Selebaran Persyaratan PKKMB Fisip Uncen Bikin Melongo

JAYAPURA – Fisip Uncen membuat sensasi  dalam penyelenggaraan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2018. Sensasi yang mencengangkan adalah beredarnya selebaran persyaratan  untuk mengikuti PKKMB bagi mahasiswa Fakultas Fisip Uncen. Kamis (9/8) kemarin di media social banyak beredar selebaran dari Panitia PKKMB Fisip yang menerakan 22 poin. Menariknya dari 22 poin ini ternyata ada poin-poin yang memberi kesan terkait politik perjuangan Papua Merdeka.

Poin yang dianggap cukup membuat melongo adalah poin ketiga yang meminta mahasiswa baru untuk membuat gelang Papua merdeka, lalu poin keenam Gam-gam Melanesia. Tidak jelas maksudnya apa namun kemungkinan adalah Yel-yel. Lalu  poin keenambelas yang meminta membuatkan papan nama dengan bagian bawah menulis Referendum.

Lainnya adalah persyaratan menggunakan ikat pinggang dari tali raffia, ikat rambut sesuai bulan kelahiran dan untuk laki-laki harus dibotak, menggunakan kaos kaki berwarna orange, dasi kupu-kupu untuk laki-laki maupun perempuan, membawa tas karung, sapu lidi, sapu ijuk  dan serbet berwarna orange. Dari persyaratan ini terlihat seperti pola-pola lama yang berbau plonco meski system plonco sudah dihapus.

Terkait ini Rektor Uncen, DR Ir Apolo Safanpo ST MT menyampaikan bahwa pihaknya sudah meminta Pembantu Dekan III Fisip untuk menganulir apa yang dilakukan BEM Fisip. Poin-poin yang dianggap tidak relevan dengan PKKMB harus ditiadakan. “Contohnya poin nomor 3, 6 dan 16 yang kami anggap tidak relevan, tidak cocok dengan pesan PKKMB,” kata Apolo melalui pesan Whatsapp, kemarin.

Secara gamblang disampaikan Rektor Apolo bahwa dalam rapat koordinasi dan penetapan SOP PKKMB pihak Uncen telah melarang dengan tegas jika melakukan hal-hal di luar SOP dan ini salah satu yang dianggap di luar SOP. “Jika terbukti melanggar maka kami akan beri sanksi tegas dan pihak keamanan akan memproses secara hokum jadi saya sudah meminta untuk beberapa poin tadi direvisi,” tegasnya.

Ditambahkan Ketua Panitia PKKMB, DR Jonatan Wororomi menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan BEM Fisip dan Ketua BEM akan dimintai penjelasannya.

“Sebelum Pra PKKMB semua harus selesai, semua berpatokan pada SOP dan tak boleh menyalahi. Paradigma mahasiswa dalam hal PKKMB ini harus dirubah, tak bisa begini terus. Ketua BEM terpilih juga harus bisa mengendalikan mahasiswanya,” bebernya.

Sementara terkait ini sejumlah komentar warga bermunculan. “Kalau saya menjadi orang tua mahasiswa dan anak saya masuk Fisip Uncen maka saya akan ajukan somasi termasuk hingga ke rector. Ini apa-apaan? Anak-anak mau didik menjadi separatis? Seharusnya sudah ada yang mensomasi Uncen soal ini termasuk anak-anak terpaksa tak kuliah dan dipaksa ikut demo, itu sangat merugikan orang tua yang membayar uang semester,” beber Silas, salah satu orang tua siswa.

Dikatakan ia kadang mendengar dari sang anak jika sering terjadi pemaksaan untuk ikut dalam barisan demo dan ini sangat merugikan karena artinya tidak kuliah penuh sementara pihak Uncen juga minim tindakan kepada para mahasiswa pendemo. “Saya khawatir lulusan Fisip ini nantinya tidak punya nilai, hanya ramai saat kuliah tapi setelah itu mereka akan kebingungan mencari pekerjan karena tidak berkualitas,” cecarnya.

Ia juga menyinggung cara-cara lama yang dianggap sudah ditinggalkan kampus maju lainnya. “Saya kaget kalau masih disuruh membawa sapu lidi, sapu ijuk termasuk rambut dibotak dan dikepang, ini cara dulu sekali dan sudah ditinggalkan karena impact negatifnya lebih nyata ketimbang dampak positif. Tapi Fisip kok masih menerapkan ini? Seperti ketinggalan jaman dan memalukan,” sindir kerasnya. (ade)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *