Tanggani HIV-AIDS,  Harus Masuk Jaringan Internasional


Constant Karma. (FOTO : Gratianus Silas/Cepos)

JAYAPURA- Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Constant Karma, mengatakan bahwa HIV-AIDS merupakan wabah yang mendunia. Wabah yang global sehingga KPA Provinsi Papua tidak bisa menggunakan strateginya sendiri untuk menekan angka penularan HIV-AIDS di Provinsi Papua. Sebaliknya, ia tekankan bahwa KPA Provinsi Papua harus masuk jaringan internasional untuk bersatu dan bekerja mengurangi angka penularan dan kematian akibat HIV-AIDS.

Karma mengaku konferensi memerlukan biaya yang mahal, namun kemudian satu hal yang menimbulkan pertanyaan di benaknya, yakni selain melalui konferensi tingkat internasional, momen mana lagi yang dapat menjadi tempat untuk belajar banyak soal penanganan HIV-AIDS.

“Apakah kemudian kita berpikir bahwa penanganan HIV-AIDS di Provinsi Papua merupakan yang terbaik? Tentu tidak. Kita mesti belajar melalui konferensi-konferensi yang dilakukan untuk melihat pengembangan-pengembangan dalam penanganan HIV-AIDS. Kalau tidak belajar melalui konferensi yang ada, maka kita akan lambat, tertinggal, sehingga kematian pun tidak dapat dihindari,” ungkap Constant Karma kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (4/8) lalu.

Dalam setiap konferensi yang dilakukan merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dan pemangku kepentingan dari seluruh belahan dunia. Jadi, hal-hal yang berkaitan dengan HIV-AIDS dipelajari pada momen itu.

“Di sana kita mendengar penjelasan dari para ahli, penemuan baru yang telah dan tengah dikembangkan, merefleksikan dan menjadikan success story negara lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam rencana penerapannya di daerah kita,” tandasnya.

Dikatakan Karma, contoh kasus yang mana melalui konferensi tingkat internasional lah KPA Provinsi Papua mengetahui bahwa pencegahan penularan HIV dapat dilakukan dengan sirkumsisi.

“Pada 2008 kami ikut konferensi di Meksiko, kemudian tahun 2012  kami juga ikut di Amerika. Dari situ kami belajar bahwa sirkumsisi dapat mencegah penularan HIV. Coba kalau tidak ikut, mana bisa tahu? Dari situ pula kemudian kami diarahkan untuk mempelajari peta-peta global jalannya epidemik, yang mana mengarah pada upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS yang dapat diterapkan di Papua,” pungkasnya. (gra/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *