Dinas Peternakan Temukan Penyakit Cacing Hati

Petugas Dinas Peternakan Provinsi Papua melalui Bidang Kesehatan Hewan mengambil sample hati   untuk diperiksa pada  pemotongan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha 1439 H/2018 M, Rabu (22/8).

JAYAPURA-Kepala Bidang Kesehatan  Hewan Dinas Peternakan Provinsi Papua, Drs. I Nyoman Polos mengatakan bahwa, pihaknya menurunkan tim pengawas hewan kurban untuk memantau  kondisi kesehatan hewan dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha 1439 H/2018 M di 9 Kabupaten/Kota Provinsi Papua tahun 2018. Pantauan tersebut dilakukan untuk memberi rasa aman,  terkait hewan kurban yang akan dibagikan dan dikonsumsi masyarakat.

   “Kita memiliki tim pengawas hewan kurban yang telah dibentuk yang tersebar di 9 Kabupaten/Kota dengan tugas utama untuk mengecek kondisi kesehatan hewan kurban pasca pemotongan di tiap tempat pemotongan di 9 Kabupaten/Kota  tersebut,”ungkap Nyoman kepada Cenderawasih Pos, Rabu (22/8).

  Adapun 9 Kabupaten/Kota yang dimaksud yakni, Kabupaten Merauke, Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Nabire, Kabupaten Biak, Kabupaten Mimika, Kabupaten Keerom dan Kepulauan Yapen.

   Berdasarkan hasil laporan sementara, Rabu (22/8) kemarin,  tercatat ternak sapi yang dijadikan hewan kurban  sebanyak 2.071 ekor dan kambing sebanyak 354 ekor. Dari hasil pengawasn tersebut, tim pengawasan pemotongan hewan kurban Dinas Peternakan mendapatkan 31 sampel hewan korban yang dikategorikan tidak layak dikonsumsi. Dimana di Kabupaten Jayapura terdapat 20 sampel dan Kota Jayapura terdapat 11 sampel.

   Dimana sampel tersebut diketahui  terdapat cacing di hati, atau penyakit cacing hati. Sample hati tersebut akhirnya dimusnahkan.  “Dari 9 Kabupaten/Kota yang kami pantau terdapat 31 sampel hewan kurban yang mempunyai beberapa masalah, sehingga tidak layak dikonsumsi dan harus dimusnahkan. Sementara utnuk daging yagn lain masih sehat atau layak dikomsumsi” tuturnya.

    Kata Nyoman, data jumlah hewan kurban yang dipaparkan tersebut memang masih  hasil sementara. Dimana, menurut informasi yang didapat oleh Dinas Peternakan bahwa masih ada pemotongan  hewan kurban di beberapa daerah yang akan dilakukan sekitar dua atau tiga hari ke depan.

    Nyoman mengakui, penyakit cacing tersebut merupakan dampak dari pemeliharaan ternak di daerah perairan atau kubangan, sehingga penyakit tersebut yang gampang didapat oleh ternak.  Selain itu juga, salah satu penyebapnya adalah, kurangnya perawatan dalam hal ini pemberian obat cacing dari pemilik terhadap ternak atau peliharanya.  “Selain organ hati, semuanya dagingnya aman dikonsumsi,” lanjutnya.

  Distribusi hewan kurban jelang hari raya Idul Adha 2018 mendapatkan pengawasan ketat dari pemerintah. Hal tersebut sebagai langkah antisipasi beredarnya hewan kualitas rendah saat kurban.  “Pengawasan tersebut terus  dilakukan selama proses pemotongan hewan korban terutama untuk sapi dan kambing,”ujarnya.(kim/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *