Melihat Pelaksanaan Program Padat Karya Perkotaan 2018 di Kota Jayapura

Priyadi/Cepos
BERSIHKAN TALUD: Empat orang warga yang terlibat dalam kegiatan padat karya perkotaan saat membersihkan talud di lapangan upacara kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (25/7). 

Setahun Dilaksanakan Tiga Kali, Atasi Pengangguran dan Percantik Wajah Kota

Untuk mengatasi pengangguran dan memperindah wajah kota, Pemkot Jayapura kembali mengadakan program Padat Karya Perkotaan Tahun 2018. Bagaimana pelaksanaan program ini ? Berikut laporannya.

Laporan: Priyadi, Jayapura
SEJAK Selasa (24/7) lalu, di sepanjang jalan utama di Kota Jayapura mulai dari batas kota di Waena hingga ke Angkasa, Distrik Muara Tami, terlihat warga yang sedang membersihkan dan mengecat talud, jembatan dan median jalan.

Kelompok warga yang sedang bekerja membersihkan dan mengecat talud serta median jalan ini, merupakan warga yang terlibat dalam program Padat Karya Perkotaan Tahun 2018 yang dilaksanakan Pemkot Jayapura melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Jayapura dalam rangka menyambut HUT RI ke-73.

Masing-masing kelompok yang terlibat dalam program ini terdiri dari 10 orang laki-laki dan perempuan yang merupakan warga Kota Jayapura dan memiliki e-KTP Kota Jayapura.

“Program ini hanya untuk masyarakat yang berdomisili dan memiliki e-KTP Kota Jayapura. Tujuan dari program ini tentunya untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat Kota Jayapura yang menganggur dan setengah pengganggur.

Mereka diberdayakan melalui program padat karya dengan cara membersihkan dan mengecat jembatan, drainase dan talud untuk memperindah dan mempercantik Kota Jayapura,” ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja, Kota Jayapura, Djoni Naa, baru-baru ini.

Program padat karya ini menurutnya dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Tahap pertama dilaksanakan pada Maret lalu dalam rangka menjelang HUT Kota Jayapura. Tahap kedua dilaksanakan bulan ini dalam rangka menyambut HUT RI ke-73. “Tahap ketiga rencananya bulan Desember jelang Natal dan Tahun Baru,” jelasnya.

Dana yang dialokasikan untuk program ini diakuinya tidak kecil. Setiap kelompok yang terlibat dalam kegiatan ini mendapat alokasi dana sebesar Rp 6,5 juta dengan waktu kerja selama 6 hari. “Untuk kegiatan ini ada 70 kelompok yang dilibatkan dan setiap kelompok mendapat alokasi dana sebesar Rp 6,5 juta,” tandasnya.

Terkait adanya sorotan terhadap program ini yang dinilai stangnan dan tidak ada inovasi, Djoni Naa mengatakan pihaknya terbuka dengan masukan dan saran dari masyarakat untuk pelaksanaan program ini ke depan. Namun yang pasti program ini dilaksanakan selain untuk mengatasi masalah pengangguran juga dalam rangka mempercantik wajah kota. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *