Di Vokal Grup, Kontingen Papua Buat Juri Menangis Haru

Penampilan Kontingen Pesparawi Papua dalam kategori lomba vokal grup yang mana diperlombakan di Gedung Mazmur 21, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (1/8) malam lalu. (FOTO : Gratianus Silas/Cepos)

PONTIANAK– Setelah penampilan solo anak dan solo remaja putra, Kontingen Papua kembali berkompotesi dengan kontingen dari 34 provinsi lainnya dalam kategori Vocal Grup dan Paduan Suara Dewasa Campuran. Tak ayal, pada kategori Vokal Grup, Kontingen Papua yang tampil membawakan tiga lagu, diantaranya dua lagu wajib dan satu lagu pilihan, mampu membuat seisi ruangan tempat berlangsungnya lomba terpana. Tak terkecuali juga bagi para juri, sampai-sampai salah seorang juri meneteskan air mata karena menyaksikan sendiri talenta-talenta Papua tampil secara langsung.

“Vokal grup ini runner up waktu di Kaimana. Karena Paniai tidak hadir, makanya mereka ini yang mewakili kami dari Kontingen Papua. Mereka ini baru satu bulan, tapi ternyata mereka bisa membuat juri menangis juga ya,” jelas Ketua Harian LPPD Provinsi Papua, Constan Karma, kepada wartawan, Kamis (2/8) kemarin.

“Entahlah, mungkin juri terharu melihat mereka bernyanyi. Meskipun pada dasarnya, menggugah seseorang dengan suara sampai timbul perasaan emosional itu tak ayal dikarenakan orang tersebut hanyut dengan penampilan kita,” tambahnya lagi.

Menurut Ketua Umum LPPD Provinsi Papua, Elia Loupatty, mengatakan dari dua kategori ini, baik secara emosional maupun dari penonton luar Papua yang menyaksikan, mereka sangat senang. Tak ayal pelatih-pelatih yang bukan dari Kontingen Papua yang menonton pun merasa Kontingen Papua ini lain dari pada yang lain perihal kualitas suara.

Bukan apa, sebab, Elia Loupatty mengikuti sendiri jalannya perlombaan yang tengah beralangsung. Artinya, ia tak hanya menonton penampilan Kontingen Papua saat perform, melainkan menyaksikan pula kontingen-kontingen lain di luar Papua.

Hal ini bertujuan untuk mendapat perbandingan antuasime penonton kala menyaksikan tiap-tiap kontingen yang naik panggung.  “Diam-diam saya dengar para penonton bicara soal penampilan kami. Saya dengar mereka bilang vokal kami sangat kental khas Papua, yang mana tidak hilang meskipun pada tangga nada tinggi, begitu pula pada tangga nada rendah,” ungkap Elia Loupatty.

Artinya, ritme suara diatur sangat baik, sehingga suara pada nyanyian tetap stabil, sekalipun menemui nada tinggi maupun rendah. (gra)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *