Dalam Penyelidikan Polisi, Usai Imunisasi, Murid SD Meninggal

Jenazah Agustina Logo saat disemayamkan di UGD RSUD Wamena setelah dilarikan dari Distrik Kurulu, Selasa, (14/8). Korban meninggal dalam perjalanan saat dilarikan ke RSUD Wamena. (FOTO : Denny/Cepos)

WAMENA– Seorang murid SD Inpres Umpagalo, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya bernama Agustina Logo meninggal dunia dalam perjalan saat dilarikan ke RSUD Wamena, Selasa, (14/8). Saat itu, korban pingsan setelah mendapatkan suntikan imunisasi Campak dan Rubela di sekolahnya, Selasa (14/10) sekitar pukul 10.30 WIT oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Distrik Kurulu.

Dari informasi yang dihimpun Cenderawasih Pos pada  seorang guru yang tidak mau disebutkan namanya menceritakan, sebelumnya muridnya bernama Agustina Logo masih sempat bermain lompat karet dengan teman -temannya dan ia nampak sehat. Pada saat jam istirahat, sekitar pukul 10.30 WIT, petugas kesehatan datang dan melakukan imunisasi tersebut.

Korban Agustina Logo mendapat giliran ke 5 untuk mendapatkan imunisasi. Sekitar pukul 11.00 WIT, korban disuntik dan seketika korban pingsan, para guru dan petugas kesehatan mencoba melarikan korban ke RSUD Wamena, namun korban diduga meninggal dalam perjalanan.

Perwakilan keluarga korban, Agustinus Okamu Kosay mengakui, pihak keluarga sangat kesal karena sosialisasi yang dilakuakan oleh Yayasan Berkat Lestari itu tidak melibatkan tenaga kesehatan, dalam sosialisasi itu diketahui setiap anak harus didampingi oleh orang tua, namun dalam pelaksanaan imunusasi, orang tua tidak hadir.

“Dari Guru SD Inpres Umpagalo menyampaikan jika pemberitahuan untuk imunisasi itu masuknya Senin malam, bagaimana bisa diteruskan ke orang tua jika pemberitahuannya pada malam hari,”ujarnya.

Ia menyatakan, pihak sekolah SD Inpres Umpagalo telah meminta untuk membatalkan imunisasi tersebut karena tidak ada orang tua yang mendampingi anaknya, tapi dari petugas kesehatan mendesak harus dilakukan imunisasi. Terkait dengan itu, keuarga korban mempertanyakan sebenarnya ini ada apa, kenapa  ada pemaksaan dari petugas kesehatan.

“Korban sebenarnya sehat, hanya memang orang tua korban memberitahu jika kondisi korban sedikit agak lemah, sebenarnya hal ini harus ditanyakan oleh petugas kesehatan kepada orang tua, jangan mereka langsung lakukan imunisasi,”bebernya.

Kata Agustinus, mereka melakukan imunisasi tanpa menanyakan riwayat kesehatan dari anak –anak , sehingga terjadi kasus seperti ini. “Sebenarnya petugas kesehatan harus bertanya kepada anak atau orang tua, apakah bisa disuntik atau tidak, kami keluarga mendengar kabar ketika anak kami sudah dilarikan ke RSUD Wamena,”katanya.

Di tempat berbeda, Polres Jayawijaya AKBP Jan Bernard Reba mengakui, pihaknya sudah mendapatkan laporan tersebut dan langsung menurunkan tim yang dipimpin oleh Kabag Ops, AKP. Tahapari, Kasat Narkoba AKP Anwar Khayal ke RSUD Wamena untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban dan kini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Sedangkan Kasat Reskrim AKP Jerry Koagow pergi pengambil sampel obat yang digunakan dalam imunisasi di Kurulu.

“Benar kami ada dapat informasi adanya pelaksanaan imunisasi di SD Umpagalo, ada yang pingsan dan meninggal dunia, kita akan mengambil barang bukti dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,”tegasnya.

Kapolres Jayawijaya menduga apakah ada penanganan medis yang salah, atau obat yang digunakan sudah kedarluwarsa sehingga menyebabkan anak tersebut keracunan, ini tetap kita akan tindak, kalau  dari obat tidak ada efek yang lain bagi anak lain yang disuntik tetap masuk dalam unsur kelalaian.

“Kelalaian itu bisa terjadi karena kondisi profesionalisme yang digunakan kurang tepat, kemungkinan obat yang digunakan tidak maksimal atau kemungkinan kondisi kesehatan dari anak itu tidak fit ketika diberikan imunisasi,”bebernya.

Ia menambahkan, saat ini barang buktinya sudah diambil dan kepolisian akan meminta keterangan dari para guru dan petugas kesehatan yang melakukan imunisasi di sekolah tersebut.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *