Bincang-bincang dengan Mama Ali,  Penjual Pisang Goreng di Angkasa

Wamaya Penjual Pisang Goreng Angkasa (Pisang Goreng Kayu) yang lebih terkenal dengan nama Mama Ali sedang asyik mengoreng pisang goreng menggunakan kayu bakar, Rabu (25/7) lalu. (FOTO : Yohana/Cepos)

Masak Cara Tradisional Pakai Kayu Bakar, Mulai Goreng Pelanggan Sudah Antre

Pisang Goreng Angkasa atau Pisang Goreng Kayu karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar merupakan makanan ringan yang cukup diminati masyarakat. Tak heran kalau pembeli pisang goreng olahan dari Mama Ali ini rela antre

Laporan : Yohana-Jayapura

Pisang goreng merupakan salah satu jajanan ringan yang banyak diminati masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa.  Penjual pisang goreng di Jayapura memang cukup banyak, namun tampaknya pisang goreng olahan Mama Ali memiliki daya tarik tersendiri.

Dalam keseharian Mama Ali  mulai jualan di Angkasa Indah Jalan Lembah 1 mulai  jam 13.00 WIT. Wanita umur 68 tahun yang memiliki nama Wemaya ini sudah menekuni usaha jualan pisang goreng sejak tahun 1985 hingga saat ini.

Yang membedakan Pisang Goreng Mama Ali dengan pedagang gorengan lainnya ialah cara mengoreng pisang menggunakan tungku dengan bahan kayu bakar.  Cara tradisional yang digunakannya ternyata mampu menarik pelanggan lokal hingga turis asing.

Harus diakui caranya memilih mengunakan kayu bakar dibandingkan kompor merupakan cara yang unik, dimana perkembangan teknologi saat ini tidak membuat Mama Ali meninggalkan cara tradisional yang ditekuninya turun temurun.

Bisa saja dirinya menggunakan kompor minyak ataupun kompor gas ,akan tetapi tidak dilakukannya, karena ingin menyajikan makanan khas tradisional.

Terlihat sore itu pukul, 16.30 WIT Mama Ali masih sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Begitu diangkat dari pengorengan langsung saja dibeli konsumen. Ada yang beli dengan harga Rp 10 ribu, Rp 20 ribu hingga ratusan ribu untuk sekali beli.  Bahkan terlihat beberapa kendaraan mengantri untuk membeli pisang goreng yang disediakanya.

Rata-rata konsumen yang membeli pisang goreng buatanya kembali lagi untuk menjadi langganan, karena rasa pisang goreng yang dibuatnya memang unik karena selain garing, rasanya juga lebih enak dari pada masak pakai kompoor.

“Saya sudah memulai usaha ini sejak lama dan saya memilih goreng pakai  kayu bakar karena rasa pisangnya lebih enak dari pada pisang yang digoreng di kompor.  Buah pisang yang saya pilih adalah buah yang benar-benar tua,” kata Mama Ali kepada Cenderawasih Pos, Rabu (25/7) kemarin.

Lanjutnya, pisang yang digunakanya juga bergam, ada pisang raja dan pisang kepok, yang penting harus benar-benar tua. Kalau pisanya mudah maka akan mempengaruhi rasa dari pisang goreng itu sendiri.

  Diungkapkan Mama Ali, dulu dirinya berjualan 2 kali se hari, namun saat ini dikarenakan faktor umur Mama. Ali hanya bisa melayani konsumen setiap sore hari saja, karena proses yang panjang yakni dalam menggoreng pisang, ia menggunakan dua kali penggorengan.

“Saya memang dalam membuat pisang goreng harus dua kali goreng, goreng pertama setengah matang dingkat, dan goreng kedua satu kali matang tujuanya agar pisang tidak lengket satu sama lainya dan lebih garing,’’jelasnya.

Dari jualan pisang goreng ini dalam sehari ia bisa mendapatkan menghasilkan Rp 500 ribu- Rp 600 ribu per hari, sesuai dengan banyak gorengan yang dibuatnya. Untuk bahan baku membuah pisang goreng ia peroleh dari Pasar Hamadi, sedangkan kayu bakar setiap bulannya  ia membeli langsung dari pekerja kebun di sekeliling kompleksnya yakni satu kali setor perbulanya 1 kubik dengan harga Rp 1,2 juta rupiah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *