Mengunjungi Kampung Mosso di Perbatasan RI – PNG (2)

Potret anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Mosso, dalam kondisi sederhana, mereka tetap semangat bersekolah. ( FOTO : Elfira/Cepos)

70 Persen Peserta Didik di SDN Mosso Belum Bisa Membaca Karena Perbedaan Bahasa

Pagi itu, wajah anak-anak Kampung Mosso begitu ceria saat keluar dari rumah mereka masing-masing menuju sekolah, sebagian dari mereka  tanpa alas kaki namun  semangat mereka untuk menuntut ilmu begitu tinggi. Seperti apa proses belajar mengajar mereka? Wartawan Cenderawasih Pos, Elfira mengunjungi kampung ini, akhir  Juli lalu.

————-

Lonceng  sekolah berbunyi ketika jam dinding menunjukan pukul 07.00 Wit Sabtu (28/7), dan sinar matahari pagi perlahan-lahan menembus masuk ke rumah-rumah warga di Kampung Mosso yang dihuni sekitar 200-an jiwa itu. Warga PNG dan warga asli Kampung Mosso, Distrik Muara Tami berbaur rukun di kampung yang berada di dekat tapal batas RI-PNG.

Tak lama setelah lonceng sekolah berbunyi, satu persatu langkah kaki anak-anak keluar dari rumah-rumah yang berdindingkan kayu. Mereka bergegas menuju ke sekolah. Ada yang menggunakan sandal, sepatu bahkan ada juga tanpa alas kaki dengan raut wajah yang ceria.

Seperti Yakoba, anak yang duduk di bangku kelas 1 SD Negeri Mosso, pagi itu keluar dari rumahnya tanpa alas kaki. Pengakuannya, ia sudah sering ke sekolah  dengan keadaan tersebut, lantaran ia belum memiliki sepatu.

Meskipun demikian,  hal tersebut tak menyurutkan niat anak 7 tahun ini untuk menempuh pendidikan. Bagi dirinya, yang terpenting ia bisa belajar lantas bermain bersama teman-teman seusianya.

Sa (saya) Mama belum punya uang untuk  beli sa sepatu,” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anak yang hobi bernyanyi ini.

  Pukul 08.00 Wit, waktu yang dijadwalkan untuk anak-anak menerima mata pelajaran.  Pagi itu, sebenarnya tak ada jadwal bagi anak-anak SDN Mosso yang berjumlah sebanyak 33 orang itu untuk belajar. Hanya karena ada pelajaran tambahan, sehingga Bapak dan Ibu guru meminta  mereka untuk datang ke sekolah.

Sembari menunggu kehadiran Guru di ruang kelas yang berukuran 5 kali 6 meter itu , Cenderawasih Pos berkesempatan berinteraksi langsung dengan peserta didik yang sekitar 80 persen dari mereka berasal dari Papua Nugini.

  Di ruangan bercatkan cream itu, Cenderawasih Pos dan anak-anak bernyanyi bersama hingga mengenalkan angka dan huruf.  Sebagian dari mereka ada yang sudah mengenal huruf dan mahir membaca, namun sebagiannya belum mengenal huruf bahkan belum mahir dalam membaca sekalipun sudah duduk di bangku Kelas VI Sekolah Dasar.

Di ruang berdindingkan tembok itu, sesekali mendengar anak-anak saling  bertegur sapa dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Tok Pisin, atau bahasa PNG.  Itulah bahasa formal yang sering mereka pakai berkomunikasi. Dari pengakuan mereka, bahasa tersebut sudah menjadi bahasa keseharian mereka. Bukan hanya digunakan di rumah, melainkan juga di sekolah.

Dari arah belakang kursi, seorang anak memanggil “Ibu guru, Kai-kai” panggil salah satu anak. Yang artinya Ibu Guru Makan, namun ada juga yang bersuara kecil dengan mengatakan “Ibu Guru Kai-kai Puai” yang artinya makan pinang. Kai-kai adalah bahasa tok Pising, bahasa Papua Nuguni (Papua New Guinea) yang artinya Makan, sedangkan Puai berarti Pinang. Makan pinang sudah menjadi kebiasaan di kalangan orang Melanesia, termasuk orang asli  papua dan orang PNG. Dari Anak-anak hingga orang tua, sudah biasa mengunyah buah Pinang, bersama Sirih dan Kapur.

  Pagi itu, peserta didik yang menimba ilmu di SD-SMP Negeri Mosso. Mereka begitu bersemangat  dengan nyanyian-nyanyian yang dibawakan. Dibalik semangat itu, ada kenyataan lain, dari jumlah 33 peserta didik dari Kelas 1 hingga kelas 6 di sekolah itu, 70 persen diantaranya belum mahir membaca bahkan mengenal huruf.

Kepala Sekola Dasar Stevanus Mandowen, S.Pd menyebutkan belum mahirnya anak-anak didiknya dalam membaca lantaran metode yang diajarkan selama ini sebatas metode ceramah dalam ruangan.

Hal tersebut juga diperparah dengan tak adanya dorongan dari orang tua untuk mengajak anak mereka membaca, ataupun belajar.

“Kalau pulang sekolah, di rumah anak-anak hanya bermain. Bahkan sepulang sekolah, mereka langsung ke jembatan kayu untuk mandi di sungai, dan orang tua kurang memperhatikan mereka,” curhatnya.

Bagaimana orang tua mau memperhatikan anak-anak, sedari pagi buta ibu mereka ke Vanimo untuk berjualan sedang bapak mereka ke hutan. Pulangnya saat malam hari, sehingga tak ada waktu untuk mengajak anak mereka belajar.

Tak hanya itu, bahkan tenaga guru di Sekolah  Dasar  juga kurang. Tercatat ada 9 guru di SD  Mosso, yang terdiri dari 4 guru yang sudah PNS dan 5 guru honorer.

Dari jumlah guru tersebut, Stevanus mengaku tak semuanya aktif. Dimana ada guru yang 1 hari datang mengajar seminggu  tak ada di tempat. SD itu memiliki 4 ruang belajar, 1 Perpustakaan dan 1 ruang guru.

“Bagaimana anak-anak mau pintar dan mahir membaca, kalau gurunya saja seperti ini,” keluhnya, padahal ia sendiri menaruh harap agar anak-anak yang didiknya sejak 8 tahun terakhir itu bisa mahir dalam membaca.

Kata Kepala Sekolah, hanya ada satu Guru Honorer atas nama Yolanda Sarewo yang kerap memberikan mata pelajaran tambahan kepada anak-anak, tujuannya agar anak-anak bisa mahir dalam membaca.

  Wanita 35 tahun itu, mengajar mata pelajaran tambahan 2 kali dalam seminggu kepada anak-anak. Pada jam-jam kosong atau jam-jam terakhir agar tak menganggu proses pembelajaran lainnya.

Kepada Cenderawasih Pos, Ibu 2 anak ini mengaku kadang ia mengalami kendala saat penyampaian materi di ruangan kepada peserta didik. Pasalnya, ada sebagian anak-anak yang belum memahami bahasa Indonesia.

  Baginya, ini salah satu tantangan. Namun ia tetap berusaha mengajarkan kepada peserta didik agar bisa menyerap mata pelajaran yang diajarkan saat itu, cara yang dilakukan meminta bantuan  teman sebangku memberi penjelasan kepada anak yang belum mahir Bahasa Indonesia terkait mata pelajaran saat itu.

  “ Ini tantangan bagi kami yang mengajar di kampung yang jauh dari pusat kota dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini, namun bagaimanapun keinginan terbesar saya anak-anak harus pintas dan mahir dalam membaca,” ungkap wanita yang 2 tahun menjadi Guru Honor di SDN Mosso ini.**

1 thought on “Mengunjungi Kampung Mosso di Perbatasan RI – PNG (2)

  1. Terharu sekali mendengar membaca berita ini, tapi tidak tahu dimana persis tempat ini????? kalau ada yang tahu bisa hubungi saya; hp: 081344414548

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *