Tolikara, Daerah Potensial untuk Kembangkan Olahraga Paralayang

Atlet Paralayang tengah melipat parasut usai mendarat di Karubaga. Masyarakat Tampak antusias menyaksikan fetifal Paralayang. 

KARUBAGA-Paralayang merupakan sebuah cabang olahraga profesional, namun di sisi lain dapat menjelma menjadi olahraga hiburan yang menyenangkan. Terbang dari ketinggian dan mengandalkan angin untuk melihat pemandangan luar biasa dari atas tentunya menjadi sensasi tersendiri bagi para penikmatnya.

Tanpa menggunakan mesin, para pilot paralayang menggunakan kaki mereka untuk lepas landas dan mendarat. Mengandalkan parasut dan angin serta cuaca, meski menyenangkan, olahraga paralayang tentunya juga memliki resiko besar di dalamnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tolikara Eber Waisimon usai penutupan pegelaran Festival Paralayang yang dipadukan dengan Festival Seni Budaya di Kota Karubaga Tolikara Rabu,(9/8) kemarin.

“Menjadi atlet Paralayang bukanlah hal yang mudah, tetapi,dalam  menerbangkan  paralayang, dibutuhkan  keberanian  dan  skill  khusus untuk   mengendalikan   parasut  yang   berfungsi   sebagai   alat   bantu menjelajah,” ujarnya.

Diakuinya perkembangan paralayang sangat bagus di Indonesia sampai sekarang sudah ada anggota lebih dari 1600-an pilot. Selain sebagai olahraga profesional, paralayang juga identik dengan olahraga sensasional atau rekreasional. Namun, menjadi atlet Paralayang tak semudah membalikan telapak tangan karena mereka harus melewati beragam proses. Pemula tak dapat sembarangan menggunakan parasut lalu terbang tanpa melalui beberapa prosedur yang telah ditetapkan.

  Menurutnya paralayang memiliki   potensi   yang   besar   untuk   berkembang   di   Indonesia.   Namun,   hal   ini diperlukan  sarana  yang  tepat  agar  paralayang  dapat  diterima  dengan  baik oleh masyarakat   Indonesia   secara   luas.  Daerah Tolikara merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sangat cocok untuk mengembangkan olah raga dirgantara paralayang ini karena didukung dengan potensi  keindahan topografi daerah Tolikara yang bergunung – gunung dan lembah – lembah yang mengangumkan. Karena itu  kegiatan festival paralayang dipadukan dengan festival seni budaya digelar setiap tahun sejak tahun 2014 apalagi kegiatan festival paralayang dan seni budaya ini sudah masuk didalam kalender nasional.

   Eber waisimon mengatakan kegiatan Festival paralayang dan seni budaya ini tentunya memberikan jawaban yang sangat positif bagi pemerintah Tolikara dan pemerintah Provinsi Papua yang berkaitan dengan persiapan PraPON 2019 dan PON 2020 dimana cabor paralayang dipusatkan di Kabupaten Tolikara.

Kegiatan paralayang yang dimulai sejak 6 Agustus – 8 agustus lalu dimana peserta paralayang diikuti dari seluruh Indonesia.  (Diskominfo Tolikara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *