Didominasi Tema Dampak Modernisasi

JAYAPURA – Panitia Festival Film Papua (FFPP) Ke-II telah menutup pendaftaran pengumpulan film dokumenter Papua. Tercatat ada 19  film dokumenter yang diterima panitia yang nantinya akan dinilai oleh 3 orang dewan juri. Dari 19 film ini juri telah menyisihkan sembilan sehingga yang tersisa hanya 10 film.

   Jumlah 10 film inilah yang akan bertarung pada tahap berikutnya. “Dewan juri telah memberikan penilaian dan memutuskan terdapat 10 film dokumenter yang berlaga untuk mendapatkan juara I, II dan III,” ujar Harun Rumbarar, Ketua Panitia FFP Ke-II pada Jumat (3/8) di Waena.

  Menurut Harun,  semua film yang diterima mempunyai alur cerita dan pesan yang kuat mengenai dampak modernisasi terhadap masyarakat adat Papua. “Namun bagaimanapun  juri  telah memutuskan dan hanya mengambil 10 film yang lolos,” jelasnya.

  Bernard Koten selaku Sekretaris Panitia FFP Ke-II menambahkan jika untuk penilaian yang dilakukan indikatornya meliputi aspek non teknis dan teknis. Ini diakui membutuhkan waktu, sehingga sedikit memakan waktu dan berdampak pada molornya pengumuman ke publik.

  “Kami meminta maaf kepada publik karena terlambat mengumumkan sepuluh besar film dokumenter. Karena ada kendala non teknis yang terjadi,” ujar Koten.

   Adapun judul film dokumenter yang masuk nominasi 10 besar adalah dengan judul Cerita Ema  Mamapolitan ,  Kehidupan Pesisir , Isi Dalam Karung,  Generasi Kayu Lapuk , RPP (Resep Pendidikan Papua) , Dipenjara, Paud Suara Hati Ibu, Tete Guru Kafudji  dan Nit Meke.

  “Untuk malam pengumuman akan ada kejutan,  jadi kami mengajak untuk ikut menyaksikan di Aula Museum Negeri Papua, Ekspo, Waena. FPP Ke-II diselenggarakan oleh Papuan Voices, sebuah komunitas film documenter. Dan FFP Ke-II  terdapat Kelas Media sebagai sarana transformasi pengetahuan kepada public serta ada pameran dari mitra Papuan Voices dan terbuka untuk umum. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *