Tiga Mantan Tokoh Papua Diabadikan Namanya Menjadi Nama Lanud oleh Mabes TNI AU (Bagian-2)

KSAU Marsekal Yuyu Sutisna saat menandatangani prasasti pergantian nama Lanud Merauke  menjadi Lanud  JA Dimara di  Apron Hanggar Lanud Manuhua Biak, Kamis (26/7).

JA Dimara Pernah Naik Pangkat Luar  Biasa dari Peltu  ke Mayor

Selain Yohanis Kapiyau, Johannes Abraham Dimara juga sebagai nama Lanud di jajaran Mabes TNI AU. Memang sosok ini sudah tidak asing lagi di dengar, ia adalah salah satu Pahlawan Nasional, namun masyarakat tentu mengenalnya hanya sebagai salah satu Pahlawan Nasional asal Papua, tapi belum banyak tahu tentang perjalanan hidupnya?

Laporan: FIKTOR PALEMBANGAN, Biak

TANGGAL 26 Juli 2018, pekan kemarin adalah momentum yang tak terlupakan bagi keluarga Johannes Abraham Dimara, khususnya dan masyarakat Papua pada umumnya. Pahlawan nasional dari Biak Utara, Tanah Papua ini, namanya diabadikan oleh Mabes TNI AU menjadi Lanud Merauke yang berubah nama menjadi Lanud Johannes Abraham Dimara.

                Salah satu putri  Dimara, Iriani Dimara yang hadir sebagai ahli waris dalam peresmian perubahan nama Lanud itu terlihat sangat terharu dan mengaku bangga nama orang tuanya yang telah wafat tahun 2000 lalu, kini diabadikan sebagai salah satu nama Lanud di jajaran TNI AU.

                “Kami keluarga cukup bangga, nama bapak bisa diabadikan menjadi nama Lanud. Mudah-mudahan kegigihan bapak semasa hidupnya menjadi motivasi bagi anak cucunya ke depan,” ujar Iriani Dimara kepada Cenderawasih Pos di sela-sela acara peremian perubahan delapan nama Lanud di Apron Hanggar Lanud Manuhua Biak.

                Johannes Abraham Dimara lahir di Biak Utara (Papua) tanggal  14 April 1916. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang cukup gigih dalam berbagai perjuangan untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuannya. Meski kehidupan saat itu cukup susah, hidup dengan kondisi yang serba kekurangan, namun tak menyurutkan semangat  Dimara tetap berupaya mencapai mimpi-mimpinya.

Mengikuti pendidikan yang saat itu pendidikannya jenjang terendah, yakni sekolah setingkat Sekolah Dasar pada Tahun 1930.  Tak hanya sampai disitu, Ia malanjutkan pendidikan ke Sekolah Pertanian  dan tammat pada tahun 1935. Dia kemudian menjadi guru sekolah Injil di Kecamatan Leksula, Pulau Buru, saat itu di bawah asuhan seorang pendeta asal Belanda.

Dalam perjalanan hidupnya, tepatnya pada Tahun 1946 , ia ikut serta dalam pengibaran bendera Merah Putih di Namlea Pulau Buru. Segudang pengalamanpun didapatkan dalam perjuangan hidupnya yang saat itu memang masih serba susah, tidak seperti kondisi kehidupan saat ini.

                JA Dimara waktu itu terlibat banyak dalam perjuangan pengembalian wilayah Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi, Republik Indonesia. Tak heran jika kegigihannya berjuang saat itu berbuah manis, ketika pada tahun 1950, ia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Ia pun menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan ia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digoel (sekarang Kab. Boven Digoel) hingga akhirnya dibebaskan  Tahun 1960.

Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora di Yogyakarta, ia menjadi contoh sosok orang muda dan bersama Soekarno ikut menyeruhkan Trikora di Yogyakarta. Ia juga turut menyeruhkan seluruh masyarakat di Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

                Pada tahun 1962, diadakan Perjanian New York. Ia menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan Pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan Pemerintah Indonesia. Maka mulai saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari NKRI.

JA Dimara yang masih berpangkat Bintara (hanya berpangkat pembantu Letnan ) mendapat perhatian khusus dari presiden saat itu mengingat jasa-jasanya yang luar biasa dalam sepanjang perjalanan hidupnya. Presiden menaikkan pangkat secara luar biasa dari pembantu letnan menjadi Mayor. Dalam sejarah TNI, barangkali hanya Dimara yang pernah memperoleh kenaikan pangkat luar biasa.

Ketika pawai 17 Agustus di depan Istana (waktu itu belum ada Monas), Dimara mengenakan rantai yang terputus. Bung Karno melihat itu dan terinspirasi membuat patung pembebasan Irian Barat. Maka, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di lokasi hanya berjarak tidak sampai 1,K km dari Istana Negara, tepatnya di Lapangan Banteng.

                Dalam bukunya yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul “Fai Do Ma, Mai Do Fa”,  Lintas Perjuangan Putra Papua JA Dimara (2000),  JA Dimara banyak menceritakan soal kisahnya.  Johannes Abraham Dimara meninggal dunia di Jakarta pada 20 Oktober 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata.

                Atas jasa-jasanya itu, J.A Dimara diangkat menjadi  Pahlawan Nasional dengan SK Presiden, Keppres No. 113/TK 2001 (Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua, Satya Lancana Satya Darma, Stya Lancana Bhakti, Satya Lancana Gerakan Operasi Militer III, Satya Lancana, Perintis Kemerdekaan).

                “Perjuangan mereka cukup gigih dalam menjaga NKRI, mereka layak mendapatkan tempat dan harus dikenang namanya sepanjang masa.  Makanya dijajaran TNI AU kami abadikan nama-nama mereka sebagai nama Lanud sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa mereka terhadap bangsa tercinta ini, , mereka layak mendapatkan tempat itu,”  tandas KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna kepada wartawan.  Lalu seperti apa perjuangan dari pria kelahiran Serui, Silas Papara sehingga namanya juga diabadikan sebagai nama Lanud di Jayarapura?.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *