Melihat Pengembangan Buah Naga oleh Petani Lokal di Jayawijaya

Ketua kelompok Tani Nuagalo, Alpon Itlay saat memetik Buah Naga di perkebunan miliknya yang berada di belakang rumahnya di Kampung Nuagalo, Distrik Siepkosi, Kabupaten Jayawijaya, Selasa, (24/7).(Denny/ Cepos)

Awalnya Dikira Tanaman Kaktus, Omzet Sekali Panen Rp 8 Juta

Pengembangan Buah Naga oleh kelompok tani Nuagalo di Jayawijaya cukup menjanjikan, pemilik lahan dapat membangun rumah kos-kosan di Kota Sorong dan mampu menyekolahkan 4 anak hingga di bangku kuliah.

Laporan: Denny Tonjauw – Wamena

Dragon Fruit atau yang lebih dikenal di kalalangan masyarakat dengan nama Buah Naga atau yang memiliki nama latin (Hylocereus Undatus), saat ini sangat diminati masyarakat di pasaran, tentunya hal ini membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat khususnya petani yang mengembangkan tanaman yang berbentuk mirip dengan tanaman Kaktus yang biasanya dijumpai di beberapa tempat.

Selain rasanya yang manis dan memiliki banyak kandungan air, Buah Naga juga mengandung berbagai vitamin seperti B1 mencegah demam pada tubuh,  B2 menambah selera makan , B3 menurunkan kolesterol dan vitamin C menambah kehalusan kulit dan mencegah jerawat. Tidak salah ketika Buah Naga paling diincar oleh kaum hawa karena beberapa manfaatnya yang baik untuk tubuh manusia.

Permintaan Buah Naga yang tinggi di pasaran Jayawijaya membawa keuntungan bagi para petani lokal yang ada di Kampung Nuagalo, Distrik Siepkosi, Kabupaten Jayawijaya yang menjadi pusat pengembangan Buah Naga di Jayawijaya, bahkan banyak warga Wamena yang datang ke sana untuk membeli Buah Naga tersebut.

Salah seorang  petani lokal Buah Naga, Alpon Itlay (38) di Kampung Nuagalo mengaku, awalnya ia tidal menyangka bisa berhasil dalam menekuni usaha perkebunan Buah Naga. Tahun 2010, dirinya hanya menanam 6 batang Buah Naga  yang disangkanya merupakan bunga  Kaktus karena ia tidak tahu dengan tanaman jenis ini, namun setelah mendapat pelatihan di beberapa kota besar di Indonesia seperti di Palembang dan Surabaya, barulah ia mulai mengetahui bagaimana melakukan pengembangan Buah Naga ini.

“Setelah saya pulang, saya mulai mencoba dan hasilnya 2 tahun baru bisa menghasilkan, 6 tahun belakangan ini saya sudah menikmati hasilnya dengan memperoleh omzet Rp 8 juta sekali panen per 3 bulan sekali,”ungkapnya saat dijumpai Cenderawasih Pos di perkebunan Buah Naga Nuagalo, Sabtu (21/7) kemarin.

Alpon Itlay  menceritakan, awal mulai ia mendapatkan bibit 6 batang Buah Naga diberikan oleh kakanya yang dibawa dari Surabaya, sempat bingung karena tidak percaya bahwa itu adalah jenis tumbuhan Buah Naga.  Ia mulai menanam enam batang pohon itu dengan cara koker menggunakan ember lalu memindahkan di tanah dengan cara mengali lubang dengan kedalaman 20 Cm.”Saya tidak ada rencana untuk membuka lahan,”tuturnya. Setelah berhasil menanam 6 batang pohon itu, dirinya kemudian membuat bibit dengan cara stek sehingga dalam tahun pertama berhasil menanam 100 pohon Buah Naga.

“Saya bekerja sendiri mulai dengan menggali lubang mencari kayu sebagai penyanggah, saya hanya asal kerja saja karena memang saya tidak mengerti aturan menanam pohon tersebut,”bebernya.

Tetapi dengan bantuan dari pemerintah daerah ia mendapatkan kesempatan ikut pelatihan di Jakarta sehingga banyak mendapatkan ilmu, contoh jarak tanaman harus 3 meter untuk sisi panjang dan lebar hingga 100 pohon itu besar dan mulai berbuah.

Ditambahkan, jika tidak lakukan proses kawin maka semua bunganya gugur dan tidak jadi berbuah karena proses kawin merupakan penentuan awal untuk berbuah sesuai ketentuan. Ia melakukan proses kawin bunga itu setiap hari  mulai  pukul 16.00 WIT hingga dini hari, sehingga dalam satu pohon, bunganya bisa 100 sehingga membutuhkan waktu 1-2 jam untuk lakukan proses kawin pada satu pohon itu.

“Kalau semua pohon berbunga pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, karena pohon yang berbunga di hari itu akan gugur jika tidak dilakukan proses kawin,”jelasnya.

Untuk membantu pohon Buah Naga ini menjadi subur, ia merawat dengan penyiraman pupuk organik dari kotoran kambing. Diakui, yang paling susah adalah mencari tiang penyangga karena tanaman ini bertumbuh menjalar. Setiap kali panen mencapai 100 Kg untuk perkilonya ia pasarkan dengan harga Rp 70.000

Setiap musim ia tidak pernah mendistribusikan untuk jual di pasar karena pengunjung datang sendiri atau pemerintah dan pengusaha langsung borong hingga habis bahkan permintaanya banyak tapi persedianyanya sedikit.

Kabid Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Yudha Lara Monim mengakui, pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya selalu memberikan pendampingan terhadap para petani lokal untuk terus mengembangkan potensi tanaman Buah Naga di Jayawijaya, dimana beberapa petani di bawah ke Provinsi Papua untuk mendapat pelatihan bagi pengembangan Buah Naga.

“Masalah yang dihadapi petani Buah Naga di sini itu kekurangan tenaga kerja yang berniat untuk mengerjakan lahan ini, mungkin karena petani ini tak mau mengeluarkan  biaya untuk mempekerjakan orang lain sehingga mereka yang mengerjakan sendiri,”pungkasnya.(**) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *