Tokoh Adat Diminta Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kesatuan

Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar didampingi Ketua LMA Papua, Lenis Kogoya bersama-sama dengan pimpinan Forkopimda, saat membuka kegiatan  merajut persatuan, menipis perbedaan untuk membangun Papua damai yang dilaksanakan oleh LMA Papua di Hotel Horex Sentani, Rabu (1/8).( FOTO : Roberth Yewen/Cenderawasih Pos)

SENTANI- Kapolda Papua, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Boy Rafli Amar meminta kepada para tokoh adat untuk bisa mengajak masyarakatnya menjaga persatuan dan kesatuan, walaupun berbeda pilihan politik. “Jadi masyarakat adat harus menjadi penjuru dalam menjaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah wilayah adatnya masing-masing,” katanya kepada wartawan, usai membuka kegiatan merajut persatuan, menipis perbedaan untuk membangun Papua damai yang dilaksanakan oleh LMA Papua di Hotel Horex Sentani, Rabu (1/8).

“Kalau tidak ada peran dari tokoh, maka yang terjadi adalah benturan-benturan antara kelompok masyarakat. Ini yang paling rawan,” tambahnya.

Artinya menurut Boy, kalau sudah terjadi konflik terbuka dan konflik komunal diantara masyarakat karena kehidupan demokrasi, maka yang akan rugi adalah masyarakat yang berkonflik itu sendiri.

“Nah kita tidak ingin masyarakat adat berdiam diri, tetapi masyarakat adat harus menjadi penjuru untuk mewujudkan perdamaian di tengah-tengah masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, jenderal bintang dua ini meminta kepada LMA Papua untuk melihat peluang dengan memajukan aspek kesejahteraan di bidang usaha pertanian, karena lahan yang subur akan membuat masyarakat memiliki peluang yang besar untuk menjadikan mereka sebagai masyarakat agro bisnis yang maju.   “Jadi apakah perkebunan seperti misalnya jagung, pertanian terkait dibidang cetak sawah, penanaman kopi, perkebunan karet, kelapa sawit, dan juga membuka lahan cabai,” jelasnya.

  Dia menyatakan bagaimana masyarakat adat bisa menjadi lembaga yang mendorong penguatan kemampuan masyarakat Papua dalam bertani. Ini yang harus didorong.

Sementara itu, Ketua LMA Papua yang juga merupakan Staf Khusus Presiden RI, Lenis Kogoya mengungkapkan bahwa, dalam kegiatan ini pihaknya akan membahas tentang peradilan adat, penguatan adat, dan musyawarah adat.

Lenis menjelaskan dalam peradilan adat nanti akan dibahas mengenai hak-hak adat dan pelanggaran hak yang ada di Papua yang meliputi hak-hak masyarakat adat yang di ambil misalnya banyak perusahaan yang masuk di Papua, tetapi keterlibatan orang asli Papua kurang di dalamnya. “Jadi dengan adanya peradilan adat, maka semua masalah tanah di Papua bisa diurus, sehingga investor yang akan masuk di Papua bisa masuk tanpa harus takut untuk melakukan usaha di Papua,” jelasnya.

Dia berharap dengan ini, maka akan menipis perbedaan. Di mana tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya, tetapi semua satu di dalam NKRI. “Dari Sabang sampai Merauke kita adalah satu untuk bersama-sama membangun Papua kedepan yang lebih aman, nyaman, dan damai,” ucapnya. (bet).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *