Cenderawasih Mati Juga Harus Viral

Ilustrasi

JAYAPURA – Meski Papua kerap disebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati di Indonesia dengan banyaknya potensi alam yang belum tergarap,  namun di balik itu ternyata isu lingkungan di Papua dianggap belum terlalu seksi untuk diangkat. Terlepas dari tambang dan hutan, terkadang isu satwa tidak semenarik dengan yang muncul di wilayah barat.

   “Memang kita akui bahwa isu satwa dilindungi yang ada di Papua kadang tidak semenarik apa yang ada di wilayah barat. Ini yang kadang kami kewalahan untuk terus mengadvokasi meski upaya ini terus kami suarakan,” kata Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda, Kamis (2/8).

   Ia mencontohkan kasus Cenderawasih mati, atau burung Kasuari mati ditembak tidak semenarik gajah atau orang utan yang mati ditembak atau mati akibat pembakaran lahan.

Ini menurutnya menjadi tanggungjawab semua pihak untuk lebih peduli dan meyakinkan jika status dilindungi semuanya sama dan tak harus dibedakan.

  “Tapi kta harus akui itu, seekor Cenderawasih mati tidak bisa membuat heboh dan tidak bisa menjadi isu nasional. Mengapa? padahal sama-sama satwa dilindungi,” katanya.

   Fredy melihat ini karena minim kepedulian dan para pemangku kebijakan juga tak mau ambil pusing karena menganggap sudah ada yang menangani. “Ini yang salah, harusnya itu menjadi bagian dari kita. Tunjukkan kepedulian bahwa jika kondisinya tak mengalami perubahan maka Cenderawasih akan punah,” cecar Fredy.

  Hal ini direspon oleh Kepala BBKSDA, It Timbul Batubara M.Si yang menyampaikan bahwa untuk mengangkat isu satwa dilindungi di Papua, pihaknya merencanakan akan  membuat komunitas-komunitas persatuan dari satwa, misalnya kadal, kasuari, cenderawasih yang kiranya menjadi satu kesatuan.

  “Dari komunitas ini yang akan bersuara kencang untuk bagaimana melahirkan kepedulian sehingga semua pihak ikut merasa memiliki dan bertanggungjawab,” katanya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *