Bahas Papua, Tiga Tokoh Papua Diundang ke Selandia Baru

TOKOH SENIOR: Tiga tokoh senior Papua Nick Messet, Frans Albert Joku dan Michael Menufandu saat berada di di Victoria University of Wellington (VUW), Selandia Baru, Senin (30/7).

JAYAPURA-Tiga orang tokoh Senior dari Papua datang ke Wellington, Selandia Baru untuk berbicara dan berbagi tentang perkembangan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Selandia Baru (PPINZ).

Tiga tokoh yang diundang ke Negeri Kiwi tersebut yaitu Frans Albert Joku, Nick Messet, dan Michael Menufandu. Ketiganya dihadirkan untuk berbagi pemikiran dan pengalaman langsung mereka kepada khalayak di sana tentang bagaimana pengaruh otonomi khususnya  pada bagaimana kondisi Papua saat ini pada forum diskusi yang bertajuk Papua Today atau Papua Hari Ini, di Victoria University of Wellington (VUW), Senin (30/7).

Diskusi ini menarik lebih dari lima puluh orang yang terdiri dari penduduk asli Selandia Baru termasuk mereka yang memiliki latar belakang Pasifik dan Maori dan orang Indonesia.

Hana Aulia, mahasiswa tahun pertama di VUW yang juga ketua panitia lokal mengatakan bahwa acara ini diadakan untuk berbagi perspektif yang berbeda tentang masalah Papua.

“Latar belakangnya adalah bahwa pelajar dan mahasiswa Indonesia di Wellington secara khusus telah melihat bagaimana Papua digambarkan negatif di Selandia Baru oleh beberapa kelompok,” ungkap Hana Aulia dalam release yang diterima Cenderawasih Pos, Selasa (31/7).

  Dikatakan, dikenal hanya sebagai West Papua oleh masyarakat Selandia Baru, dua provinsi di dalamnya yakni Papua dan Papua Barat telah menjadi pusat perhatian dari beberapa kelompok di Selandia Baru beberapa tahun terakhir. Beberapa kelompok tersebut seperti Peace Movement Aotearoa dan asosiasi mahasiswa Maori dan Pasifika Students.

  Mereka menurut Hana, menuduh pemerintah Indonesia dengan sengaja mendiskriminasi dan meninggalkan Papua. Beberapa bahkan percaya bahwa orang Papua masih secara konsisten hidup di bawah kekuasaan militer. “Rekonsiliasi, menurut mereka, tentang sejarah kelam di masa lalu tidak pernah diupayakan oleh pemerintah Indonesia,” tuturnya.

  Lanjut Hana, dipimpin oleh staf akademik dan dosen yang sangat dihormati di kampus VUW, Prof. Roberto ‘Rob’ Rabel, diskusi dimulai dengan pernyataan pengantar bahwa kampus mendukung acara-acara seperti ini.

  Ia percaya bahwa perspektif yang berbeda harus diakomodasi di institusi pendidikan mana pun. Dia mengatakan kepada hadirin bahwa kampus menyambut baik perspektif yang berbeda atas masalah yang sama. Adalah Penting untuk memberi orang informasi yang seimbang khususnya mengenai masalah di Papua.

  Professor Rob kemudian mengundang pembicara yaitu tigga tokoh senior Papua untuk berbagi pemikiran mereka. Ketiga tokoh yaitu Frans Joku, Nick Messet, dan Michael Menufandu

berbicara bergantian masing-masing selama 15 menit.

  Sebagai pembicara pertama, Franz Joku berbicara tentang kebebasan berekspresi di Papua khususnya mengenai apakah wartawan asing dapat aktif di Papua.

  Sebagai mantan juru kampanye internasional untuk Organisasi Papua Merdeka (OPM), Frans Joku mengatakan bahwa dibanding dengan tahun 60-an, wartawan kini memiliki akses yang jauh lebih baik untuk memasuki Papua.

“Tentu saja, karena Indonesia masih negara berkembang, beberapa aturan yang berkenaan dengan keamanan dan pengamanan berlaku. Karena, peraturan itu dibuat juga untuk keamanan jurnalis khususnya mereka jurnalis asing,” jelasnya.

  Dia kemudian terus menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan kebebasan berekspresi di barat, Papua akan terlihat sedikit menakutkan dengan aturannya yang ketat.

“Tapi Anda bisa lebih bijak untuk melihat kemajuan yang terjadi (dalam hal kebebasan berekspresi di Papua). Jurnalis sudah tahu aturan sebagaimana mereka masuk negara lain. Ikuti saja aturannya,” tegasnya.

  Setelah itu, Michael Menufandu melanjutkan dengan pandangannya tentang kemajuan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, Papua besar secara geografi sehingga berkembang membutuhkan lebih banyak waktu dan dukungan yang lebih besar.

  Mantan Wali Kota Jayapura itu menjelaskan bahwa yang dilakukan pemerintah saat ini telah membantu orang Papua dengan menurunkan biaya logistik dan memperbaiki akses antar daerah di Papua, terutama terkait pembentukan Jalan Trans Papua.

  Dia juga berbagi pandangannya bahwa dengan otonomi khusus saat ini, telah dipastikan bahwa hanya orang asli Papua yang dapat memimpin Papua.

“Anda lihat sekarang semua pemimpin dari gubernur menjadi wali kota adalah penduduk asli Papua. Bahkan pemimpin militer kita juga orang Papua,” kata mantan Duta Besar Indonesia di Kolombia itu.

  Sementara Nick Messet kemudian mengalihkan diskusi untuk berbicara tentang semacam kisah kehidupan nyata bagaimana dia memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah Indonesia dan meninggalkan teman-temannya pada ‘masa lalu’.

  Dia meninggalkan Papua pada tahun 60-an ketika dia merasakan kehadiran orang Indonesia di wilayah itu adalah sebuah kesalahan. Dia tidak mengatakan bahwa Papua sekarang sudah berkembang sebagai pulau utama yakni Jawa. Tetapi dengan Papua tetap berada di Indonesia, dia melihat bahwa pembangunan sedang berkembang di sana.

Dalam hal kemajuan pembangunan, mantan Menteri Luar Negeri OPM ini percaya bahwa Papua saat ini adalah apa yang dia dan beberapa teman-temannya mimpikan dan perjuangkan.

“Papua hari ini adalah jawaban atas apa yang kami perjuangkan! Kami bermimpi tentang memiliki pemimpin dari orang-orang kami, dan sekarang ada mereka,” tegas Nick Messet dengan sedikit berteriak tegas.

   Sebagai tuan rumah, Perhimpunan Pelajar Indonesia mengatakan bahwa acara mereka mendapat dukungan dari universitas-universitas di Selandia Baru. PPI  telah melakukan perjalanan ke universitas-universitas besar termasuk Victoria University of Wellington dan University of Auckland untuk bertemu para rektornya.

“Jawabannya menggembirakan bahwa di tengah berbagai kegiatan yang  berbicara tentang Papua dari sisi negatif, Bapak-bapak itu (para rektor) mendorong kami untuk berani berbagi pendapat yang berbeda dengan dengan menyelenggarakan forum serupa,” tambah Hana.

Hana melanjutkan bahwa universitas di Selandia Baru mendukung para mahasiswa dengan memberi mereka akses ke ruangan untuk menyelenggarakan acara dan membantu menghubungi dan mendorong staf akademik untuk memfasilitasi atau memoderasi diskusi.

Kembali tentang diskusi di Wellington, di antara audiens, mereka yang selama ini dianggap memiliki pandangan berbeda pun datang.

   Panitia melihat beberapa tokoh terkemuka Selandia Baru yang mendukung Gerakan Papua Merdeka atau Free West Papua juga datang, yaitu Pala Molisa dan Marie Leadbeater. Pala terkenal karena pandangannya yang konsisten tentang bagaimana Papua mengalami genosida. Sedangkan Marie baru saja menerbitkan sebuah buku berjudul ‘See No Evil’ yang pesan utamanya adalah kekecewaannya pada anggapan bahwa orang-orang Selandia Baru bungkam tentang isu-isu Papua.

   Banyak juga mahasiswa yang datang adalah berlatar belakang Pasifik dan Maori yang dikenal sebagai pendukung utama Free West Papua di VUW.

  Panitia berterima kasih kepada moderator yang berhasil menjaga diskusi berjalan dengan baik khususnya dinamika di dalam selama sesi tanya jawab.

   Salah satu pertanyaan yang ditanyakan adalah bagaimana para pemimpin Papua ini melihat masalah apakah referendum diperlukan untuk Papua. Pertanyaan lainnya adalah mengapa tidak Papua melihat kasus referendum seperti di Bougainville, Papua New Guinea sebagai contoh bahwa referendum untuk penentuan nasib sendiri dimungkinkan bagi Papua.

  Dalam menjawab pertanyaan, semua pemimpin Papua mengucapkan terima kasih kepada Selandia Baru atas perhatiannya. Mereka percaya bahwa ini adalah bentuk perhatian besar dari masyarakat Selandia Baru untuk masa depan orang Papua dan wilayah Papua yang lebih baik.

Namun, mereka melihat bahwa Papua telah menikmati suasana penentuan nasib sendiri (self-determination) dengan otonomi khusus.

Otonomi khusus memang belum sempura, tetapi kita saat ini sudah melihat semua pemimpin daerah ke lokal adalah penduduk asli Papua dan mereka telah menikmati dukungan dan sumber daya finansial dan non-finansial baik dari pemerintah pusat maupun dari daerah mereka sendiri.

“(Dengan otonomi khusus) sekarang tergantung pada orang Papua (apakah mereka ingin maju). Masa depan Papua sudah ada di tangan orang Papua,” kata  Joku menjelaskan.

Prof Rob menutup forum dengan mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang datang jauh-jauh dari Indonesia untuk berbagi cerita tentang perubahan di Papua. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia yang dengan gagah berani menggagas acara tersebut.

“Kita telah melaksanakan dialog yang sangat bagus malam ini. Komentar dan jawaban Anda sangat bagus. Kita telah sama-sama saksikan bahwa pertanyaan Anda telah dijawab dengan penuh semangat dan dengan pemikiran yang tulus,” Prof Rob menutup.

Perhimpunan Pelajar Indonesia mengatakan bahwa jumlah orang yang hadir mungkin tidak banyak. Namun, mengenai keragaman audiens yang mereka lihat.

Tiga Pemimpin Papua tersebut dijadwalkan untuk berbicara tentang hal yang sama di dua kampus lagi yaitu University of Canterbury di Christchurch, Rabu (1/8) hari ini dan Universitas Auckland di Auckland pada hari berikutnya Kamis (2/8). (nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *