Melihat Pentingnya Pemberian Imunisasi  Campak-Rubella di Papua

Para staf pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Papua saat mengepak vaksin MRP yang siap dikirim ke daerah-daerah di Papua, di Gedung Penyimpanan Vaksin Dinkes Provinsi Papua. (FOTO : Gratianus Silas/Cepos)

Dengan Gencar Kampanye Imunisasi MR di Seluruh Indonesia, Termasuk Papua

Setiap orang yang belum pernah divaksinasi Campak dan Rubella dapat menjadi orang yang berisiko tinggi tertular Campak dan Rubella dan komplikasinya, sampai bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, Kampanye Imunisasi MR  dilakukan di seluruh Indonesia, termasuk di Papua tahun ini.

Laporan: Gratianus Silas Abaa_Jayapura

  Penyakit Campak dan Rubella merupakan penyakit infeksi menular melalui saluran pernafasan yang disebabkan virus Campak dan Rubella. Penyakit  ini sangatlah menular, sehingga anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat Imunisasi Campak dan Rubella, harus mendapatkan imunisasi ini.

   Bahaya dari Campak sendiri ialah menyebabkan komplikasi yang serius, seperti diare, radang paru, radang otak, kebutaan, gizi buruk, dan bahkan kematian. Tidak heran kalau di tahun 2000 silam, lebih dari 12 juta anak di dunia meninggal karena komplikasi penyakit Campak. Hal ini ditambah dengan Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Asmat yang juga diakibatkan oleh penyakit serupa.

   Sementara itu, kalau bicara soal Rubella, biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Namun, apabila penyakit ini sampai menulari ibu hamil pada trisemester pertama, atau di awal kehamilan, maka dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan ini kemudian dikenal dengan Sindroma Rubella Kongenital yang meliputi kelainan pada jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian, dan keterlambatan perkembangan.

   Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, dari tahun 2010 hingga 2015, diperkirakan terdapat 23 ribu lebih kasus Campak dan 30 ribu lebih kasus Rubella di Indonesia. Belum lagi, melalui kegiatan surveilans, setiap tahunnya dilaporkan lebih dari 11 ribu kasus suspek Campak, yang mana dari hasil konfirmasi laboratorium, 12-39 persen diantaranya adalah Campak pasti (lab confirmed).

  Sementara 16-43 persen adalah Rubella pasti. Jumlah kasus ini bahkan diperkirakan masih rendah dibandingkan fakta di lapangan, mengingat masih banyaknya kasus yang tak terlaporkan, terutama pelayanan swasta, serta kelengkapan laporan surveilans yang masih rendah.

   Hingga kini, baik Campak maupun Rubella tidak dapat diobati. Memang ada pengobatan yang diberikan, meskipun hal itu hanya bersifat supportif bagi penderita. Sebaliknya, satu langkah untuk tidak tertular penyakit ini ialah melalui tindakan pencegahan, yang mana melalui Imunisasi dengan vaksin MR. Tindakan ini masih menjadi yang terbaik dalam pencegahan penyakit Campak dan Rubella, yang mana satu vaksin saja mampu mencegah dua penyakit sekaligus.

   Vaksin yang digunakan ini pun telah mendapat rekomendasi dari World Health Organization (WHO) dan izin edar dari Badan POM, yang mana Vaksin MR ini 95 persen efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella. Vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia, dan akan dimulai dengan kegiatan Kampanye Imunisasi MR, Agustus hingga September mendatang.

   Kampanye dan introduksi Imunisasi MR ini sendiri merupakan upaya Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI, yang bertujuan untuk memutus transmisi penularan virus Campak dan Rubella yang ada di masyarakat. Hal ini kemudian didukung Unicef dan WHO sebagai lembaga terkait, serta pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota, Ormas, dan LSM.

   Kampanye Imunisasi Massal Campak dan Rubella diberikan pada anak usia 9 bulan hingga usia kurang dari 15 tahun, serta Wanita Usia Subur (WUS) di seluruh Indonesia, yang mana diberikan di Sekolah, Puskesmas, dan Posyandu, serta pula Fasilitas Kesehatan lainnya pada Agustus hingga September mendatang.

  Dalam penerapannya di Provinsi Papua, Imunisasi massa Campak dan Rubella ditambahkan pula dengan tetes Polio (menjadi Kampanye MRP). Hal ini diakibatkan tengah terjadi KLB Polio di Papua Nugini, sehingga Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan RI mengambil langkah antisipatif dengan meminta Dinas Kesehatan Provinsi Papua memberikan tetes Polio bagi anak dalam Imunisasi Massa MR yang dilakukan.

   Memang terdapat sejumlah potensi masalah dalam kampanye Imunisasi MRP di Papua, diantaranya karena wilayah yang luas, akses dan kondisi geografis yang lebih sulit dengan daerah lain, tenaga kesehatan dan fasilitas rujukan yang belum maksimal, ketersediaan listrik yang belum merata, serta pula belum aktifnya Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di sejumlah daerah dalam tugas penanganan terhadap potensi dampak pasca imunisasi. Namun, Pemerintah Provinsi Papua tetap berupaya agar seluruh vaksin sudah dapat terdistribusi seluruhnya, sehingga Kampanye MRP itu dapat dilakukan sesuai jadwal.

   Sementara itu, Ketua I Dewan Adat Papua, Weynand Watory, menyebutkan bahwa dirinya bersama Masyarakat Adat Papua (MAP) mendukung kegiatan yang dilakukan. Namun, strategi kampanye yang dilakukan itu harus jelas, sehingga output dari kegiatan itupun tepat sasaran.

Bicara kampanye, bicara soal data.

  Artinya, pemerintah pun harus memiliki data yang super akurat terkait dengan masyarakat yang menjadi sasaran imunisasi yang dilakukan. Selain itu, fasilitas untuk melakukan imunisasi MRP pun harus juga jelas. Artinya, hal-hal teknis yang berkaitan dengan imunisasi yang hendak dilakukan itu harus didata secara baik. Kalau pendataan ini sudah dilakukan dengan baik, maka ketika kampanye dilakukan pun akan tepat sasaran, bukan sebaliknya cenderung dijadikan selayaknya sebuah proyek.

  “Kalau belajar dari Asmat, kenapa sampai bisa terjadi KLB kesehatan di sana, salah satunya juga berkaitan dengan Penyakit Campak yang menyerang masyarakat setempat, dipastikan karena kampanye semacam ini belum masuk sampai sana,” jelas Weynand Watory.(*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *