masalah Papua ini secara tuntas.

“Kami mendesak kepada Pemerintah Pusat agar kedepannya harus membuka ruang dialog di mana dalam dialog itu bisa mencapai sebuah kesepakatan atau komitmen bersama untuk menciptakan Papua yang aman dan damai,” tutupnya. (gra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *